
Erick melaporkan kasus pelecehan yang menimpa adik-adiknya ke kantor polisi. Otomatis si pelaku langsung di DO dari Universitas Nusa. Yap, hidupnya hancur dalam sekejap. Sudah mendekam di penjara, terus stigma buruk dari orang-orang yang bakal menyulitkannya kembali hidup di masyarakat.
Kasus pemerkosaan itu perkara yang hina, bagi para narapidana pun juga berpikir demikian. Tak heran Erick dulu menjadi kasta terbawa di sana.
"Sekali lagi, terima kasih. Aku tak tau gimana jadinya, jika kau tak ada di sana." ucap Erick menjulurkan tangannya, tersenyum ramah.
"Itu sudah kewajibanku. Cuma ada aku di sana." Boby ikut tersenyum dan membalas jabat tangan Erick.
Erick yang mengaktifkan pembaca suara hati dan pikiran. Jadi, apapun yang tengah coba Boby hendak dikatakan, Erick dapat mengetahuinya lebih dulu
"Lagian ... Mina dan Mona yang ceroboh? Kenapa mereka berpikiran bahwa area yang sudah sepi ada kelas yang dimaksud?" suara Boby menggema jelas di kepala Erick.
Tanggapan dari pria bersurai abu-abu-keperakan itu biasa saja, malah cenderung datar. Selanjutnya mereka diam-diaman, cuma suara hati yang aktif bicara.
"Hmm ... belum ada yang aneh. Apa kupancing saja?" batin Erick.
Sekarang Erick, Boby, serta Mina-Mona berada di kantor polisi. Kehadiran mereka adalah untuk menceritakan kronologi kejadiannya. Mina dan Mona diberi beberapa pertanyaan, kini belum kembali.
"Kuharap orang itu tak bebas." celetuk Erick. Pancingannya berhasil.
"Tentu saja tak bisa. Terlebih adanya saksi dan bukti." timpal Boby.
Erick lantas tersenyum. "Kau ingat kasus pemerkosaan yang melibatkan artis dan supirnya. S-siapa namanya? Ah, Anya dan Fandi. Berita itu sangat viral belakangan ini. Bisa-bisanya Fandi bebas. Kenapa bisa begitu?" ucap Erick panjang lebar.
Boby tak langsung merespon lewat lisan, melainkan hati. "Memang benar. Secara mengejutkan Fandi dapat bebas setelah di penjara beberapa bulan. Kenapa? Satu-satunya kemungkinannya adalah dia punya backingan orang berkuasa!?"
Erick terus mendengarkan suara hati Boby. Dia menunggu-nunggu kalimat yang menunjukkan rasa kesal, benci, ataupun marah.
"Dia sekarang bebas, serta tak diketahui keberadaannya. Apa dia akan menuntut balas?" batin Boby yang mendadak mengarahkan pandangannya pada Erick.
Erick sedikit bergeming.
"Takdir? Aku hari ini tak sengaja bertemu orang yang mirip sekali dengan adiknya. Tak ada cela, atau memang ... benar!? Lalu, pria di hadapanku kini adalah——"
Brakk ...
Pintu ruangan yang menuju tempat Erick dan Boby, dibuka secara kasar. Datang Mina dan Mona berteman dua orang polisi di belakang. Sepasang kembar seiras itu reflek mendekati Erick, terus memeluknya. Rasa ingin bermanja-manja, takut, serta perasaan lega.
"Apa kita sudah boleh pulang?" tanya Erick seraya mengelus pucuk kepala kedua adiknya. Erick juga mengirimkan tatapan pada polisi yang mengantar Mina-Mona. Lantas sebuah anggukan diberikan.
__ADS_1
"Huh." Erick menghela nafas. "Mina ... Mona ... tak perlu cemas lagi. Kita bisa pulang!"
"Umm ... ya. Kami tadi sungguh takut. Bagaimana jika kami ikut dipenjara?" tanya Mona memeluk Erick sangat erat.
"Hukum negara ini benar-benar ngelawak jika benar-benar terjadi. Tapi, jikapun kalian memang ditangkap ... aku akan langsung membebaskan kalian! Tak akan ada yang bisa mengambil kedua adik kembar dari sisiku!"
"Beneran?"
"Apa perlu bukti?"
Di sisi lainnya, polisi yang satu lagi memberikan surat hasil penyelidikannya pada Boby. Seharusnya kepada Erick, tapi dia tengah sibuk mengurus adiknya.
"Pengaruh obat-obatan? Ya, dia sempat berteriak ketakutan secara mendadak. Aku tak kenal mahasiswa itu. Jadi, apa dia adalah pecandu narkoba?" pikir Boby setelah membaca surat laporan penyelidikan.
"Pak, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Boby. Hal itu juga menarik perhatian Erick.
"Dia seperti terkena pengaruh halusinasi yang kuat. Sampai sekarang belum mereda." terang polisi itu.
Erick cuma tersenyum, si pelaku bakal sulit kembali normal. Tidak dalam waktu dekat, atau bahkan selamanya. Satu butir sudah memberikan efek yang kuat, apalagi 3 dalam waktu bersamaan.
"Pak polisi, apa kami sudah boleh pulang?" tanya Erick setra merta pada polisi itu.
"Ya, silahkan. Umm ... ini adalah hasil penyelidikannya." Polisi itu juga menyerahkan kertas yang sama pada Erick.
Sebelum benar-benar pergi, Erick menatap Boby sesaat. "Huh, belum bisa kupastikan."
"Kami pulang dulu, Boby."
"Iya, aku juga ingin segera pulang."
.
.
.
"Hari yang berat, benarkan?" ucap Erick memulai topik pembicaraan.
Kini mereka kini ada di dalam taksi, perjalanan kembali ke apartemen.
__ADS_1
"Y-ya." Mina mengangguk kemah. Apa yang telah menimpanya itu memang sulit dilupakan.
"System, kau harus memberikan kompensasi atas ini!" Erick menagih janjinya pada System.
[Ya, Master]
[Sebagai kompensasi, Master dapat membeli 3 item atau keterampilan yang ada di shop secara gratis]
"Kira-kira apa?" batin Erick bingung.
"Mina, Mona. Kalian ingin apa? Sebagai permintaan maaf karena sudah membiarkan kalian dalam bahaya." tawar Erick.
"Aku tak ingin apapun." jawab Mona terdengar tak bersemangat.
"Aku cuma ingin kak Erick selalu ada di sisi kami!" ucap Mina manja, menyandarkan kepalanya di bahu Erick.
"Huh, harusnya berupa barang."
"Tapi, memang tak ada yang kami inginkan selain kak Erick."
Kedua adiknya bermanja-manja, Erick cuma bisa menghela nafas. Tingkah mereka sejatinya memang begitu sejak dulu. Bedanya Mina yang sekarang nampak tak malu, biasanya dia lebih sering malu-malu kucing.
"System, aku ingin penjagaan maksimal pada mereka. Selain keberadaan Rita, aku perlu memberi mereka suatu keterampilan. Tunjukkan item atau keterampilan yang sesuai!"
[Baik, Master]
[Ada beberapa pilihan item yang bisa Master pertimbangkan]
•[Invisible bodyguard]
•[Kutukan]
•[Keterampilan bela diri (semua beladiri yang pernah tercipta sepanjang sejarah manusia)]
"Hmm ... kurang lebih aku mengerti dengan invisible bodyguard dan keterampilan beladiri. Tapi, apa maksudnya dengan kutukan?"
[Setiap ada yang memiliki niat buruk pada pemakai. Maka efeknya tak akan diterima, malah dibalikkan]
[Intinya, jika ada yang ingin menyayat tangannya pemakai. Dia tak akan terluka, si pelaku yang bakal terluka]
__ADS_1
"Hoh? Menarik? Sepertinya aku pilih kutukan saja."
[Pil kutukan X8]