
Erick kembali ke apartemen miliknya demean tangan hampa. Jika dilihat orang sekitarnya, Erick kelihatan seperti orang yang baru kalah taruhan. Yah, ada benarnya. Dia baru saja gagal melaksanakan misi dari system.
Erick puas dimarahi oleh orang tuanya anak laki-laki itu. Mau bagaimana lagi, memang risiko yang harus ditanggung.
"Kenapa kak Erick lesu? Diputusin Ariel? Ah, wanita itu memang tak tau diri, ya? Tapi, kak Erick tak perlu memikir——hmph ... hmph?!"
"Sudahlah, Mina! Kakak lagi malas berdebat." ucap Erick yang lesu. Dia menyumbat mulut adiknya.
"Apa-apaan sih?" sebal Mina melihat Erick langsung menuju sofa untuk merebahkan diri.
"Mina, ibu kemana?" tanya Erick setelah mengetahui ibunya tak nampak di mana-mana ruang.
"Keluar sebentar. Kalau Mona tidur di kamar!" beritahu mina yang menyusul Erick di ruang tamu.
"Kak, apa ada sesuatu yang terjadi? Kakak kelihatan lesu!?" ucap cemas Mina, kentara dari ekspresinya.
Erick tersenyum tipis, dia merasa tersanjung telah dicemaskan oleh adiknya. Dia mengacak-ngacak rambut Mina dengan gemas.
"Apaan sih, adikku? Nggak perlu khawatirin kakakmu ini! Semuanya normal. Humm ... mungkin sedikit kendala." Erick tak hentinya membuat amburadul rambutnya Mina.
"Ah, kak Erick. Semuanya jadi kusut, kan? Susah payah aku ngerapihin, tau!" ngambek Mina, menggemukan pipi serta menatap sebal kakaknya itu.
"Untuk apa sok menata rambut ketika di rumah. Mina mau memincut hati pria mana?" goda Erick mencubit hidung adiknya. "Nggak dandan, Mina udah cantik, kok!?"
"Ukh ...!?" Mina berbalik membelakangi Erick. Ah, tubunnya memanas. Dia ingin jingkrak-jingkrak di atas sofa.
Mina sangat salting dipuji-puji oleh Erick. Dia merasa seperti perempuan paling bahagia sedunia.
"Kak Erick memujiku cantik? Memujiku cantik?" batin mina yang masih terasa melayang tinggi.
Erick yang mengetahui respon adiknya itu hanya dapat tersenyum tipis dan geleng-geleng. Tapi, menurutnya menggemaskan. Mirip-mirip Ariel ketika salah tingkah.
"Huh. Kenapa adikku pada brocon, ya? Apa mereka tak bisa menyukai laki-laki lain?"
Mina dan mona memang terkenal ketus kepada laki-laki lain. Mereka bagaikan anjing galak yang tak boleh didekati, nanti menggigit.
__ADS_1
"Itu agak buruk. Mereka susah cari jodoh nanti. Kelainan brocon itu harus dihilangkan!" batin erick.
Selanjutnya, ruang tamu sedikit lengang. Erick dan Mina tak melakukan banyak interaksi. Mina sibuk mesam-mesem, sedang Erick yang mencoba tertidur. Tapi, diganggu oleh suara bel pintu yang agak nyaring.
"Pasti ibu sudah pulang?!" Mina bergegas bangkit untuk membuka pintu. Erick kemudian menyusul.
"Ibu membawa sesuatu yang enak?" Mina langsung menagih dengan antusias.
Lilis menghela nafas berat. "Ubu bukan habis belanja, Mina. Ibu tak membawa apa-apa."
Mina langsung cemberut.
"Ibu habis dari mana?" giliran Erick yang bertanya.
"Cari-cari teman, sih. Ibu kan harus bersosialisasi juga. Nggak enak seharian di rumah." beritahu Lilis sambil tersenyum pahit. "Walau ibu belum sepenuhnya diterima oleh penghuni apartemen lainnya. Tapi, masih lebih baik dari hari pertama."
Erick mengangguk paham. Mereka bertiga kemudian pergi ke ruang keluarga untuk sedikit bersantai. Menyantap cemilan sambil nonton TV.
"Mona tidur, ya? Tak seperti dirinya?" ucap Lilis merasa aneh.
Lilis mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian memberikan topik obrolan yang menarik.
"Katanya apartemen sedang heboh-hebohnya, lho?!" beritahu Lilis, mengharap tanggapan anak-anaknya.
"Ada berita apa, bu?" tanya Mina penasaran.
"Yah, katanya keamanan di apartemen ini sedang diperdebatkan. Baru-baru ini, banyak kasus pencurian. Bahkan baru banget ibu mendengar berita ini."
"Apa Bu? Apa? Jangan bikin penasaran deh!" protes Mina karena ibunya sengaja menjeda kalimatnya.
"Hahaha ... Maaf, maaf. Begini ... seorang nenek-nenek yang menghuni lantai delapan baru saja kecurian. Kotak perhiasan dan tabungan uang cash semuanya terambil."
"Uhuk ... uhuk." Erick mendadak tersedak. "Lantai delapan?" tanya Erick memastikan bahwa dia tak salah dengar.
Lilis mengangguk sebagai jawaban. "kenapa Erick? Kamu sudah tau berita ini?"
__ADS_1
"hahaha ... bukan! Cuma sedikit terkejut." balas erick sedikit gugup.
"Apa-apaan ini? Padahal aku baru bertemu setengah jam yang lalu!?" batin erick.
[Master, mosquito menemukan sesuatu yang menarik]
"Heh? Apa? Apa?"
"Umm ... Erick kayaknya mengantuk. Maaf." ucap erick bergegas ke kamarnya.
"Apa pria itu sudah kembali?" tanya Erick antusias.
[Belum, master. Tetapi, sebuah ruangan yang menarik berhasil ditemukan]
"Ruangan macam apa?"
Erick lantas menampilkan panel holografi yang merupakan ganti monitor.
[Master harusnya bisa langsung mengenaliniya]
Panel holografinya kemudian menunjukan secara real time kondisi ruangan yang dimaksud System.
"Hah? Serius? Barang-barang seperti itu ... dekorasinya? Dia seorang paranormal?"
Ruangan itu dilapisi kain berwarna hitam di seluruh tembok. Dupa-dupa juga banyak yang menyala. Bunga-bungaan mendominasi di suatu wadah, barang-barang aneh pun ditemui. Erick tak mengenalinya.
Yah, itu memang ruangan yang sering digunakan para dukun untuk melakukan ritual.
Erick masih belum puas melihat-lihat isi ruangan itu. Sesuatu yang tak diharapkan terjadi. Koneksi dengan mosquito terputus. Rekaman real time berhenti seketika.
[Mosquito tertekan oleh sesuatu yang menyebabkannya rusak, master]
"Cih, berurusan dengan hal ghaib! Huh, System ... ke depanmya kita bakal adu mekanik dengan makhluk metafisika!"
[Sepertinya kue yang dibagikan ada semacam trik, master]
__ADS_1
"Ya. Di kue itu pasti ditanami guna-guna. Dia mengirimkan pelet pada orang-orang. Terus memoroti semua orang. Trik kejahatan yang bagus!?"