
"Energiku diserap?" ucap Hebi yang sedikit kaget, makhluk lainnya pun juga mengalami hal yang sama.
"Rubah, s-sebaiknya kita menyingkir dari sini! Atau kau ingin lenyap!?"
"Ya. Bantuan kita hanya sampai segini saja."
Setiap makhluk ghaib menarik mundur dirinya.
Sedangkan, pihak musuh, yaitu Satelia tak bisa menahan senyumnya. Dia sangat antusias mengetahui pertunjukannya akan segera dimulai.
"Nah, harus ditambahin bumbu-bumbu lagi. Ah ya ... aku harus menghubungkan perasaan kalian berdua."
Seolah-olah ada sebuah penghubung, atau Tenka mendapat akses langsung ke ingatan dan perasaan Erick. Wanita itu bisa melihat semua hal yang dilalui oleh Erick selama ini.
Yah, kesemuanya ... walaupun isinya kebanyakan kehidupan Erick yang nampak bahagia. Namun, lebih dari itu ... Erick atau Fandi itu selalu berusaha untuk bisa memperbaiki semuanya, selalu memikirkan nasibnya Anya.
Terlebih perasaan Erick saat ini ... Tenka, yah sekarang dia tak perlu memakai identitas itu lagi.
Anya bisa merasakan kesungguhan dari Erick.
"System, barrier itu tak biasa dihancurkan, tapi kau tak bilang tak bisa diserap, 'kan? Penghalang itu cuma sekumpulan energi ... yah, katana ini pasti bisa menyerapnya!?"
[Masalahnya adalah tubuh Master. Untuk saat ini menampung energi sebanyak ...]
"Masa bodohlah! Aku tak peduli! Aku ...." Saat inilah tangan Erick gemetar. Bukan karena energi yang dia serap semakin besar. Tapi ...."
[Saya adalah System, dari awalnya saya dibuat untuk menjadi asisten Master, memastikan Anda mencapai seluruh tujuan Anda]
"System?"
[Saya pada dasarnya tidak memiliki perasaan. Akan tetapi .... saya merasa ... tidak perlu dilanjutkan]
[Ada banyak orang yang menyayangi Master. Dan Anda sudah berjanji untuk mengakhiri ini dengan happy ending]
[Ini adalah salah satu fitur System jika terjadi hal seperti ini. Intinya Master tidak perlu cemas. Saya jamin, ini akan menjadi happy ... setidaknya untuk Anda]
"S-system?" Erick hampir tak mampu berkata-kata.
Deg ...
Sedikit informasi memenuhi kepala Erick. Informasi yang sangat berharga.
Lalu, intensitas energi yang diserap katana melonjak dengan cepat, kesolidan Absolute Barrier mulai goyah. Lalu, pada puncaknya ....
"Huek ...!?" Erick hampir muntah, namun berhasil ditahan.
Energi Spiritual yang dikandung dalam tubuhnya sudah di luar nalar. Katana itu mulai menyerap secara gila-gilaan.
"Awas saja! Aku tak peduli kau Dewa atau apa? Tapi, kau sudah cukup jauh mengusikku!" ucap Erick mengangkat pedangnya ke atas.
Sejumlah aura berwarna emas tercipta dan memancar sampai menembus langit.
"Terbelahlah!"
Slash ...
Tebasan harizontal atau mendatar diayunkan dengan cepat, aura itu memotong apapun yang dikenainya, kecuali Satelia dan Anya sendiri.
Seluruh gedung terbelah, semuanya berguguran jatuh, bising memenuhi telinga.
"Woah, ini baru hebat, 'bukan? Jika sesuai dengan trek ... kemampuanmu bisa setingkat ini. System level 5 bisa memberimu kekuatan minimal level planet.
Tapi, dengan System yang baru level 3 dan memaksa untuk dapat menampung energi yang setara dengan Bumi itu sendiri. Hahaha ... overdrive, 'kah? System-mu akan langsung lenyap!" ucap Satelia panjang lebar. Dia berusaha menantang Erick agar menyerangnya dengan sekuat tenaga.
Semua rambut Erick berdiri tegak, bola matanya menjadi emas, sorotnya sangat tajam menatap Satelia.
"Fandi?" Anya hanya bisa menitihkan air mata saat melihat keadaan Erick.
"Yap, ayo duel pedang saja." Satelia membuat sebuah pedang dengan bilah berwarna ungu dengan ukiran merah. "Nah, seranglah!"
__ADS_1
Swosshhh ...
Satu tendangan pada tanah, Erick sudah bergerak tepat di depan Satelia. Namun, sebuah gerbang mendadak muncul dan menganga di depannya.
Tentu Erick langsung masuk ke dalamnya.
"Nah, ayo berduel di sana saja!" Satelia menghilangkan dirinya. Sekarang tinggal Anya sendiri, terikat di sebuah tiang besi dan keadaan kota yang porak-poranda.
Wanita itu hanya bisa mendoakan keselamatan Erick.
.
.
.
.
"Inilah dunia ciptaanku, Erick! Gimana, tolong nilai!" gurau Satelia yang cuma ditanggapi decihan Erick.
"Siapa peduli!?" Pria itu hanya terfokus untuk membunuh Satelia.
Tak peduli dia berada di dunia lain, masa bodoh dengan kawasan gurun bertanah merah serta langit yang tak berwarna biru.
"Aku harus bisa mengalahkannya!?" batin Erick semakin kuat menggenggam katananya.
"Ayo mulai!"
Satu kedipan mata dan Satelia menghilang dari pandangan.
Trangg ...
Memang benar berhasil ditangkis, tapi Erick terseret dari pijakannya sekitar puluhan meter.
"Kuberitahu .... semakin lama bertarung, maka energi di dalam tubuhmu akan terkikis dan kemudian berangsur-angsur habis, masalahnya waktu. Tanpa adanya System, kau bisa apa? Hanya mengandalkan katana itu?" cibir Satelia.
Meski begitu, Satelia masih was-was dengan katana yang dipegang Erick. Dia sangat berhati-hati.
Trangg ... Trang ... Trang ...
Pertarungan berjalan sengit, adu pedang yang mengubah landscapes kerap terjadi. Tanah dalam radius puluhan kilometer terbelah, gunung-gunung kecil pun ikut terpotong.
Pertarungan mereka bisa mengubah rupa dunia ciptaan Satelia.
"Masih, bisa bertahan, 'kah?" ucap Satelia yang wajahnya nampak tegang.
Duel pedang berjalan alot, adapun tak ada yang bisa dijadikan tempat berpijak karena hancur oleh pertarungan mereka berdua. Kini terpaksa terbang di langit.
Sementara itu, Erick masih nampak kikuk mengendalikan laju terbangnya.
"S-siapa, ini tak akan ada habisnya. Aku pasti akan kalah, aku tak bisa!" Erick mulai merasa pesimis. Lawannya masih nampak belum serius.
"System, apa kau punya ide ...." Erick tertunduk lesu.
System sudah tak ada.
"Yah, takdirnya kau tak mungkin bisa mengalahkanku. Itu berarti ... kau harus bye-bye pada Tuan Putrimu .... huh, diamlah ... kau akan segera aku eksekusi. Subjek nomor 643 ... gagal."
Jleb ...
Pedang milik Satelia menusuk telak di perut Erick. Kemampuannya untuk terbang pun hilang, pria itu jatuh dari ketinggian. Namun, Satelia menciptakan sebuah gerbang dan mengirim Erick keluar dari dunianya.
"Harus buat lebih dramatis."
"Uhuk ... uhuk ..." Erick muncul di hadapan Anya melalui sebuah gerbang, apalagi dengan muntah darah.
"Nah, Tuan Putri ... pangeranmu sudah K.O. Kita lihat, bagaimana nasib kalian berdua."
Satelia melepaskannya Anya, wanita itu langsung terjun bebas dari ketinggalan belasan meter, dengan sisa tenaga yang ada ... Erick bergerak untuk menjadi bantalan pendaratan.
__ADS_1
"F-fandi ... apa-apaan kamu ini? Kenapa berbuat sampai sejauh ini? Aku sudah tak peduli padamu, aku membuang hidupmu jauh-jauh."
"S-s-siapa b-ilang ini u-untuk dirimu? A-aku melakukan ini untuk kepuasan diriku sendiri. A-aku harus bisa menolongmu kali ini ... jika tidak, aku tak akan pernah ... uhuk, pernah tenang?!"
"Apa?" Anya sudah banjir air mata. Dia menopang kepala Erick dengan pahanya.
Satelia cuma menjadi penonton, lagipula tujuannya hanya untuk membuat semuanya lebih menarik.
[Satelia ... bagaimana kerjamu? Tak ada perubahan! Hanya bertambah sedikit]
Panel System muncul di hadapan wanita itu. Mata Satelia berkedut.
"Ahh ... diamlah! Aku sudah bekerja keras! Persetan dengan kepuasan penonton.
Di sisi lainnya, Satelia tak mengetahui sesuatu yang telah dilakukan Erick. Kartu As miliknya, yang selalu wanita itu cemaskan.
Katana penyerap segalanya!
Erick tak membawanya!
Di saat-saat terakhir, System memberikan sedikit informasi tentang katana itu dan Satelia. Sudah bisa diakses, karena System melakukan overdrive.
Erick mendadak tersenyum.
"A-apa ....?"
Satelia mulai merasakan keanehan.
"Energiku? Aku tak bisa mempertahankan kesadaran di tubuh ini? Kenapa?" Dia melebarkan matanya, menatap Erick yang tersenyum.
"Dia tak tahu cara mengaktifkan katana itu! Tak mungkin! Lagian, di mana benda itu——sialan!" Satelia bergerak menuju Erick berusaha membunuhnya.
Buaagh ...
Lita dan Rita tiba-tiba datang dan langsung memukul Satelia mundur.
"K-kalian tak menghilang?" ucap Erick kebingungan, melihat keberadaan dari kedua wanita itu.
"Ugh ... kau? Bagaimana caranya kau bisa tahu tentang item itu, semua Informasinya diblokir? Kau bahkan sengaja meninggalkan di dunia itu?" erang Satelia.
"O-overdrive. Kau pikir untuk apa aku sampai harus memamerkan ... uhuk, tebasan yang membuat kota ini menjadi reruntuhan. Ugh, aku sepertinya sudah membelah puncak Himalaya?!"
"Kau sudah tau bahwa aku akan membawamu ke dunia ciptaanku?"
"Yap, System memberikan sedikit informasi tentangmu. Aku sudah memahami secuil perangaimu, kau tak suka bertarung di tempat yang sempit apalagi level pertarungan sudah mencapai level kota. Kau membutuhkan ruang lingkup yang luas!" Erick berusaha berdiri dan merekahkan senyum kemenangan.
"Kau terhubung dengan duniamu, inti hidupmu ada di sana! Tinggal menunggu waktu, sampai kau lenyap dari peredaran!"
"Aku tak mungkin mati!" batin Satelia.
Dia kabur ke tubuh aslinya pun percuma. Uang diserang adalah core dari nyawanya. Tak peduli berapa tubuh yang dimiliki. Adapun, dia tak bisa mengambil katananya yang sedang menjadi black hole itu.
Namun, dia mendadak tertawa ....
"Hahahaha ... kau pikir item itu cukup untuk menelanku? Aku itu Dewa, tak bisa dibandingkan dengan semesta rendahanmu ini. Katana itu akan overload dan hancur. Seluruh energi yang diserapnya akan tersebar, sebagian kecil kekuatanku akan tumpah ke dunia ini!
Jangan pikir itu akan menyenangkan! Seluruh penghuninya pun begitu ... makhluk-makhluk yang di luar imajinasi manusia juga akan tumpah! Itu adalah kiamat untuk duniamu!"
"Kita lihat saja nanti." Erick tak gentar sedikitpun.
"Hmm ... baiklah, lihat saja. Aku akan mengambil kekuatanku lagi!" Tubuh Uzen langsung tergeletak. Ciri fisik dari Satelia telah menghilang.
Yap, kemenangan yang disertai kekalahan dunianya.
Erick langsung terkapar. "Nah, ini harusnya sudah fajar dan matahari terbit menandai akhir perjuangan ini!"
"Apa yang kamu katakan? Jangan buang-buang tenagamu!" Anya masih menangis, memeluk Erick dengan erat.
"Master, sepertinya sudah dimulai!?"
__ADS_1
Kabut perlahan-lahan muncul kembali dan menutupi seluruh dunia.
Awal dari era baru dimulai!