
Erick menepi dari keramaian jalan yang macet itu. Dia bersama dua teman wanitanya pergi ke tempat yang lebih bersahabat.
"Ada-ada saja. Apa tak ada ketenangan?" Ariel menggerutu.
"Jadi, kita sekarang mau kemana? Berburu wisata malam?" Karamel memberikan usul.
Mereka pun akhirnya menikmati hiruk-pikuk kota Tokyo pada malam hari. Kota yang benar-benar tak pernah tidur, di setiap sudut selalu ada orang yang beraktivitas, baik itu hal baik, maupun hal buruk.
Erick sebisa mungkin menghindari hal buruk itu. Niatnya sekarang adalah jalan-jalan sambil mengamati keadaan. Dia tak tahu di mana Anya. Bisa saja di Tokyo.
"Kemampuan Esper sepertinya tak bisa digunakan untuk menemukan Anya. Benarkan?"
[Tepat sekali, Master. Jika tak begitu, maka akan sangat mudah]
Erick dan dua teman wanitanya berburu kuliner. Mereka membeli takoyaki, dan berbagai macam panganan lainnya. Dan makanan yang paling tak boleh ketinggalan ... tentu saja sushi.
Mereka telah mengisi perut sampai melewati kapasitas, tak kuat lagi menampung. Saat waktu telah mendekati tengah malam, Erick mengajak Ariel dan Karamel ke Tokyo Skytree ... menara tertinggi di Tokyo.
Mereka naik ke dek dan melihat pemandangan kota Tokyo dari atas. Seluruh penjuru kota itu kelihatan. Tentu saja indah.
"Yang lainnya jalan-jalan kemana, ya?
"Mungkin kebanyakan ke taman-taman. Di kota ini banyak taman-taman indah, terlebih pada malam hari." Erick menyahut pertanyaan Ariel. Sedangkan Erick memilih menikmati pemandangan dalam diam.
Mereka di atas sana dalam waktu yang lama.
"Apa kalian tak mengantuk? Ini sudah terlalu larut. Aku juga sudah lelah berjalan. Mencari tempat bermalam ... woah!" Erick menguap lebar.
"Aku belum ngantuk, sih. Tapi, karena Erick sudah lelah ... ya, bolehlah. Sebentar ... aku carikan tempat menginap yang bagus." Ariel mengeluarkan handphone-nya dan mulai mengetikkan keyword yang diinginkan.
Ariel menemukan sesuatu. "Sepertinya ada tempat yang bagus untuk tidur di sekitar sini." beritahu Ariel, tinggal menunggu keputusan Erick.
"Bagaimana dengan yang lain? Apa perlu dihubungi dan menginap di penginapan yang sama? Rita pasti sudah menemukan hotel yang bagus!?" tanya Karamel yang sudah siap menghubungi ibunya.
"Sepertinya tak perlu." sahut Ariel sebelum Erick bisa m membalas lebih dulu.
"Oh, gitu ya?"
"Erick, jadi gimana?" ucap Ariel nampak berharap pada keputusan pacarnya itu.
"Aku ikut saja. Bagus, biasa, atau kurang bagus sepertinya tak ada bedanya bagiku. Yang penting terbaring di kasur. Jadi, tolong tunjukkan jalannya, Nona Ariel." Erick melakukan hormat seperti tentara. Itu sontak memantik tawa Ariel.
"Siap!"
__ADS_1
"Aku menurut pada pilihan kalian." Karamel mengangguk dan ikut tersenyum. Dia suka melihat interaksi antara Erick dan Ariel, meski di dalam hatinya dia agak cemburu.
Mereka pergi ke penginapan yang pilih Ariel.
Karamel langsung menyesal karena asal menyetujuinya. Mukanya berubah merah padam ketika berdiri di depan bangunan penginapannya. Dia tak berani melihat tulisan besar yang terpampang di sana.
"Love hotel?" gumam Erick memiringkan kepala, dia melirik Ariel untuk meminta kejelasan.
"Love hotel adalah tempat paling dekat dengan lokasi kita tadi. Terlebih semua hotel terdekat sudah habis dibooking kamarnya. Sungguh tak ada sisa." Terang Ariel panjang lebar.
"Benarkah?" Erick memandang curiga.
"T-tentu saja." Jawab Ariel langsung memalingkan muka. Dia terfokus pada Karamel untuk pengalihan isu. "Kamu tak keberatan kan, Karamel?"
"A-aku ... belum siap!" balas Karamel terbata-bata. Wajahnya memanas ketika melirik Erick. "J-jangan hari ini! Aku belum menguatkan mental."
Ariel pura-pura tak bersalah. Erick hanya geleng-geleng kepala.
"Satu lagi ngebet ingin melakukannya, satu lagi malu-malu kucing. Hmm ... tapi, lucu juga." batin Erick yang tersenyum dalam hati.
"Ada seseorang yang mendekat?" Erick mendadak terfokus pada sebuah gang yang terletak tak jauh darinya, cuma di seberang jalan.
"Erick, ada apa?" Ariel cemas melihat Erick mendadak berubah suasana hati.
"Lha kamu?"
"Ada sesuatu. Nanti aku menyusul." Erick bergegas pergi ke gang seberang.
"Dia kejar-kejar, ya? Untuk yang satu ini ... entah kenapa aku tak bisa membiarkannya. Orang itu——remaja itu sudah terlanjur babak belur, dia bisa saja meninggal."
Erick menunggu dengan tenang di sana. Tak berselang lama muncul seorang remaja yang berjalan gontai, kondisi tubuhnya buruk, luka lebam menghiasi wajah.
"Remaja SMA?"
Di belakang remaja itu beberapa orang yang kemungkinan sama-sama seorang pelajar meneriakinya. Salah satu dari mereka memegang pentungan baseball.
"Hibiki! Berhenti, dasar brengsek!" teriak orang yang memegang pentungan dan segera melemparkannya. Secara telak menghantam kepala.
Remaja laki-laki yang namanya Hibiki itu langsung pingsan. Erick langsung bertindak.
"Main kejar-kejarannya sampai di sini saja. Sebaiknya pulang, cuci kaki, dan tidur. Ini sudah larut, ibu kalian nanti marah!
"Siapa kau? Mau ikut campur? Berarti siap untuk mengeluarkan biaya rumah sakit!" Mereka tak merespon candaan Erick dengan baik. Yang didapat cuma sifat permusuhan.
__ADS_1
Jumlah orang yang mengejar Hibiki ada 6 orang. Meskipun remaja SMA, tapi badan mereka besar-besar dan tinggi. Berbanding terbalik dengan Hibiki yang pas-pasan.
"Sebaiknya minggir atau urusan ini akan berbuntut panjang." Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pisau dapur, sudah berlumuran darah.
Erick memejamkan mata sejenak. "Hmm ... berarti kemacetan tadi penyebabnya ada sekelompok pelajar SMA yang tawuran?"
"Hei, dia bukan orang Jepang. Lihat penampilannya. Dia mungkin turis asing?!"
"Siapa peduli? Habisi saja orang yang menghalangi!"
Remaja yang memegang pisau maju lebih dulu. Dia begitu percaya diri bisa melukai atau membunuh Erick.
"Dasar bocah!" rutuk Erick.
Tusukan pertama yang mengincar perut.
Erick dengan mudah menghindar dengan bergerak ke samping, sementara itu dia menjorokkan si remaja.
"Rasakan ini!" makinya mengincar leher Erick.
Cuma mengambil beberapa langkah mundur, ayunan pisau itu dapat dielakkan. Setiap tikaman dari remaja itu tak ada yang berhasil satu pun, walau memotong satu mili benang pakaiannya Erick.
"Huh, huh, .... kenapa kalian cuma menonton? Bantu aku! Dasar tak berguna!" Remaja itu membentak teman-temannya yang menonton Erick bermain-main.
"Ups ... tak semudah itu, jagoan!"
Erick memelintir tangannya lalu merebut pisau yang digunakan. Remaja itu mengerang kesakitan karena tangannya ditekuk-tekuk.
"Silahkan maju atau leher teman kalian ini akan putus!?" Erick tersenyum licik. Mendengar suara-suara hati putus asa dari para remaja itu.
Tapi, berbanding terbalik dengan remaja yang sedang ditangkapnya.
"Awas saja ... setelah ini, aku akan mengadu ke kakakku. Bule, kau akan habis diburu kelompok Yakuza." batin remaja itu.
"Huh, kakaknya anggota Yakuza. Pantas kelakuan adiknya begini. Cih, bikin repot saja."
Erick serta-merta melepaskannya dan memberi sedikit peringatan. "Jangan muncul di hadapanku lagi, jika tak mau hal ini berbuntut panjang."
"Heh, sebaiknya kau yang segera pergi dari negara ini jika tak mau menyesal!" ancam remaja itu kabur bersama teman-temannya.
"Huh ... penyamaranku harus ditingkatkan." keluh Erick melihat Hibiki yang pingsan. "Kubawa kemana dia?"
Erick tak tega membiarkannya begitu saja, tidak dengan semua luka di tubuhnya.
__ADS_1