System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 68 : Mulai menyerang


__ADS_3

Erick telah naik kembali ke gubuk sederhana milik kakek Fu. Di sana sudah ada ibunya Ariel yang menyambut, di pangkuan pahanya, anak bungsunya sedang tertidur lupas. Erick memang kembali pada tengah malam.


Rencana untuk meminta bantuan pun sukses, tapi tak sesuai harapan. Pasukan yang dapat dibawa Erick hanya satu orang. Dia adalah sang kepala desa, Ru. Adiknya kakek Fu.


Alih-alih mengerahkan penduduknya, dia malah mengajukan dirinya sendiri. Itu termasuk keputusan buruk. Jika Ru tewas, maka jabatan kepala desa akan kosong. Sedangkan, sistem yang digunakan desa bawah tanah itu adalah garis keturunan. Masalahnya Ru belum menikah dan punya anak.


Penentuan jabatan pasti membuat masalah besar di desa.


"Kenapa Anda sendiri? Setidaknya, jangan remehkan mereka!" pesan Erick. Dia tak meragukan kemampuan Ru. Namun, jika terlalu percaya diri rasanya agak gimana gitu.


"Heh! Mereka sekumpulan keroco. Mudah ditumpas!" kata Ru enteng. Berkacak pinggang memandang sekitar. "Fu, ini gubuk——rumahmu?"


"Aku tak suka nadamu menyebut istana ini. Tapi, yah ... memang benar. Ini rumahku."


Kakek Fu menatap Erick yang berpegang dagu, berpikir.


"Sekarang, terserah dirimu anak muda!? Kau sekarang punya pion super." Fu menyindir Ru. Pria berambut hitam gondrong itu panas kupingnya.


"Sudah malam. Mungkin besok saja." ucap Erick.


"Sudah diputuskan. Kita melakukan serangan fajar." sahut Ru asal memutuskan. "Fu, di mana kamar terbaikmu." Pria itu lantas berkeliling, mencari sesuatu yang bisa dianggap tempat tidur.


Erick cuma menghela nafas. Mungkin dia bosnya, tapi bawahannya itu jauh lebih kuat.


"Tinggal 3 hari lagi saat System berhasil upgrade. Aku tak sabar menantikannya." batin Erick.


Mereka memutuskan untuk melakukan serangan pagi-pagi buta.


.


.


.


Orang pertama yang bangun adalah Ru, dia sudah bersiap-siap. Jubah berbahan rami telah membungkus tubuhnya.


Erick bangun kemudian, sudah melihat Ru yang telah siap sedia. Dia tiba-tiba menerima sebuah pedang.


"Pedang samurai?" gumam Erick menaikkan sebelah alisnya.


"Gunakan katana itu! Sebetulnya itu milik Fu lalu diberikan padaku, dia menerimanya dari seorang samurai di masa lalu. Mungkin sedikit berkarat, tapi sepertinya masih lumayan untuk digunakan." jelas Ru dengan ekspresi serius.

__ADS_1


"Hmm ... saya tak menguasai ilmu pedang, sih. Apa bisa kugunakan? Setidaknya coba dulu!" batin Erick melucuti katana dari sarungnya.


"Berkarat apanya? Masih tetap mulus. Malah keren, bilahnya berwarna hitam dengan alur putih seperti akar."


"Standarmu yang terlalu rendah, anak muda. Menurutku itu sudah berkarat."


Terjadi sedikit perdebatan kecil. Namun, Erick memutuskan untuk mengalah. Jika tidak, maka tak akan pernah selesai.


"Sudah, katanya mau melakukan penyerangan pagi ini?" ucap Erick. Dia mengingatkan Ru.


"Kita pergi berdua. Biarkan saja Fu dan kedua orang biasa itu di sini. Kita tak kekurangan orang!" Ru mulai menunjukkan keangkuhannya.


"Tidak, kita sangat kekurangan orang. Lawan kita mungkin punya banyak personil. Ribuan orang!" beritahu Erick.


"Hoh? Masih meragukan kemampuanku. Tetapi, jika masih belum puas. Kita bisa merekrut penghuni pasar!" Ru memberikan usul


"Yakin mereka bakal menerima pekerjaan untuk menjadi tameng hidup?"


Pria rambut gondrong itu keluar dari rumah Fu begitu saja. Erick langsung mengikutinya. Ru terdengar dari kejauhan sedang berteriak. Meleng sebentar beberapa detik, Ru telah berada di tengah pasar yang sedang sepi-sepinya. Masih terlalu dini hari, para penjual belum bersiap, begitu juga dengan konsumen dan pemasok barang yang belum sampai.


"Bangun lah, orang-orang biasa! Aku punya pekerjaan untuk kalian." teriak Ru yang menggetarkan seisi stasiun bawah tanah itu. Para pedagang dengan mata tertutup sebelah karena mengantuk. Perlahan-lahan keluar dari lapak masing-masing.


"Siapa orang aneh itu?"


Ru mampu mendengar suara bisikan yang datang dari beberapa orang, padahal jaraknya puluhan meter dan sudah termasuk kecil suaranya. Akan tetapi, pria itu sanggup mendengarnya dengan jelas.


"Hoh?! Gembel, ya? Menganggu?" Ru tersenyum dengan mangut-mangut, menelisik jubah dari rami yang terasa kasar jika disentuh.


"Dengarkan perkataan orang hebat ini! Jika tak mau menyesal dengan penawaran yang luar biasa!"


Tak ada yang menggubris perkataan Ru, mereka semua balik kanan kembali masuk ke hunian sederhana milik masing-masing. Mereka salah besar memperlakukan Ru seperti itu.


Bam ....


Ru menghentak lantai, tercipta suatu getaran yang setara dengan gempa. Dari langit-langit berjatuhan puing-puing. Semua orang seketika lari tunggang langgang. Memang sangat berbahaya, apalagi di dalam tanah. Tentu saja takut terkubur.


Ru tersenyum lebar melihat kepanikan semua orang.


"DIAM!" teriak Ru yang membuat semua orang menyumbat telinga saking kerasnya. Perhatian semua orang sudah terebut.


"Nah, bagus. Mau berkerja denganku? Kalian akan mendapatkan harta dan kekuasaan."

__ADS_1


"Kita akan menjarah markas utama Heaven Mafia. Tujuan utamanya adalah menggulingkan mereka!"


Tak ada jawaban, hening. Penghuni pasar gelap itu saling pandang.


"Yap. Terlalu gila! Mereka perlu jaminan bahwa mereka tak akan tewas." batin Erick melirik Ru. Pria gondrong itu mengerti apa yang dibutuhkan sebagai pemicu.


"Yeah! Ayo kita serang mereka!" teriak semua penghuni pasar gelap, serempak mengangkat tangannya tinggi di udara.


"Heh?" Mata Erick mengerjap tak percaya melihat semua orang dengan menggebu-gebu bersiap untuk berperang.


"Kupikir mereka nyalinya ciut duluan?!" gumam Erick tersenyum kecut.


Keributan kecil itu mengundang kakek Fu dan keluarganya Ariel dari tidur lelapnya. "Penyerangannya akan dilakukan sekarang?" tanya kakek Fu. "K-katana itu?" Kakek Fu terkejut melihat sebuah katana yang dipegang Erick.


"Aku memberikannya. Tak boleh?"


"Hahaha ... itu milikmu, jadi terserah mau diapakan." Kakek Fu tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu, keluarganya Ariel menghampiri Erick. Berucap beberapa patah kata, mereka merasa tak ada yang bisa dibantu, kecuali memanjatkan doa untuk keselamatan Erick juga yang lainnya.


"Semoga kalian baik-baik saja dan mendapatkan hasil yang bagus."


"Ya ... pasti. Umm ... dua hari lagi adalah ulang tahunnya Ariel, aku ingin memberikan hadiah yang terbaik untuknya. Tapi, haha ... aku bingung sendiri." Erick tertawa garing memegangi kepalanya.


"Hmmm ... mungkin tak perlu berupa barang. Ariel bukan orang yang suka menerima barang pemberian orang lain. Pemberian dari kami bahkan selalu ditolak. Mungkin Erick bisa ...." ayahnya Ariel mendekat dan berbisik ke telinga Erick.


"Serius?" tanya Erick memastikan tak salah dengar.


"Kenapa tidak?"


"Baiklah."


Ru selesai merekrut anak buah. "Anak muda, ayo kita serang! Kelompok itu? Apaan? Nama ada unsur-unsur surgawi, sangat tak cocok! Aku juga sudah sangat sebal dengan mereka."


Penyerangan dimulai ... tapi, bukan secara diam-diam. Ru mengajak seluruh penghuni pasar gelap menyerang lewat gerbang utama.


"Apa-apaan ini? Dia cuma ingin pamer kekuatan!?" Gumam Erick bersembunyi dengan baik menggunakan jubah kamuflase.


Setelah ledakan bom yang terjadi, pengamanan di markas itu diperketat. Ru tetap tak peduli dan mengerang lewat pintu depan. Yah, setidaknya bisa mengalihkan perhatian, Erick bisa leluasa menyusup.


"Jika atasannya kalah. Bawahnya pasti kocar-kacir."

__ADS_1


Erick telah memang telah ditunggu oleh si ketua Heaven Mafia.


__ADS_2