System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 66 : Desa pendekar


__ADS_3

"Hmm ... yah, aku memang sudah berpikir untuk memanfaatkan pasar gelap ini. Lalu, apa maksudnya dengan penghuni asli? Punya sebuah keistimewaan, seperti dirimu? Hal mustahil seperti menyembuhkan orang cuma dengan menyentuh?"


Si kakek tersenyum. "Sebelum itu terjun semakin dalam. Perkenalkan, orang tua renta ini namanya adalah Fu."


"Fu?" Keluarganya Ariel juga terkejut.


Erick menoleh pada kedua calon mertuanya. Barang kali mengetahui sesuatu, terlihat dari reaksinya. Namun, mereka cuma menggeleng.


"Bukan apa-apa, Erick. Kami cuma ... yah, agak skeptis dengan nama kakek itu." Keluarganya Ariel menundukkan kepala sebagai gestur untuk permintaan maaf.


"Tak masalah. Memang sedikit aneh, padahal saya orang pribumi asli, lho?!" beritahu pria tua yang ternyata bernama Fu.


"Hahaha ... namanya seperti orang-orang di negara timur." Kakek Fu terkekeh memegangi kepalanya.


"Okay, kakek Fu. Jadi ... di bawah sini ada perkampungan?" tanya Erick.


Kakak Fu mengangguk. "Yap, benar. Namun bukan cuma perkampungan, ada yang lebih menakjubkan dari itu!"


"Hmm ... tak sangka. Sesuatu yang menakjubkan? Itu terlalu ambigu. Kita lewati topik itu! Sementara itu, punya keistimewaan itu maksudnya apa?"


Sebetulnya Erick sudah paham maksud dari perkataan kakek Fu. Bayangkan saja melakukan penyembuhan instan itu terlalu gila dan mustahil.


"Seperti yang baru kulakukan untuk menyembuhkan luka-lukamu. Sudah mengerti, 'kan?" ujar kakek Fu tersenyum.


"Apakah hal-hal semacam itu ada? Siapa kakek Fu sebenarnya?" tanya keluarganya Ariel.


"Seorang orang tua biasa. Lagi pun, hal-hal semacam itu memang sudah ada dari dulu. Orang-orang zaman sekarang saja yang melupakannya dan terlalu sibuk dengan teknologi." terang kakek Fu.


"Harusnya tak perlu heran, sih. Bagaimana caranya menjelaskan tentang System? Itu jauh lebih tak masuk akal!" batin Erick.


"Sebaiknya jangan terlalu banyak bincang-bincang. Ayo kita pergi ke perkampungan itu. Mereka harusnya dengan senang hati untuk membantumu, anak muda."


Kakek Fu berjalan ke arah dapur. Erick dan keluarganya Ariel lantas mengikuti.


Kakek Fu menyibak kardus bekas yang menjadi alas lantai. Ternyata di sebaliknya ada sebuah pintu rahasia. Lagi-lagi seperti bungker maupun brankas. Kakek Fu membukanya, ada sebuah tangga.

__ADS_1


"Kampungnya ada di bawah sini!" beritahu kakek Fu. Dia menatap ibunya Ariel yang menggenggam tangan anak laki-lakinya.


"Perjalanan ke bawah mungkin sulit. Jalannya curam!"


"Saya mengerti, kami akan tetap di sini." balas ibunya Ariel.


" Kalau begitu, saya ikut dengan Erick dan kakek Fu." ucap ayahnya Ariel.


"Ya, sudah diputuskan. Oh, ya ... Nyonya bisa masak makanan di dapur. Kami mungkin kembali saat malam."


Mereka bertiga pun menuruni tangga itu. Terus turun ke bawah, sangat dalam. Bahkan setengah jam belum mencapai dasar.


"Apa masih dalam?" tanya Erick pada kakek Fu yang berada di bawahnya.


"Harusnya setengah jam lagi sampai. Jika kecepatan kita stabil seperti ini!?" terang kakek Fu.


"Sangat dalam, ya?" gumam Erick.


Mereka bertiga terus melanjutkan perjalanan. Semakin dalam di dasar tanah, tapi anehnya mereka tak mengalami kekurangan nafas, atau suhu yang semakin panas. Semuanya masih tetap sama, persis di permukaan. Hal itu membuat Erick jadi merasa aneh.


"Kami berada di kedalaman berapa meter dari atas tanah?" batin Erick yang merasa sudah sangat dalam. Mungkin menyentuh ribuan meter.


45 menit pun berlalu, yah, memang sedikit meleset dari perkiraan. Tapi, mereka tetap sampai di dasar.


Tempatnya seperti gua, banyak terdapat stalaktit dan stalakmit yang memantulkan cahaya dari batuan yang berpendar. Keberadaan batuan cahaya itu semakin marak, memenuhi dinding dan langit-langit gua.


Rasanya seperti di dunia lain, bukan Bumi.


"Sudah sampai, tetap ikuti saya!" Kakek Fu kembali memimpin menyusuri jalan.


Tak butuh waktu lama, terdapat cahaya di ujung gua. Erick dan ayahnya Ariel pun secara mengejutkan merasakan sepoi-sepoi angin yang berhembus.


"Ini di bawah tanah, 'kan?" batin Erick.


"Kalian pasti akan takjub!?" ucap kakek Fu membanggakan diri.

__ADS_1


Memang benar, Erick dan ayahnya Ariel ternganga-nganga. Mereka baru keluar dari gua dan disambut oleh pemandangan alam yang berupa hutan. Sungguh asri, angin berhembus lembut, kicauan burung dan suara-suara hewan lain terdengar dari pepohonan lebat.


Paling hebat adalah sebuah matahari buatan. Erick tahu itu cuma batu bersinar raksasa, mirip yang ada di gua. Namun, cahaya yang dikeluarkan mirip seperti sinar matahari. Makanya tumbuhan bisa tetap hidup. Lalu, dari mana datangnya angin? Yah, tumbuhan adalah penghasil oksigen


Terdapat sebuah perkampungan yang nampak di kejauhan.


"B-b-bagaimana bisa? Jadi, apakah teori Bumi berongga itu benar-benar nyata?" tanya Erick gagap.


"Apa maksudmu itu, anak muda? Leluhur kami membangun desa ini dengan kerja keras, lho! Tak sopan kau berkata begitu!" sebal Kakek Fu.


"Membangunkannya? Dengan cara apa? Tak mungkin dengan tangan kosong. Sampai kapan selesai?" tanya ayahnya Ariel. Iya mengagumi kehidupan bawah tanah itu. Sungguh hal yang luar biasa.


"Huh, tenaga dalam atau energi spiritual. Kemampuan yang hilang ditelan zaman, 'kan? Seluruh penduduk desa adalah seorang pendekar." Kakek Fu tersenyum lebar. "Sudah lama, aku tak kembali ke sini."


"Kakek Fu, berapa umurmu?" Erick tiba-tiba bertanya begitu.


"Aku tak pernah menghitungnya, tapi sepertinya aku sudah hidup saat ... kapan pertama bangsa penjajah datang ke negeri ini?" ucap Kakek Fu enteng.


Wajah Erick dan ayahnya Ariel semakin pucat. Mereka tersenyum kecut.


Erick memijat keningnya. "Sangat luar biasa. Tahun 1600-an, ya ... jadi, kakek Fu telah hidup sebelum masa penjajahan dimulai?"


"Kurasa, tapi siapa peduli? Ayo, kita membuang-buang waktu. Anak muda, kau harus segera menemui kepala desa!?"


Kakek Fu berjalan dengan tergesa-gesa, terpaksa Erick dan ayahnya Ariel meladeni dengan menyamakan kecepatannya. Mereka lantas masuk ke hutan.


"Ini sungguh luar biasa!? Mereka bisa membuat kehidupan di sini. Tenaga dalam atau energi spiritual ... aku harus mempelajarinya itu. Umur bisa sepanjang itu, bahkan bisa menyembuhkan luka dalam sekejap."


Tak perlu berjalan terlalu jauh, mereka sudah sampai di perkampungan. Rumah-rumah di sini tentu saja sederhana, tak tersentuh teknologi apapun. Benar-benar menggambarkan kehidupan zaman dulu.


Rumah-rumah panggung berdiri, di bawahnya banyak ternak milik penduduk. Orang-orang berlalu lalang melaksanakan aktivitas, anak-anak terlihat bermain-main.


"Kepala desa rumahnya paling besar, paling mencolok. Kita akan ke sana!" beritahu Kakek Fu menunjuk di kejauhan sebuah rumah yang berdiri megah.


Sepanjang perjalanan, kakek Fu banyak disapa oleh orang-orang. Tak peduli wanita atau pria, semua orang mencoba bersikap ramah.

__ADS_1


"Siapa kakek-kakek ini sebenernya? Sudah dari awal dia terlalu misterius!" batin Erick.


__ADS_2