
Erick dan rombongan pergi ke kediamannya kepala desa. Katanya kakek Fu, rumahnya paling mencolok, paling besar di antara rumah panggung lainya di desa itu. Hajat Erick tetap sama, yaitu meminta bantuan guna berperang dengan kelompok Heaven Mafia. Penduduk desa pasti bisa mengimbangi para anggota Heaven Mafia yang memiliki keistimewaan. Seperti pengendali pikiran atau semacamnya.
"Kakek Fu, aku ingin mempelajari ilmu bagaimana caranya menggunakan energi spiritual, aku ingin belajar bela diri. Aku baru tau bahwa kalian bisa melakukan hal setingkat ini. Membuat kehidupan di sini, tanpa bergantung pada permukaan." ucap Erick penuh dengan kekaguman. Matanya berbinar-binar melihat keajaiban yang dibuat oleh penduduk desa.
"Hahaha ... aku suka semangatmu, anak muda." Kakek Fu menepuk-nepuk bahunya Erick. Dia tertawa sebentar. Baru mendengar hal lucu.
Andai kata Erick lahir dan tumbuh besar di sana, dia pasti sudah bisa menggunakan energi spiritual. Malah dikatakan berbakat pada generasinya.
Yah, tak ada namanya terlambat untuk menuntut ilmu.
"Huh, sepertinya mustahil, anak muda. Untuk dirimu mungkin butuh berpuluh-puluh tahun. Tapi, serius ... bagi orang permukaan penyesuaian badan terlebih dulu. Harus kuat .... Kalau tidak tubuhmu tak akan kuat menahannya. Terlebih kau harus membentuk wadah penyimpanan energi spiritual terlebih dulu."
Penjelasan dari kakek Fu itu agak membuat Erick cemberut. Semangatnya hilang, tapi dia melupakan sesuatu yang penting.
"System ... ya, dengan System pasti lebih mudah." batin pria berambut cokelat-pirang itu.
Ayahnya Ariel dari tadi cuma menyimak, dia enggan untuk nimbrung. Semua hal yang dialami dan jumpai memutar pemikirannya.
"Apa hal-hal seperti ini memang sudah ada sejak dulu. Lalu, kenapa tiba-tiba tergerus oleh zaman? Pasti ada pemicunya." batin ayahnya Ariel. Dia memang orang yang kritis.
Mereka akhirnya sampai di kediaman kepala desa. Rumahnya memang besar, jauh berkali-kali lipat. Tapi, anehnya suasana lengang. Apa kediaman orang nomor satu di desa sesepi ini? Sungguh tak ada orang yang berlalu-lalang di sekitar.
"Kepala desa, saya membawa tamu yang ingin bertemu dengan Anda." Kakek Fu berseru kencang. Dan tak ada jawaban dari dalam.
Tanpa permisi, pria itu itu nyelonong masuk. Erick dan ayahnya Ariel mengekori di belakang. Kakek Fu mencari-cari di ruangan yang biasanya di tempati oleh sang kepala desa.
"Kepala desa? Heh? Tak ada, bisanya dia bersemedi di ruangan ini sepanjang waktu!?" bingung kakek Fu. "Tak biasanya dia keluyuran."
Tiba-tiba datang seorang pria yang seumuran dengan Erick, dia menggendong bakul dari anyaman bambu yang berisi jamur dan aneka tanaman.
"Ada urusan apa kalian ke sini?" tanya pria itu agak ketus. Ditatap lamat-lamat Erick, kakek Fu, dan ayahnya Ariel.
"Mereka orang permukaan, 'kah?" batin pria itu malas. Melihat gaya pakaian yang digunakan Erick maupun ayahnya Ariel sudah membuatnya sepat mata. "Lalu ... apa-apaan ini?"
"Ah, saya ingin bertemu dengan kepala desa. Di mana dia?" ujar kakek Fu.
"Ada urusan apa?"
"Kami ingin meminta bantuan."
"Bantuan?" pria penggendong bakul itu menaikan sebelah alisnya. "Bantuan seperti apa?"
__ADS_1
"Menumpas orang jahat." potong Erick menyela pembicaraan. "Jadi, di mana kepala desa?"
Pria itu berlalu melewati mereka bertiga, terus mendudukkan diri di mimbar kayu yang biasanya digunakan kepala desa untuk bersemedi.
Pria itu duduk bersila, menyangga kepalanya dengan tangan. "Kepala desa sudah meninggal. Aku yang sekarang menjadi kepala desa. Dan aku tak mau menyanggupi keinginanmu."
Bak petir di siang bolong, bukan bagi Erick dan ayahnya Ariel saja yang terkejut setengah mati, melainkan Kakek Fu juga. Dia yang terlihat paling syok. Fakta itu sulit untuk diterima.
"K-kepala desa meninggal? Bagaimana bisa? Lalu, kenapa kau yang menggantikannya? Di mana Ru?" Kakek Fu berkata dengan panik.
Pria yang mengaku dirinya sebagai kepala desa mengerutkan kening, dia nampak kesal melihat reaksi dari kakek Fu. Ekspresi seolah berkata ... dasar bodoh!
"Oh, si Ru, kah? Hmm ... dia——"
"Apakah meninggal juga?"
"Dasar kakak bodoh! Aku Ru! Kau yang harunya menjadi kepala desa, bukan aku! Seenaknya minggat ke permukaan." teriak pria itu, terdengar sangat geram. Menerbangkan ludah ke kepala kakek Fu.
Kakek Fu tak bergeming, dia masih berusaha mencerna perkataan dari kepala desa.
"Yah, sudah kuduga. Kakek Fu pasti orang penting?" batin Erick.
"Kau Ru? Benar-benar Ru, adikku?"
"Aku tak menyangka kau sudah sebesar ini? Seingatku kau masih bocah?" ucap lega kakek Fu.
"Itu 50 tahun lalu. Dan tolong, jangan tanya pasal umur. Aku sedikit sensitif!" Ru berhasil menyela Erick yang ingin melayangkan pertanyaan.
Kemudian, terjadilah reuni dari sepasang kakak-adik. Erick dan ayahnya Ariel menyimak saja. Lagian, mereka tak ingin mengganggu keharuan dari kakek Fu dan kekesalan dari Ru. Sepasang saudara yang tidak akur.
"Aku menolaknya. Lagian apa untungnya bagi kami. Harus ada imbalan yang setara." Ru berkata dengan angkuh.
"Kami tak butuh uang. Di sini ... kertas dan logam itu tak berguna.'"
Ru selalu menyela Erick yang hendak bicara. Yah, memang bisa ditebak sih. Apa yang ingin hendak dikatakannya.
"Jadi, apa yang Anda inginkan?" Erick berusaha bersikap sesopan mungkin setelah mengetahui identitas dari Ru.
Ru pun berpegang dagu untuk berpikir, dia juga memejamkan matanya. Belasan menit si kepala desa berpikir.
"Kakek Fu, apa dia malah tertidur?" tanya Erick.
__ADS_1
"Mungkin saja." jawab kakek Fu mengangkat bahunya.
"Hoh! Baiklah, ada satu hal yang bisa kau lakukan, anak muda!" Ru membuka matanya dan tersenyum licik ke arah Erick.
Pria itu langsung merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan.
Mereka selanjutnya berakhir di halaman belakang kediaman kepala desa. Berdiri di tanah lapang dengan rumput hijau yang tumbuh segar. Di sana juga ada kandang babi.
"Kita bertarung! Jika kau bisa menyentuhku walau sehelai rambut saja. Maka aku akan menuruti hajatmu!" ucap Ru.
Erick sontak menelan ludahnya. "Melawannya? Yah, tidak, tidak. Kemampuannya pasti sangat hebat. Terlebih sangat percaya diri dengan perkataannya. Apa bisa menyentuhnya walau cuma sehelai rambut?" ragu Erick dalam hati.
"Apa kau takut, anak muda?" ejek Ru yang menyeringai.
"Tidak."
"Susah diputuskan. Jadi, cepat serang aku dengan segenap kemampuanmu."
"Eh? Langsung dimulai?!"
Erick langsung menerjang Ru yang jaraknya hanya terpaut belasan meter. Pengalaman dan keahlian masing-masing sungguh terlihat jelas. Semua serangan yang dilancarkan Erick tak ada yang berhasil, Ru dengan santai selalu bisa menghindar. Dalam pandangannya, Erick hanya sebatas anak-anak.
"Cih ... apa-apaan ini?" Erick terus berusaha dan Ru selalu mempecundanginya.
Tak peduli Erick yang mencoba cara licik, Ru tetap tak tersentuh.
"Susah." Erick terlihat ngos-ngosan, wajahnya dibanjiri keringat.
"Menyerahlah ....!"
"Huh, baiklah. Saya menyerah!" Erick mendadak mengangkat kedua tangannya. Semua orang lantas terkejut, termasuk Ru sendiri.
"Kau menyerah semudah itu! Dangkal sekali tekadmu!" cibir Ru yang tak habis pikir dengan keputusannya Erick.
"Bantuan Anda sebetulnya bukanlah prioritas. Hanya sebatas opsi! Anda membantu saya atau tidak ... saya tetap bisa menang. Kita kembali ... di sini cuma buang-buang waktu."
Erick balik kanan, mengajak serta ayahnya Ariel. Kakek Fu mungkin ingin berlama-lama di sini.
"Huh, baiklah. Adik, aku pamit kembali ke permukaan. Ingin melihat apa yang akan dilakukan anak muda itu di masa mendatang."
Ujung-ujungnya, Ru memutuskan untuk membantu Erick tanpa melakukan perjanjian sebelumnya. Ru tipe orang yang tak mau diremehkan. Dia tak terima bahwa Erick masih memiliki kartu as lain sampai menganggap bantuan Ru hanya sebagai opsi tambahan. Tentu saja itu System-nya yang masih upgrade.
__ADS_1
"Kita akan menghabisi mereka dalam sekejap, bahkan sebelum kau berkedip untuk kali ke sepuluh!" Ru berkata dengan percaya diri.