
Wah, baru update setelah lama ngilang.
Intinya aku nggak bisa update karena sibuk urusan sekolah (udah kelas 12) bentar lagi mau lulus.
Jadi, untuk ke depannya. Update-nya bakal random.
Update normal? Belum tau.
Udah gitu aja.
Makasih bagi pembaca yang belum kabur dari cerita ini. Aku sungguh tersanjung, haha.
.
.
.
.
Pada pagi harinya, Erick terus menghindari adik-adiknya terutama Mona. Dia merasa sangat malu, kejadian semalam cukup membekas. Beruntung Erick waras di saat-saat terakhir, jadi dia cuma melakukan foreplay dengan Mona. Tapi, tetap saja tumbuh rasa bersalah. Erick telah menyentuh adik kandungnya sendiri seolah tak memiliki hubungan darah.
Sedangkan Mona sendiri ... gadis itu bersikap biasa-biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun. Mungkin dianggap cuma sebuah mimpi, lagipun Mona waktu itu dalam keadaan setengah tidur.
"Kak Erick? Mau kemana? Joging? Tumben?!" ucap Mina tak sengaja melihat kakaknya itu di ruang tamu, bersiap mengenakan sepatu joging. Lengkap dengan pakaian olahraga.
"Ya. Akhir-akhir ini jarang olahraga." balas Erick tersenyum canggung. Mina dan Mona itu kembar, mukanya persis. Erick melihat Mina sama saja melihat Mona.
"Boleh aku ikut?" pinta Mina. Dia mendadak tergugah untuk melakukannya juga.
"Tak usah. Kau pasti menyesal. Aku juga mengajak Ariel!"
Ekspresi Mina langsung berubah masam, suara dengkusan samar tercipta dari mulutnya.
"Kakak lebih memilih bersama wanita itu dibanding bersama kami!" ucap Mina memalingkan mukanya dari Erick, terdengar sebal.
"Ah, bukan begitu!?" teriak Erick dalam hati. Dia serba salah.
"Ah, terserahlah!" Mina berlalu pergi meninggalkan Erick.
"Huh ... mereka berdua ... tentu kalian tetap jadi perempuan paling berharga di hidupku.
[Misi dikonfirmasi]
[Lari sejauh 10 km]
[Tingkat kesulitan : E]
[Hadiah : 10.000 poin]
[Batas waktu : 1 jam]
__ADS_1
[Pinalti : Kekuatan fisik menurun]
"Huh, misi? Setidaknya ada motivasi tambahan seperti ini. Jadi, nggak terlalu berat-berat amat."
Erick telah selesai bersiap, dia keluar dan langsung menuju apartemen pacarnya itu. Harusnya Ariel juga sudah bersiap-siap, jadi, bisa langsung berangkat. Erick memang sudah memberitahunya lebih dulu
Erick mengonfirmasi kesiapan dengan mengirim pesan.
^^^Anda ^^^
^^^"Siap?"^^^
Tak butuh waktu waktu lama agar pesan itu terbaca dan dibalas. Ariel mungkin menanti-nanti pesan dari Erick.
Ariel
"Yap. Sudah!"
Pintu segera terbuka, Ariel muncul dengan pakaian olahraganya.
"Kita mau jadi joging kemana?" tanya Ariel langsung.
"Pokoknya yang jauh. Mungkin ke kota sebelah?!" gurau Erick yang ditanggapi baik oleh Ariel.
"Heh? Lari maraton, dong? Lalu, gimana jika aku pingsan di tengah jalan?" balas Ariel tersenyum cengengesan. "Kamu mau gendong?"
"Hmm ... tentu. Punggung ini khusus untukmu!" Erick menepuk-nepuk punggungnya.
Yah, keberadaan Ariel bisa sedikit mengalihkan perhatian Erick dari mengingat-ingat peristiwa semalam.
Erick dan Ariel pun jalan-jalan berdua dengan senang serta tanpa beban. Mereka cuma joging di area sekitar komplek apartemen. Tak jarang ada yang berpikir seperti mereka untuk olahraga di ruangan terbuka, pas hari sedang cerah-cerahnya.
"Eh? Misinya suruh berlari, 'kan?" gumam Erick mendadak berhenti berlari kecil. "Lari biasa atau lari-lari kecil——joging?"
[Berlari biasa, Master]
"Huh, jadi apa tadi belum di hitung sama sekali?"
[Misi berlari 10 km]
[Kemajuan : 0/10 km]
"Erick, kenapa kamu berhenti? Tak ada masalah, 'kan? Eh, atau kamu sakit?" Ariel menghampiri Erick yang ternyata tertinggal agak jauh di belakangnya. Dia melihat Erick sedang bengong.
"Hei, bagaimana kalau kita lomba lari? Yang menang boleh minta apapun kepada yang kalah." Erick mendadak memberikan usulan yang membuat Ariel mengingat-ingat ketika dirinya dan Erick melakukan taruhan serupa. Dari sanalah awal hubungan mereka.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Ariel menaikkan sebelah alisnya.
"Tak apa-apa. Jadi, gimana? Mau?" Erick berkelit dari membeberkan alasannya.
"Yah, aku sih tak masalah." ucap Ariel canggung. "Aku pasti menang."
__ADS_1
"Tapi, peraturannya bakal beda. Tak ada garis finish. Ini soal ketahanan. Pemenangnya adalah yang mampu bertahan paling akhir!" Erick menjelaskan peraturannya.
"Ya, dipikir-pikir ... aku bakal kalah, sih. Tapi, tak apa-apa. Ada kemungkinan kamu bakal ngalah, 'kan?" gurau Ariel tersenyum licik, mencolek-colek pipinya Erick.
"Ogah! Permintaanmu pasti aneh-aneh!?"
"Hmm ... apa meminta menginap dan tidur bersama itu aneh?" tanya Ariel menggoda.
"Y-ya. Nggak, sih. Ah, sudahlah! Mari mulai perlombaannya!"
Erick dan Ariel pun bersiap. Lintasannya adalah jalur pejalan kaki di seluruh area komplek apartemen. Total keseluruhan lahan yang digunakan the Gold Apartement itu sekitar 20 hektar. Cukup luas.
"Ingat, Ariel. Dilarang berjalan santai! Harus berlari!" peringat Erick.
"Okeee."
.
.
.
Pemenangnya sudah ketahuan siapa, Erick memimpin beberapa putaran. Pacarnya ketinggalan jauh dan mungkin tengah mengistirahatkan diri.
[Misi berhasil diselesaikan]
[Selamat, Master mendapatkan 10.000 poin]
"Akhirnya selesai!" ucap Erick lega. Dia lantas berhenti berlari. "Cukup menguras keringat." Pria itu mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang tersampir di leher. Erick bergegas mencari tempat merehatkan badan.
Pilihannya adalah sebuah di bawah pohon rindang. Duduk selonjoran meski tahu bahwa celananya mungkin bisa kotor. Sebelumnya, dia juga telah membeli minuman dingin guna menyegarkan tenggorokannya. Erick membeli dua.
Tak berselang lama, Ariel tiba dengan nafas tersengal-sengal. Wajahnya banjir keringat, bahkan handuk yang semampir di leher juga menjadi korban.
"Hah ... hah ... hah ... larimu cepet bange——"
"Iya, iya. Ini hadiahmu, Nona!" Erick menempelkan air mineral dingin tepat di pipi Ariel.
Ariel sontak terperanjat kaget. "Hiiiii ... dingin. Apa sih?" Ariel seketika memasang wajah cemberut. Dia menyambar minumannya dengan kesal.
"Sama-sama." Erick tersenyum penuh arti. Ariel sontak memalingkan mukanya.
"T-t-terima kasih." Ucap Ariel malu-malu.
Erick terkekeh melihat tingkah pacarnya itu, pucuk kepala Ariel diacak-acak.
"Huh? Ariel, sepertinya kita punya tetangga baru?!" ucap Erick yang melihat beberapa orang menurunkan bareng-bareng dari mobil box.
"Heh? Satu gedung dengan kita?"
"Ya. Kuharap dia orang yang baik. Harapanku cukup simpel untuknya."
__ADS_1