
[Keterampilan assassin tingkat tinggi+satu set perlengkapannya]
"Hmm ... kerena aku tak bisa mengaktifkan keterampilan saat System belum selesai masa upgrade-nya. Percuma! Yah, setidaknya perlengkapannya akan membantu."
[Keterampilan segala jenis bela diri tingkat tinggi]
"Belum bisa membantu. Huh, baiklah ... untuk hadiah terakhirnya nanti saja."
Setelah melewati lorong bawah tanah selama beberapa menit. Erick menjumpai sebuah pintu berangkas, lebih mirip pintu bungker bekas perang dunia. Sudah karatan, menunjukkan sudah berumur. Jauh dari usia Erick.
Sebelum membuka pintu itu ... Erick mengenakan masker hitamnya. Tudung jaketnya pun digunakan untuk menutupi warna rambut miliknya yang cukup mencolok. Erick mengenakan pakaian serba hitam.
"Huh ... ayo kita lihat. Apa yang bisa kutemukan. Apa ada barang bagus?" sebelum membukanya, Erick menghela nafas sebentar.
Pemandangan yang Erick lihat setelah membuka pintu tentu saja pemandangan seperti pasar. Namanya saja pasar gelap. Orang bertransaksi barang-barang terlarang.
Tempat itu kumuh, dipenuhi orang-orang aneh yang pastinya bukan baik-baik. Erick mengabaikan mereka, lagipula cuma penjahat-penjahat kelas teri yang sedang menjual barang curian.
"Di mana? Apakah tak ada barang yang bagus?" batin Erick masih melihat-lihat. Dia berkeliling stasiun terbengkalai itu.
Brukk ...
Erick mendadak ditabrak oleh seseorang. Jalannya lunglai, membawa-bawa sebuah botol. Dari bau nafasnya bisa ditebak.
"Cih ... orang mabuk menjijikkan!" Erick mencoba segera pergi. Dia tak mau berurusan dengan pria yang mungkin berhalusinasi itu.
"Hey ... b-beraninya me ... nabrak ...ku!" Pria itu untuk berdiri dan bicara saja tak mampu.
Erick langsung pergi meninggalkannya. Lalu, mencoba mencari-cari barang yang diinginkannya.
"Jika cuma berkeliling dan tak coba bertanya, pasti tak dapat." pikir Erick.
Dia selanjutnya sedikit menepi ke area yang lebih lengang. Menemukan orang yang bisa ditanyai, bukan orang aneh. Apalagi pemabuk.
__ADS_1
Baru sebentar di sana, sudah ada seorang pria tua renta yang berjalan bungkuk menggunakan tongkat.
"Wah, ada anak muda. Aku tebak, kau pasti baru pertama ke tempat ini?" ucap pria tua itu tersenyum, menunjukkan deret gigi kuning penuh karang. Adapun mata kirinya yang memicing sebelah. Pas untuk image dunia bawah.
Erick mengangkat sebelah alisnya. Dia tak membalas sapaan pria tua itu.
"Kau mencari sesuatu? Membutuhkan apa?"
"Apa aku tanya saja pada orang ini? Memang tak bisa memilih-milih orang!?"
"Hmm ... dari pakaianmu ... kau butuh senjata? Ingin merampok, 'kan?" tebak pria tua itu. Erick membalas dengan anggukan pelan.
Senyuman si pria tua seketika luntur. "Oh, sayang sekali, anak muda. Di pasar gelap ini ... susah mendapat senjata-senjata api!?"
"Apa maksudnya? Mana mungkin tak ada senjata-senjata ilegal." ucap Erick.
"Bukan begitu ... maksudnya, susah untuk mendapatkannya dengan harga murah ..." pria tua itu mendekat, lalu berbisik tepat di kuping Erick. "Semuanya dikuasai oleh Heaven Mafia."
"Mereka?" tanya Erick.
"Ya. Dan aku ingin berurusan dengan mereka lebih jauh." balas Erick ketus.
"Hohoho ... dari perkataanmu itu ... kau ke sini untuk mencari senjata dan ingin menyerang mereka?" tebak si pria tua tersenyum. Dengan telak menebak maksud dari Erick.
"Sialan! Kakek-kakek ini instingnya tajam!?" batin Erick sebal.
"Hmm ... kau punya kelompok, anak muda? Ah, apa yang aku tanyakan. Kau datang sendiri! Huh ... anak muda, kau pasti sangat percaya diri dengan kemampuanmu. Atau ... cuma orang nekat?!" pria tua itu terkekeh melihat muka Erick yang cemberut. Kesal karena kakek-kakek di hadapannya selalu menebak dengan benar.
Erick enggan untuk menjawab. Jangan terlalu membeberkan terlalu banyak informasi pada orang yang asing, terlebih jelek di hadapannya itu nampak mencurigakan.
"Baiklah, anak muda. Aku akan mendukungmu. Tolong, terima ini!?" Pria tua itu menggenggamkan paksa suatu barang ke telapak tangan Erick.
Erick mengerutkan kening. Ditatapnya lamat-lamat si kakek, mencoba menebak isi pikirannya. Ah, sial. Keterampilan untuk bisa mendengar atau mengetahui isi pikiran orang lain sedang non aktif, karena System tengah melakukan peningkatan.
__ADS_1
"Kakek-kakek ini sungguh misterius. Apa niatnya padaku?" pikir Erick frustasi.
Erick pun pada akhirnya pasrah menerima pemberiannya, meskipun tak tahu pasal benda yang diberikan. Hanya sebuah emblem atau pin yang memuat suatu simbol. Yaitu sepasang pintu emas yang setengah terbuka.
"Benda itu akan sangat membantumu, anak muda!" Si kakek berkata penuh keyakinan. Untuk kesekian kali, deret gigi kuning nampak ketika si kakek tersenyum.
Erick berdehem tak tertarik. Dia menganggap sebelah mata pin di tangannya. Pin tersebut kemudian dimasukkan ke saku celana.
"Di mana para mafia itu? Aku mencarinya." tanya Erick. Inilah niat awalnya.
"Di dekat tempat pembelian tiket. Mereka selalu di sana. Menjajakan senjata ilegal dan memperdaya penjahat-penjahat kelas teri." beritahu si kakek.
"Terima kasih atas kerja samanya." ucap Erick. Pria tua itu memang pantas mendapatkannya.
"Ya. Aku tunggu berita tentang bubarnya mereka. Atau tidak mereka punya bos baru. Yah, meski sangat mustahil."
Erick langsung pergi ke tempat yang dimaksud.
Rupanya tak sulit untuk mengetahui identitas dari mafia itu. Pin yang diberikan oleh si Kakek ternyata lambang organisasi dari Heaven Mafia.
Erick melihat beberapa orang berpakaian rapi, berjas dan bertopeng putih dengan lambang yang sama terdapat di bagian dahi.
"Jadi, simbol yang terpampang di pun ini merupakan logo mereka? Yah, entah kenapa ... nama dan kegiatan yang mereka lakukan sungguh berkebalikan." batin Erick.
Erick kemudian memanifestasikan peralatan assassin yang didapatnya. Untuk memunculkan barang-barang dari System masih diizinkan, cuma berlaku untuk System level 2.
"Aku tak mau buang-buang uang untuk membeli barang dari musuhku. Yah ... memang perlu kekerasan."
Di tangannya Erick sudah muncul beberapa jarum yang berlapis racun mematikan. Beberapa kali lipat lebih beracun dari semua racun di bumi. Bisa membunuh dalam hitungan detik.
"Ayo, tidurlah kalian ... selanjutnya bos kalian!"
jleb ... jleb ... jleb ...
__ADS_1
Para anggota dari Heaven Mafia langsung tergelak begitu terkena lemparan jarum dari Erick.