System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 70 : Bukan katana biasa


__ADS_3

"Oh, tidak. Persenjataanku tinggal beberapa jarum dan granat cahaya. Punya katana, tapi tak bisa memakainya. Buruknya, aku baru sampai di lantai 6." keluh Erick yang bersembunyi di sebuah toilet.


Sampai batas ini dia belum ketahuan, seluruh penghuni lantai 6 telah dihabisi. Tapi, tinggal menunggu waktu sampai ratusan orang akan mengisi penuh lantai itu. Terlebih ada seseorang yang memiliki kemampuan untuk bisa selalu mengetahui lokasinya meskipun menggunakan jubah kamuflase.


"Kuharap Ru cepat menyelesaikan urusannya di bawah. Dia tak boleh lupa kalau tugasnya adalah membantuku."


Bruakkk ...


Erick bersembunyi di salah satu bilik toilet terkejut mendengar ada yang menghancurkan pintu. Dia semakin giat dalam menyembunyikan hawa kehadiran. Yah, tapi sadar tindakannya percuma, Erick lantas bersiap dengan katana yang tak mahir digunakannya.


"Anak muda?" teriak pendatang itu kencang. Ternyata dia adalah Ru.


Erick pun menghela nafas lega, kemudian keluar dari persembunyian.


"Anda membuatku jantungan!" ucap Erick tersenyum canggung.


Suatu hal hebat Ru tak kesulitan menemukan keberadaan Erick.


"Hebat juga kau ... mengatasi hal ini sendirian! Apa kau terluka?" puji Ru dia tentunya melihat jejak pembunuhan yang dilakukan Erick. Kebanyakan menggunakan jarum yang menancap di leher.


"Saya menggunakan cara pengecut dan licik. Bersembunyi dan tusuk!"


"Itu termasuk strategi perang. Di medan perang ... semua metode boleh dilakukan asal hasil akhirnya adalah kemenangan." ucap Ru.


Mereka berdua lantas keluar dari toilet dengan percaya diri, tak ada rasa-rasa gentar. Terlebih Erick.


Setiap orang yang datang mudah diatasi oleh Ru, jadi Erick terima bersih berlindung di balik Ru. Tak peduli berapa orang yang muncul, Ru mudah mengatasinya. Ilmu bela diri pria itu sangat tinggi.


"Di mana para penghuni pasar gelap?" tanya Erick yang penasaran kemana perginya semua pasukan yang dibawa Ru.


"Aku membebaskan mereka untuk berkeliling lantai bawah. 5 lantai yang telah ditaklukkan. Sekarang lantai ini!" beritahu Ru dengan santai.


Mereka berjalan berdua santai, malah terlampau santai. Niatnya memprovokasi pihak musuh. Tapi, kenyataannya musuh juga ikutan santai dalam menyikapinya.


"Anak muda, lepas saja jubahmu! Tak berguna, di pihak mereka ada seseorang yang punya penglihatan bagus!"


"Saya terlanjur memakainya, jadi ... pakai saja, entah berefek atau tidak." balas Erick.


Erick dan Ru sudah setengah perjalanan, setengah lantai dari keseluruhan lantai di gedung itu telah ditaklukkan. Terasa sangat gampang, tanpa tantangan yang berarti.


"Apa-apaan ini? Kenapa yang muncul dari tadi keroco semua? Di mana orang-orang berkemampuan itu? Tak mungkin selamanya disimpan. Mereka akan hancur di sini!" batin Erick. Dia mulai berpikiran bahwa para petinggi dari Heaven Mafia telah melarikan diri.


Namun, jika benar melakukan Itu. Mau di mana muka mereka ditaruh? Itu adalah sebuah penghinaan.


"Semoga saja mereka tak kabur. Aku malas melacak keberadaan mereka!" batin Erick.

__ADS_1


Slash ... prangg ...


Sebuah lemparan pisau menyasar Erick dan Ru dari belakang. Tapi, pelindung tak kasat mata menghempas pisau itu. Ru menoleh dengan jengah.


"Cuma satu orang? Apakah dia tak cukup nekat? Huh, baiklah ... anak muda, atasi dia!" ucap Ru mengajukan Erick.


"Hah?"


Tak berselang lama, muncul seseorang dari arah belakang. Tentu saja, Erick bertanya-tanya, muncul dari mana? Lantai bawah? Yah, sungguh tak mungkin.


Lemparan pisau tiba lagi, kali ini Erick bersiaga, jadi dengan mudah mampu menghindar. Ru langsung pergi ke tepi untuk duduk-duduk.


"Hahaha ... aku akan menangkapmu, target. Lalu Master akan mengangkatku jadi tangan kanannya." Pria itu ngoceh nggak jelas. Akan tetapi Erick tetap waspada.


"Dia maniak pisau!" komentar Erick dalam hati.


Seorang pria dengan wajah yang penuh dengan luka gores benda tajam, sangat berbekas. Seolah-olah mukanya adalah tembok dengan coretan anak kecil saking banyaknya luka.


Pria itu memainkan dua pisau dengan sangat lihai, terlebih ada banyak pisau lain yang terselip di gesper yang dikenakannya.


Erick sendiri mengeluarkan katana yang selalu disandang di sebalik punggungnya. Sebentar lagi akan terjadi pertarungan dua senjata.


"Terpaksa. Meski bukan keahlianku memakai pedang seperti katana ini!"


Si maniak pisau mulai melemparkan pisau-pisaunya, kali ini melesat sangat cepat. Erick bahkan tak sanggup bereaksi. Namun ....


Erick merasakan perasaan aneh yang muncul dari katana yang digenggamnya.


Trangg ...


Secara mengejutkan Erick menangkis serangan itu dengan katananya. Si maniak pisau lantas terkejut dan bergegas menghujani lawannya dengan pisau lain. Namun, Erick selalu berhasil menangkis dengan setiap ayunan bilah katananya. Dia sendiri pun bingung, tangannya bergerak sendiri Katana berbilah hitam itu seolah yang menggerakkannya.


Ru yang melihatnya lantas membelalak. " Kata si kakak sialan itu pedang itu memang istimewa. Tapi, kenapa sewaktu aku memakainya katana itu tak ada bedanya dengan sebatang kayu. Aku tak disukai oleh benda mati itu, 'kah?" Ru berdecih.


Si maniak pisau telah menghabiskan semua pisaunya, hanya tersisa satu yang ada di genggamannya. Jadi, dia berniat kabur. Melihat kemampuan berpedang Erick sudah membuatnya ciut.


Erick yang mengetahuinya lantas menguatkan kuda-kuda pada kaki, menggenggam erat katana dengan kedua tangan.


Ru membulatkan matanya lebar-lebar. Dia merasakan energi besar teralir pada bilah katana yang dipegang Erick. Bilah yang awalnya berwarna hitam terus berubah menjadi putih, sebaliknya alur putih pada katananya berubah menggelap.


Erick mengayunkan katana itu secara harizontal ....


Swoosh ... Slash ...


Timbul angin yang sangat besar, Erick sendiri pun sampai terhempas ke belakang.

__ADS_1


"Yap, aku tak dianggap istimewa oleh pedang sialan itu! Bisa-bisanya bekas tebasannya sampai membelah logam dan beton. Kenapa saat aku memakainya, batu pun tak bisa terbelah? Apalagi bisa mengalirkan energi spiritual sendiri ... pedang itu hidup, 'kah?" Ru semakin kesal, ketika melihat dampak tebasan yang dilakukan Erick.


Semuanya terbelah, gedung itu mempunyai lubang menganga yang panjang akibat sebuah tebasan pedang.


"Eh? Aku yang melakukan ini?" kejut Erick menyaksikan bekas tebasan pada gedung itu. Sementara itu, si maniak pisau itu diketahui telah terbelah menjadi 2 bagian.


"Lantas siapa lagi? Kau dan pedangmu!"


Erick dan Ru pun melanjutkan perjalanannya ke lantai yang lebih tinggi. Setelahnya tak ada halangan yang berarti. Mulus sampai ke lantai teratas.


Mereka berdua telah berada di hadapan sebuah ruangan yang diguga terdapat bos dari Heaven Mafia, beserta para petinggi-petingginya.


"Anak muda, kita akhiri ini!" ucap Ru, bersiap dengan tinjunya yang teraliri tenaga.


Boam ...


Pintunya hancur berkeping-keping. Penghuni di dalam tetap tenang, terlebih pria dengan kaos oblong tidak menaikkan kakinya ke atas meja. Si bos menyeringai ke arah Erick dan Ru.


Pok ... pok ... pok ...


Si bos bangkit dari kursinya dan bertepuk tangan dengan meriah. "Setelah berhasil sampai sini, terus apa yang ingin kalian lakukan?"


"Tentu saja membunuhmu. Hal seperti itu, perlu ditanyakan?" ucap Erick mengerutkan dahi.


"Anak muda!" seru Ru mengingatkan. Pasalnya dari belakang muncul beberapa orang yang entah darimana.


Slash ...


Erick melakukan tebasan berputar, tak peduli di sebelahnya ada Ru.


Semua benda terpotong, lantai paling tinggi di gedung itu terbelah. Langit-langit siap menimpa semua orang akibat hilang penyangganya.


"Anak muda, aku tau kau cuma pamer." ucap Ru mengangkat tangannya.


Boam ...


Reruntuhan yang hampir berjatuhan terhempas ke atas dan hancur berkeping-keping. Jadilah, roof top dadakan. Orang yang tersisa cuma beberapa orang.


Kaos yang dikenakan ketua Heaven Mafia terpotong, bagian perutnya pun terlihat. Sedangkan, dirinya baik-baik saja, tak seperti beberapa anak buahnya yang bernasib mengenaskan.


Erick memerhatikan beberapa helikopter yang terbang mengelilingi sekitar area gedung.


"Sedang ada siaran langsung. Semua orang pasti sedang menontonnya." gumam Erick. Dia semakin terpacu untuk terlihat keren. Keluarganya dan Ariel pasti sedang harap-harap cemas.


"Kita akhiri saja di sini, disaksikan seluruh negeri."

__ADS_1


Di sisi lainnya, Erick menyesali jadi orang terkenal. "Yah, jadi orang terkenal deh."


__ADS_2