System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 53 : Pengalihan target


__ADS_3

"Erick, tak seharusnya kau melakukan itu? Kau bisa terseret dalam masalahku!" ucap risau Karamel sedari tadi.


Dalam mobil milik Fian, Karamel terus-terusan merengek untuk diturunkan.


"Aku tak mau melibatkan siapapun." teriak lirih Karamel. Fian seketika mengerem mendadak.


"Erick?" ucap Fian ragu-ragu.


Karamel langsung hendak membuka pintu mobil, tapi tangannya ditahan oleh Erick.


"Kau dan keluargamu bisa dalam bahaya? Aku tak mau melibatkan kalian!?" Wanita itu menumpahkan air matanya. Sorotnya sarat akan ketakutan. Karamel menyimpan sebuah trauma. "Lepas, Erick! Kita tak kenal dekat! Kau tak perlu sebegitunya padaku!"


Erick melepaskan genggaman tangannya. Tanpa disuruh pun Karamel langsung keluar.


"Jika kau selalu menolak bantuan seseorang ... lalu, siapa yang bakal menolongmu? Kau mau hidupmu terus-terusan begitu?" ucap Erick panjang lebar. Ucapannya pasti tepat mengenai hati Karamel.


Berkat ucapan Erick, Karamel terhenti sesaat.


"Kau tak mengenalku?" tanya Erick, dia mulai mengacak-acak rambutnya, mengembalikan gaya rambutnya yang dulu. Ketika masih sebagai Fandi.


Karamel berbalik, ditatapnya Erick sesaat. Mata wanita itu melebar, terus berkaca-kaca, air tak kuasa turun lagi membasuh pipinya.


"Padahal kita pernah begini juga. Main kejar-kejaran dengan Reka. Mbak Mel lupa?"


"M-mas Fandi?"


"Yap, benar." ucap Erick tersenyum lembut. Dia langsung disambar oleh Karamel yang tak mampu menahan emosinya.


"Mas Fandi!?" lirih wanita berambut cokelat itu, menggenangi pakaian Erick dengan air mata. Karamel merasa sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan Erick.


Pertemuan mereka sebelumnya memang singkat, tapi Karamel percaya bahwa Erick memang orang baik. Dia bahkan sudah sangat berharap bahwa Erick lah yang akan menjadi malaikat penolongnya.


Akan tetapi, trauma di masa lalu menahan Karamel untuk berucap "Tolong". Dia tak ingin apa yang dialami sahabatnya, juga dialami oleh Erick. Penderitaan dan berujung dengan mengakhiri hidup. Sahabatnya itu tak kuasa menahan tekanan dari keluarga Reka.


Lalu, sekarang ... Malaikat penolongnya hadir lagi. Tapi, dengan rupa yang sedikit berlainan.


"M-mas Fandi."


"Ya. Tak perlu bersedih. Saya pasti akan membantumu." Erick dengan lembut membelai pucuk kepala wanita itu.


Fian yang melihat pemandangan mengharu biru itu cuma bisa garuk-garuk kepala. Ada segudang pertanyaan yang sudah terendap di kepalanya. Ingin segera dikeluarkan, tapi jika begitu ... Dia malah merusak suasana yang tercipta.


"Fandi? Fandi siapa? Eh? Kasus yang pernah viral beberapa bulan yang lalu?" batin Fian.


Perjalanan dilanjutkan kembali, tujuannya adalah rumah Karamel. Erick menyarankan agar dia pindah dari sana. Reka pasti akan menerornya terus-terusan jika masih tinggal di rumah tersebut.


Lagipula, masalah utama yang membuat rumit adalah keberadaan dari ibunya Karamel. Sosok itu satu-satunya yang bisa membuat Karamel patuh terhadap kehendak Reka.

__ADS_1


"Kamu harus pindah dari sini! Cari tempat tinggal baru ... atau kamu bisa tinggal di rumahku. Kamu mau?" tawar Erick.


Karamel sedikit tertegun. "Mas Fan——maksudku Erick. A-aku masih takut. Bagaimana dengan keadaan ibu?"


"Kita akan membebaskan ibumu. Kamu tenang saja!" Erick menenangkan Karamel yang masih was-was.


"E-erick?"


"Apa lagi? Kamu tenanglah! Aku bukan orang bodoh! Jika aku membantumu ... berarti aku yakin bisa berhasil. Masa bodoh dengan uang dan kekuasaan dari keluarga Reka." Erick meraih tangan Karamel, mengambil tas sandang yang berisi pakaian.


"Ayo!" ajak Erick.


"Umm ... Erick, kita punya tamu?" ucap Fian yang menjaga mobil, terdengar cukup risau.


"Ah, dasar! Sudah ke sini saja." batin Erick.


Erick tak gentar sekalipun, dia menggenggam tangan Karamel kuat.


"Aku salah memperkirakan. Andai saja System belum maintenance ... urusan ini pasti mudah. Huh, tapi tak ada gunanya mengeluh. Ayo coba sampai mana aku bisa mengatasi masalah ini dengan kekuatan sendiri."


Erick membisikkan sesuatu pada pada Karamel. "Sedikit berakting ... ini akan memberikan ibumu, nafas lebih lama?! Atau bahkan membebaskan ibumu."


Erick dan Karamel keluar secara sukarela. Tepat dugaannya. Sudah berjejer mobil hitam dan belasan bodyguard mengepung kediaman sederhana milik Karamel.


"Karamel, kau tau apa yang telah kau perbuat? Nasib ibumu berasa di tanganmu sendiri!" ujar Reka yang muncul dengan luka lebam di area dekat mulut. Wajahnya kini ketus dan kesal.


"Kalau begitu, kemarilah Karamel. Lupakan semua kejadian hari ini! Tinggalkan pria bodoh itu! Kau harus tau, aku yang memegang nasib ibumu." Reka tersenyum bengis, merasa sudah menang.


Karamel hendak menyanggupi perintah Reka, tapi eriyck tak ingin ini berjalan mulus.


Erick menahan Karamel untuk melangkah ke depan.


"Tak secepat itu ... kau pikir kau sudah menang, Reka?" Erick tersenyum meremehkan.


"Tapi Erick, ibuku ... aku tak bisa ikut denganmu!?" Karamel berusaha melepaskan diri dari Erick.


Fian yang melihat drama itu hanya bisa sebatas gigit jari. Dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Heh! Sudah jelas siapa pemenangnya di sini! Rebut wanita itu!" titah Reka pada para bodyguard-nya.


"Berhenti anak manja! Atau kubunuh wanita yang kau gilai ini?!" ancam erick.


Fian, bahkan Karamel sendiri terkejut terhadap pernyataan Erick barusan.


"Apa yang direncanakan Erick?" Fian gregetan melihat sandiwara yang Erick ciptakan.


"Percaya saja pada Erick!" Karamel menguatkan tekad.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan?" Reka nampak murka.


"Budeg, kah? Aku ulangi sekali lagi ... sejengkal saja kau memerintahkan bodyguard-mu mendekat ... wanita ini akan binasa!" Erick merengkuh leher Karamel dengan lengan. Wanita itu pun mengikuti alur permainannya. Karamel pura-pura sesak nafas.


"E-erick, l-lepas?!"


"Dia punya bakat akting!" Kagum erick dalam hati.


"jika kau membunuhnya ... kau juga tak bisa memilikinya. Itu yang kau mau?"


Erick mendadak tertawa keras. Ah, perannya malah seperti antagonis.


"Tak bisa memilikinya? Bercanda? Aku malahan sudah memilikinya, bodoh!"


Cup ...


Erick menyatukan bibirnya dengan milik karamel. Wanita itu terkejut pada awalnya, tapi dia langsung bisa mengikuti alur. Mereka berdua menautkan kedua lidah, saling mengisi mulut dengan ludah lawan masing-masing. Itu ciuman yang menggairahkan.


Fian pun ***** duluan.


"A-apa yang kau lakukan, bajin9an? Berani-beraninya?!" Muka Reka merah padam. Dia benar-benar tertelan amarah, sampai tak bisa berpikir jernih.


"Berani? Tentu saja berani? Aku pernah melakukan hal lebih dari ini! Kau masih menginginkan barang bekas ini?" Erick terkekeh, menikmati segala ekspresi yang ditampilkan reka.


"Aku jamin hidupmu tak akan bisa bahagia. Kau selamanya akan merasakan hidup di neraka!" erang Reka mengancam.


Dia melirik sekilas karamel yang jelas-jelas mukanya memerah akibat malu setelah berciuman dengan Erick.


Reka pastinya sangat kesal.


Reka menarik kembali pasukannya.


"Bukan hanya kau yang bakal menerima getahnya. Tapi, semua orang yang berhubungan denganmu. Bersiaplah ... kau tak akan pernah bisa lolos. Meski kabur ke ujung dunia." ucap Reka tanpa menoleh ke belakang.


"Ya. Aku sangat menantikan pembalasanmu!" balas Erick enteng, tak ciut pada ancaman reka.


"Kau juga Fian ... hidupmu dan keluargamu. Kalian pasti akan jadi gelandangan!" Reka ikut mengancam Fian karena membantu pria itu.


"Woke ... aku tunggu." balas Fian riang. Reka jadi malu sendiri bahwa ancamannya diremehkan.


"Maaf, aku tak bermaksud apa-apa——"


"Tak apa-apa ... tapi, apakah ini jalan terbaik? Reka jadi mengincarmu?!" sela Karamel.


"Sudah kubilang ... aku bukan orang bodoh, yang dengan pedenya menantang keluarga kaya raya itu. Aku juga punya sesuatu ... lihat saja Minggu depan. Langsung kubuat dia jadi gembel!?" ucap Erick percaya diri.


Reka dan keluarganya beruntung. System sedang diupgrade ... jika tidak, Erick dengan gampangnya merubah hidup keluarga Reka dalam sekejap.

__ADS_1


"Yah, setidaknya aku harus bertahan selama seminggu dari teror dari Reka."


__ADS_2