
"Sekarang apa lagi, sialan?" Erick terlalu muak dengan kejadian-kejadian yang dilaluinya karena selalu saja ada yang mengganggu hari damainya.
Seperti sekarang ... saat dia dan Mona dalam perjalanan pulang mereka dicegat oleh sekelompok siswa SMA. Meski masih pelajar, namun tubuh mareka sudah melampaui Erick.
Yah, mungkin itu yang menyebabkan mereka berani mengadang Erick dan Mona. Mentang-mentang seperti mangsa empuk.
"Hei, Ni-san. Mau kemana? Jangan buru-buru! Kau tak sedang memiliki janji kencan, 'kan?" ucap orang yang nampak adalah ketua geng. Wajahnya sangar, rambut disemir pirang dan nampak sedang mengunyah permen karet.
Para anak buahnya tertawa terbahak-bahak.
"Minggir! Apa kalian tak punya kerjaan?" ucap Erick dengan bahasa Jepang. Mona dengan sedikit takut berlindung di belakangnya.
Dia tak berani menatap para berandalan yang menatapnya dengan penuh nafsu.
"Kak Erick? Bagaimana?" bisik Mona yang gemetar menarik jaket Erick.
"Tak perlu takut, mereka cuma bocah ingusan yang salah memilih mangsa!" Erick berupaya menenangkan Mona. "Tetaplah berlindung dibalik kakak!"
"Aduh, jangan galak-galak, kami takut lho, Ni-san!? Hahahaha ...." Mereka tertawa lebar seolah melihat sesuatu yang lucu.
"Huh ... mereka itu lama-lama sangat menyebalkan!" batin Erick yang melirik sekitar.
Yap, tempat itu sepi. Gang atau jalanan sempit yang dilalui Erick dan Mona tak ada orang yang berlalu lalang, walaupun sore hari adalah waktu kebanyakan orang pulang dari bekerja.
Mungkin area itu adalah kawasan para berandalan itu, jadi kebanyakan menghindar dan menempuh jalur lain. Yah, ini adalah pertama kalinya untuk Erick melewati area itu.
"Percuma saja mengharapkan orang lewat. Mereka tak akan berani lewat sini. Jika mau lewat kau harus membayar 10 ribu Yen. Namun, jika tak sanggup ... rumah sakit jawabannya." si ketua geng menyeringai.
"Tapi ... ada penawaran spesial. Kau bisa lewat jika membiarkan gadis di belakangmu bermain bersama kami. Kau bisa lewat dan gadis itu akan kembali besok tanpa terluka. Bagaimana? Tak buruk, 'kan?"
"Aku tak mau bermain dengan kalian, cowok-cowok jelek!" teriak Mona dengan bahasa Jepang yang kurang fasih, ia tak terima diperlakukan seperti wanita murahan.
"Tapi, kamu tak punya hak untuk memilih, Manis! Semua tergantung oleh dia! Siapa, apakah pacarmu?" gelak si ketua geng yang meludahkan bekas permen karetnya ke arah Erick. Namun, tak sampai mengenai.
"Ya ... kalau begitu, aku tak akan memilih membayarnya atau membiarkan adikku bermain dengan kalian!" balas Erick menyeringai, menunjukkan bahwa ia tak gentar. Walaupun jumlah yang alam ia hadapi ada belasan orang, sekitar 14.
"Baiklah, oni-chan ... kami hargai keputusanmu, meski kami sudah memberikan penawaran yang menguntungkan. Hei, urus dia!" si ketua mengerahkan salah satu anak buahnya untuk menyerang Erick.
"Yah, baiklah ... beri pelajaran sampai mereka kapok!"
Salah seorang dari mereka menerjang Erick.
Erick hanya tersenyum.
Buagh ...
Seseorang mendadak muncul dan melakukan tendangan melayang ala-ala kamen rider, hingga membuatnya terpental menghantam tiang listrik terdekat, orang itu langsung pingsan.
__ADS_1
"Tenang saja, Master! Anda tak perlu mengotori tangan, biar saya menghabisi para cecunguk ini!" beritahu si pendatang baru yang merupakan seorang wanita.
"Lita? Jika kau di sini ... Hibiki seharusnya berada di sekitar sini, 'kan?"
Para berandalan itu terpaku setelah melihat dalaman milik Lita yang berwarna putih, yah itu pemandangan menakjubkan yang berlangsung selama beberapa mili detik. Rok di atas paha yang Lita kenakan dapat dengan mudah dipamerkan jika dia melakukan tendangan.
"Yah, mereka telah melihat bagian bawahmu. Sebaiknya habisi saja ...."
"Baik, Master! Dipahami."
"Eh? Bukan begitu juga. Hah, cukup buat mereka kapok dengan mengirim ke rumah sakit."
"Baik, Master! Dipahami."
Tak berselang lama, seorang laki-laki berlari menghampiri kerumunan.
"Cih, siapa kau? Datang-datang sudah rusuh!" caci salah satu siswa berandalan itu. Dia sedikit gemetaran melihat temannya sudah tidur duluan.
"Bos, gimana ini? Gadis yang baru datang nampak sangat kuat!?" bisik anak buah lainnya.
"Apa yang perlu ditakutkan? Dia hanya seorang wanita, lagipula cuma sendirian. Tak peduli seberapa hebat dia dalam bela diri, tak mungkin bisa menghadapi 13 orang sekaligus." si ketua berusaha menenangkan anak buahnya, walaupun dia sendiri juga agak ciut nyalinya setelah melihat aksi dari Lita.
Sementara itu, Erick hanya santai dan menyambut para pendatang baru.
"Oi, Lita? Kenapa ke sini? Ini adalah sarang berandalan ... oh? Sepertinya kau sudah menghajar salah satu dari mereka?!" kejut Hibiki yang baru sampai.
"Tapi, suatu kebetulan Erick-san bisa berada di sini?" tanya Hibiki yang menyadari keberadaan Erick.
"Apes, mungkin?!" jawab Erick mengangkat bahunya.
"Oh, kau 'kan dari SMA sebelah. Hibiki?" si ketua geng menunjuk-nunjuk Hibiki, ia menyeringai menyibak rambutnya ke belakang.
"Hahaha ... kebetulan sekali. Kau masih punya hutang padaku!"
"Hutang?" Hibiki mengernyitkan kening. Dia tengah membedah memorinya.
Erick membaca pikiran Hibiki dan si ketua geng.
"Oh, jadi pas tawuran waktu itu? Hmm ... si Hibiki rupanya tak sengaja terjebak di tengah-tengah pertempuran antar sekolah, yang menyebabkannya mau tak mau harus membuatnya membela diri .... dan, huh, yah ...." batin Erick mangut-mangut, lalu melirik si bos para berandalan itu.
"Lihat, ini! Kau tak ingat pada kepala yang sudah kau hantam dengan balok kayu dari belakang?" Si ketua geng menunjuk bagian kepalanya yang belang, tak ditumbuh rambut.
Hibiki tak bisa mengelak, memang dia yang melakukannya. Beruntung saja si ketua geng tak sampai mengalami gegar otak. Hantaman yang dilakukan Hibiki sangat keras, itu semata-mata cuma untuk membela diri kerena dia terdesak.
Namun, ironinya ... bukan hanya musuh dari SMA sebelah. Hibiki juga harus berjibaku dengan siswa sekolahnya sendiri.
"Ini sangat kebetulan? Aku selalu mencari-carimu ... jadi, tak perlu basa-basi. Serang!"
__ADS_1
Tanpa ragu, 13 orang itu menerjang secara bersamaan. Lita tak gentar menghadapinya. Namun ....
"Lita, ganti perintah! Biar aku saja yang mengurus mereka!" ucap Erick yang telah mengeluarkan katana pemberian Ru dari penyimpanan System.
Erick dalam kuda-kuda melakukan tebasan dan para berandalan itu tak ragu untuk terus maju. Mereka ikut mengeluarkan senjata tajam mereka yang berupa pisau.
Erick menyeringai lebar.
Slash .... Swushh ....
Erick melakukan tebasan secara harizontal dan muncul angin hempas yang menerbangkan para berandalan itu ke belakang, menghantam sesuatu. Beberapa dari mereka langsung terkapar, sementara yang lain sedang menikmati ketakutannya akan kematian.
Si ketua geng gemetar dan banjir keringat ketika menatap Erick yang santai menopang katana di pundaknya.
"Baiklah, anak-anak. Pelajarannya telah selesai, kalian sudah paham dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya?" ucap Erick tersenyum ramah, namun bagi mereka terasa sangat mengancam.
Para siswa berandalan itu kabur dan tak lupa membawa teman-temannya yang pingsan.
"Woah, Erick-san, tadi keren banget!" ucap Hibiki yang berbinar-binar. Yah, Erick akan sedikit memodifikasi ingatannya.
"Yah, biasalah. Dengan sedikit berlatih." balas Erick.
[Master, saya mendeteksi ada seseorang yang mengawasi Anda]
"Hah? Kenapa aku tak merasakannya?"
[Mungkin ia sedikit istimewa. Jika tak menunjukkan hawa keberadaannya selama sesaat, mungkin saya juga tidak bisa menyadari keberadaannya]
"Hah? Apa lagi ini? Apakah aku semencolok itu? Terlalu berlebihan? Aku cuma ingin hidup damai sebentar! Apa niat orang itu padaku?"
.
.
.
.
Ya, gimana ya ...
Aku baru mulai kerja setelah lulus sekolah. Agak kesulitan mengatur waktu untuk nulis. Mungkin bisa curi-curi waktu senggang dan mungkin bisa pada malam hari. Tapi, akunya malah nggak mood.
Ya, jadi Novel yang satunya mungkin harus Hiatus dulu. Aku fokus namatin yang satu ini.
Gitu dah, makasih bagi yang masih baca. Nggak berharap masih ada yang baca sih, author sendiri nggak konsisten. Wajar pada kabur.
Tapi, bodo amat lah. Penting novel ini tamat dulu.
__ADS_1
See you next chapter.