
"Ariel, kamu kembali lah dulu! Ada sesuatu yang harus kulakukan." ucap Erick yang berhenti tepat di depan pintu lift. Sontak itu membua Ariel kaget.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Ariel memandang Erick, menaikkan sebelah alisnya. "Pergi kemana?"
"Ah, cuma ke minimarket. Kamu mau ikut?"
"Nggak usah deh. Aku langsung pulang!" balas Ariel seraya menguap. Mengantuk, habis ini dia bakal langsung tidur.
"Ok, hati-hati. Jangan sampai tersesat!" gurau Erick menggoda pacarnya. Perempuan cantik yang agak tomboy itu menggemukkan pipi. Masuk ke dalam lift ketika pintunya telah terbuka.
"Harusnya kamu! Aku sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Kamu bahkan belum ada sebulan!?" Lift itu menenggelamkan suara Ariel.
"Yap, seperti hubungan kita yang belum sebulan." gumam Erick.
Pria berambut cokelat-pirang itu menuju ke arah tangga. Erick akan naik ke lantai atas, bukan ke apartemennya. Melainkan ke apartemen milik orang lain yang diketahui baru pindah.
"Kalau tak salah pria itu ada di lantai delapan?!" ucap Erick yang langkah demi langkah menapaki anak tangga.
Butuh waktu beberapa saat agar Erick sampai di lantai yang dituju. Bukan sesuatu kesusahan yang berarti.
"Ah, ini dia. Unit nomor 73"
Erick berdiri tepat di depan pintu yang bertanda nomor 73. Tangannya kemudian bergerak menuju bel pintu terus menekannya.
Setelah beberapa saat tak ada jawaban, Erick menekannya lagi, kini lebih kuat. Tapi, tetap hening keadaan di dalam. Dia pun geram sendiri.
Lalu, kebetulan penghuni unit sebelah keluar dari apartemennya. Langsung memberitahu Erick.
"Mas, orangnya sedang pergi keluar. Mungkin bekerja?!" beritahu seorang wanita paruh baya. Kerutan-kerutan di wajahnya menandakan umurnya menginjak kepala lima.
Wanita tua itu menenteng dua kresek hitam yang menarik perhatiannya Erick.
"Oh, begitu? Makasih. Humm, mau buang sampah? Saya bantu bawakan. Kelihatannya berat?!" tawar Erick. Dia agak kasihan melihat wanita tua itu harus membawa beban yang berat.
"Eh, nggak usah Mas. Saya bisa sendiri." tolak wanita itu segan.
"Baiklah. Sebelumnya terima kasih sudah memberitahu saya."
"Ya. Sama-sama. Saya tinggal dulu, ya?" pamit wanita itu pergi menuju lift.
Erick mengangguk sebagai respon.
"Huh, tak mendapatkan hasil apa-apa. Humm, System ... kirim seekor Mosquito ke sini. Aku geregetan dengan pria yang berniat meracuni semua orang."
[Baik, Master]
__ADS_1
Erick akhirnya memutuskan kembali. Dia menuju ke lift. Lalu, di sana dia menemukan seorang anak laki-laki yang meringkuk ketakutan di pojok. Dia sendirian di dalam lift, tak ada seorang pun.
Anak itu terdengar menangis sesenggukan.
"Kenapa ada anak kecil di sini sendirian? Mana pengasuhnya? Cih, ceroboh sekali!" batin Erick yang berinisiatif mendekati anak laki-laki itu.
"Hei, Dek. Ada apa?" sapa Erick pelan. Kemudian direspon secara tak terduga.
Anak itu menoleh. "KAK!"
Dia mendadak berteriak kencang disertai rengekan. Suaranya sungguh melengking, membuat kuping Erick berdengung kencang.
"Hei, hei. Kenapa menangis?" tanya Erick berusaha menenangkannya. Tapi, tak membuahkan hasil.
"Apa-apaan dengan teriakannya itu? Kaca pasti pecah!?" Erick berkomentar dalam hati.
Penderitaannya itu berlangsung sampai ke lantai yang mana ada unit apartemen miliknya.
"Dek. Jika kamu nggak berhenti menangis ... kakak tinggal, nih?"
Anak laki-laki itu seketika senyap. Dia menatap Erick dengan pandangan iba.
"Huh, begini lebih baik." batin Erick lega.
"Nah. Sekarang coba ceritakan kenapa kamu bisa ada di dalam lift sendirian?" Erick berjongkok, mensejajarkan tingginya. Dia dengan pelan mengelus anak kecil itu.
"Apanya yang hilang?" tanya Erick.
"H-handphone."
"Handphone?" ulang Erick guna memastikan. Anak itu mengangguk pasti.
[Misi dikonfirmasi]
[Bantu temukan ponsel yang hilang]
[Tingkat kesulitan : C]
[Hadiah : 25 ribu poin]
[Batas waktu : 30 menit]
[Pinalti : Orang tua anak tersebut akan marah dan Anda yang bakal disalahkan]
"Huh, mendadak ada misi?!" batin Erick mengeluh. Dia memutuskan untuk membantu anak laki-laki itu menemukan handphone-nya.
__ADS_1
"Ketinggalan atau hilang?"
Jika anak kecil, maka cuma ada dua kemungkinan. Tak sengaja tertinggal di suatu tempat atau dicuri, memanfaatkan kepolosannya dan merampas handphone-nya.
"Di gym." beritahu anak laki-laki itu dengan dengan polosnya.
Erick lantas tersenyum kecut. "Ternyata ketinggalan."
"Ok. Mari kakak antar." Erick menggandeng tangan anak itu.
Mereka masuk ke dalam lift lagi untuk pergi ke pusat fasilitas gym yang dimiliki apartemen ini. di lantai 15. Semenjak pindah ke sini, Erick tak pernah sekalipun pergi ke sana.
Sesampainya di sana.
"Kamu terkahir kali meninggalkannya di mana?" tanya Erick.
Yah, percuma. Anak kecil itu tak merespon. Huh, harus sabar-sabar menghadapi anak kecil. Apalagi Erick juga bakal menjadi seorang ayah.
Karena anak itu tak bisa diajak kerjasama, Erick terpaksa bertanya pada orang-orang di sana. Tapi, ujung-ujungnya tetap sama. Mereka tak ada sekalipun yang tahu keberadaan handphone-nya anak itu. Malah, mereka tak sadar jika di gym sempat ada anak kecil.
"Umm ... kamu serius ninggalin handphone-nya di sini?" tanya Erick sekali lagi.
Tentu jawaban anak itu sama, dia mengangguk.
"Hah! Misi ini jauh lebih sulit dari perkiraan!?" keluh Erick dalam hati.
[Saya sarankan Master untuk melihat rekaman CCTV di tempat ini]
"Woah, benar juga. Tinggal melihat rekamannya, ya? Nice, System."
[Sama-sama Master]
Erick sementara asyik sendiri memainkan panel holografi yang cuma mampu dilihatnya seorang. Dia membutuhkan beberapa saat untuk mampu melihat rekaman CCTV.
"Nah, nah. Inilah dia!"
Mata Erick langsung melebar ketika melihat rekamannya. Dia langsung menatap anak laki-laki di dekatnya.
"Dek, apa handphone-mu benar-benar hilang?"
Anak laki-laki itu tak memberikan respon.
"Hmm ... kasus semacam ini? Hipnotis, bukan?" pikir Erick.
Rekaman CCTV-nya menunjukkan si anak laki-laki yang menyerahkan handphone-nya secara sukarela pada seorang pria ber-hoodie hitam dengan tangan tudung dan masker yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Apa ini ada hubungannya dengan kelompok mafia itu?"