System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 27 : Pil siksaan


__ADS_3

Erick saat ini di dalam toilet, memainkan beberapa panel mengambang yang berfungsi sebagai monitor CCTV. Erick terus mengawasi keadaan adik-adiknya, dia cuma bisa gigit jari menyaksikan Mina-Mona ditangkap, diseret. Dia tak tahan untuk menghajar pria yang sedang berniat melecehkan kedua adiknya.


"Si Boby itu, cepat tolong mereka! Jangan malah main handphone!" ucap Erick gregetan. Ini sama saja Erick sedang menonton film, benci terhadap antagonisnya.


[Tenang saja, Master. Saya pastikan Mina dan Mona akan baik-baik saja]


"Yah, kau sudah mengatakannya tadi. Huh, aku tunggu 5 menit lagi, System. Jika masih belum ada pergerakan, aku akan kesana. Menghajar pria itu!"


[Baik, Master]


Keadaan Mina-Mona ....


Mina diseret kakinya menjauh, Mona sontak berusaha memukuli pria itu. Tapi, rupanya si bejat ternyata licik.


"Diam, Nona manis! Aku akan membunuhnya, lho!" Pria itu menindih Mina, kedua tangannya mencekik.


"Mina!" teriak Mona histeris, dia bingung mau berbuat apa.


"Tetap diam disitu! Aku akan bermain dengan kembaranmu dulu. Setelah itu adalah giliranmu." Senyuman menjijikkan, itu yang dipikirkan Mona. Dia ingin mencabik-cabik, menghajar habis-habisan pria yang tengah berusaha melecehkan saudarinya.


"Mina?" lirih Mona yang cuma bisa terduduk lemas.


"Uhuk ... uhuk ... l-lepas." Cekikannya dilepas. Mina susah payah bernafas. "Kak Erick pasti akan ke sini dan memberi pelajaran padamu! Biadab, bajin9an ... uhn ... uhn!" Pria itu membekap mulut Mina dengan segumpal kain. Lalu, secara berangsur-angsur kesadaran Mina berkurang dan berhenti berontak.


"Hei, apa yang kau lakukan pada Mina?" teriak Mona, dia menatap saudarinya sendu.


Mina menatap balik Mona, dalam sorotnya seolah berkata. "Larilah!"


Saudari kembar itu punya hubungan yang kuat, mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Orang yang senantiasa bersama. Mona pun mengerti apa yang dimaksud oleh Mina.


Mona menguatkan hatinya. Dia berusaha mengabaikan saudarinya yang sebentar lagi diperlakukan seperti binatang, dicuri kehormatannya yang mesti diberikan pada orang yang dicintai.


"M-m-maf, Mina." seru Mona berlari sekuat tenaga, berupaya mencari bantuan.


Buukk ...

__ADS_1


Mona mendadak menabrak sesuatu yang keras, padahal tembok tak melintang di tengah koridor. Mona pun mendongak, dilihatnya seorang pria berkepala pelontos. Yah, dia tak lain adalah Boby yang muncul bak pahlawan. Harapan bagi Mina dan Mona.


"Kalian sudah aman." ucapnya datar, dia menyorot si pria bertopi dengan tajam.


"Lepaskan dia!"


Di sisi Erick ...


Erick bernafas lega, dia sungguh bersyukur bahwa Mina belum disentuh, mungkin baru hendak ditelanjangi.


"System, harusnya sudah boleh, 'kan?"


[Ya. Master]


[Master, tak ingin melihat hadiah yang Anda dapatkan pada misi terakhir]


"Huh, aku tak ada waktu. Cepat beritahu, apa hadiahnya?"


[Pil siksaan X3]


[Sebuah pil yang digunakan untuk membuat sebuah pemakai berhalusinasi. Biasanya ketakutan terbesar pemakai akan dipertontonkan dalam halusinasinya]


[Durasi efeknya bertahan sampai 5 hari]


[Jika over dosis. Pemakai akan kesulitan membedakan kenyataan dan ilusi. Berakhir dengan gila permanen]


Erick menaikkan sebelah alisnya, dia bergumam. "Hah?"


Hadiahnya adalah hal yang sekiranya dibutuhkan Erick untuk keadaan ini. Membalas dengan pedih orang yang hendak melecehkan adik-adiknya.


Tanpa basa-basi, Erick bergegas menuju ke gedung yang dimaksud. Tak ada kendala untuk sampai ke sana. Setibanya, Erick disambut oleh beberapa mahasiswa di lantai dasar, memandang bingung Erick yang langsung menaiki tangga, alih-alih menggunakan lift.


"Akan kubuat orang itu menyesal!" berang Erick, semakin cepat menapaki anak tangga.


Erick akhirnya bisa sampai ke tempat Mina dan Mona. Keadaannya sudah dikendalika, Boby telah meringkus pelaku. Sedang, para adiknya ... yah, Mona tengah menenangkan Mina yang nampak syok berat.

__ADS_1


"Mina, Mona!" panggil Erick setengah berteriak.


Kedua gadis kembar identik itu menoleh serempak, air mata tumpah ruah. Mina dan Mona segera menghampiri.


"K-kak Erick." ucap Mina lirih yang langsung merobohkan tubuhnya di dada Erick, tubuh gadis itu lemas. Dia menangis sesenggukan, menandai betapa takutnya Mina.


"Sudah, sudah. Semuanya aman. Kakak sudah di sini." ucap Erick lembut seraya mengelus pucuk kepala Mina. Kepangan rambutnya kini berantakan.


"Kenapa kak Erick lama datangnya? Kakak tak tau apa yang telah kami lalui. Itu sangat——"


"Iya, iya. Maafkan kakak. Setelah ini pasti aku akan selalu ada di sisi kalian!" Erick menarik Mona agar ikut berpelukan. Si bungsu pasti juga menginginkannya.


"System, kuharap ini ada kompensasinya. Mereka trauma!"


[Tenang saja, Master. Semuanya sudah disiapkan]


Boby yang menyaksikan haru-biru itu menjadi sedikit aneh. Pasalnya dia sangat tak asing dengan Mina dan Mona. Terlebih setelah melihat rambut Mina yang tergerai.


"Eh? Bukannya mereka berdua adik-adiknya Fandi? Si kembar Mina dan Mona. Dia pernah menunjukkan fotonya!?" kejut Boby setengah mati dalam hati. "Siapa Erick bagi adik-adiknya Fandi? Saudara jauh? Sepupu?" Berbagai macam teori muncul memenuhi kepala Boby.


"Kau? Eh? Boby, 'kan? Terima kasih sudah menyelamatkan adik-adikku. Aku sungguh berhutang padamu." ucap Erick yang menghampiri Boby. Pria botak itu sibuk menindih si pelaku.


"Tak masalah. Tak disangka kita bertemu lagi dengan cara seperti ini." jawab Boby. "Aku apakan orang ini?"


"Tak ada suara hati maupun pikiran yang membahas diriku. Dia cuma terkejut bahwaby Mina dan Mona adalah adikku. Hmm ... gimana, ya?" batin Erick.


"Lupakan itu sebentar! Aku masih kesal deean marah pada orang yang hendak memerkosa Mina dan Mona!"


"Boby, bisa serahkan orang itu padaku?"


"Umm ... ya. Silahkan!"


Boby asal mendorong pria bertopi. Erick menangkapnya dan reflek memelintir tangannya hingga dia menjerit kesakitan. Erick juga memegang kepalanya——menahan.


Erick berbisik tepat di telinganya.

__ADS_1


"Selamat bermimpi indah! Kuharap kau dapat kembali dari sana!"


Erick mencekoki pil siksaan itu ke dalam mulutnya. Tiga butir.


__ADS_2