System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 78 : Makhluk kuat


__ADS_3

"Sial! Kenapa mereka jadi sangat kuat?"


Erick mengajak Mina berlari menyusuri koridor lantai 3. Mereka sekarang dikejar-kejar oleh sekelompok anjing yang besarnya seperti banteng.


"Kak Erick, anjing-anjing itu!" Mina panik. Dia terus melihat ke belakang. Anjing-anjing itu mengerikan, seperti anjing-anjing zombie.


Wujud mereka memang kebanyakan begitu.


"Sudahlah, jangan terus melihat ke belakang!" pesan Erick, dia menarik tangan Mina dengan kuat.


Sayangnya bukan hanya di belakang yang menjadi pengejar. Di depannya muncul sesuatu seperti ekor besar bersisik yang siap menghempas Erick dan Mina. Tak ingin tersapu oleh ekor itu, Erick secara reflek terjun dari lantai 3.


Slash ... brakkk ...


Erick tak mendarat dengan mulus, dia sempat terguling-guling bersama Mina.


"Uhuk ... uhuk ... k-kak, b-bukannya ini terlalu berlebihan?" Mina terbatuk-batuk. Wajahnya sudah terlanjur pucat menyaksikan kondisi apartemen yang terkena sabetan ekor raksasa. "Tadi itu monster?!"


"Ya, aku tau ini berlebihan. Sebaiknya diakhiri saja. Eh? Kamu bersama Mona di lantai 3, 'kan? Kemana dia?" Erick kalang kabut sebab sudah melupakan keberadaan adiknya yang satu lagi.


"Kami berpisah. Kukira malah Mona sudah kabur ke lantai bawah atau menyusul kak Erick." balas Mina yang nafasnya masih terengah-engah.


"Aku tak kabur, Mina! Siapa juga yang mau kabur dari makhluk merayap seperti itu!" Mona menunjukkan batang hidungnya dari persembunyian. Dia sudah dari tadi berada di luar gedung.


"Lha? Nyatanya di sini?! Main ninggalin lagi!" cibir Mina menatap sinis.


"Mona, kamu terluka?" ucap Erick camas, dia melihat pipi sebelah kanan dari adiknya membiru.


"Oh, ini ... aku baru dihantam oleh seorang raksasa yang membawa gada. Yah, sakit sih."


"Cih, lukamu bukan hanya itu, 'kan?"


Tepat setelah Erick mengatakan itu, tubuh Mona lunglai hendak jatuh. Erick dengan sigap menangkapnya.


"Kak, i-ini sakit!" Mona langsung menangis. Tubuhnya pasti dihantam oleh serangan yang parah.


"Iya, iya. Jika sakit ... bilang. Jangan sok kuat!" Erick mengeluarkan sebuah pil berwarna hijau dan menyuruh Mona untuk menelannya.


Setelah menelan itu, Mona menjadi lebih baik, dia tak lagi kesakitan.


"Mina, jaga adikmu! Akan kuberi pelajaran para makhluk ghaib sialan itu!"


"Tapi, kak ...."


Erick menghiraukannya. Dia berlari dengan kecepatan penuh menuju ke gedung apartemen. Tapi, saat dia hendak masuk, sekelompok orang sudah keburu keluar.


Mereka adalah seluruh penghuni dari apartemen. Seperti Mina-Mona, mereka juga mengalami luka. Namun, tak separah Mona. Erick langsung memberikan pil yang sama dengan yang diberikan pada Mona.

__ADS_1


"Kalian, tunggu di luar! Aku yang akan mengatasi last boss-nya!"


"Erick, hati-hati!"


"Ya."


Erick langsung melompat ke lantai 2. Katana mainannya dibuang dan diganti dengan katana sungguhan.


"Mereka tiba-tiba jadi kuat begini. Menyebalkan, mengganggu kesenangan. Akan kumurnikan tempat ini!"


Boam!


Ledakan setara beberapa TNT muncul di dekat Erick. Pria itu baik-baik saja, serangan semacam itu tak akan memberikan efek berarti.


Gedung apartemen milik Rinka berlubang. Sang pemilik rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya, warisan dari orang tuanya itu terancam hancur.


"Yah, aku harus menanggung semua biaya perbaikan gedung ini!"


[Hati-hati, Master. Makhluk-makhluk kuat bermunculan]


Roarrraaghhh ....


Dari sebalik asap yang masih membumbung, terlihat siluet raksasa. Tak berselang lama, ruangan keras yang memekakkan telinga muncul. Seluruh kaca di gedung itu retak bahkan ada yang langsung pecah.


Siluet itu terlihat. Rupanya dia adalah makhluk berwujud anjing. Yah, makhluk itu yang mengajar Erick dan Mina belum lama ini. Bedanya adalah mereka menyatu, memperbesar tubuh, menjadi anjing berkepala sembilan yang matanya berwarna merah menyala, nafasnya mampu melelehkan logam.


Anjing zombi berkepala sembilan itu di masing-masing leher terikat sulur-sulur.


Sulur itu membentuk tali dan yang memegang tali itu tak lain adalah raksasa. Mona benar menjabarkannya, pria dengan badan penuh belatung memiliki tinggi 3 meter. Jangan lupakan gada yang terbuat dari tulang.


Itu yang namanya mengerikan. Jika Erick memiliki mental yang lemah ... sudah pasti dia akan kabur atau bahkan pingsan seketika.


"Dia sudah melukai Mona. Tak akan kumaafkan."


(Manusia! Inilah akibatnya menganggu kehidupan kami)


"Kalian dulu yang menganggu kehidupan kami!"


Tak mau berbasa-basi, Erick langsung menyerang raksasa itu.


"Sampai bisa menunjukkan eksistensi ke tahap ini! Makhluk-makhluk itu pasti sangat kuat. Rata-rata cuma mampu menggerakkan benda-benda."


Trang ...


Benturan dua senjata terjadi yang menimbulkan bunyi metalik.


Si raksasa menahan tebasan vertikal dari Erick mengunakan gadanya.

__ADS_1


(Berbeda dengan katana mainan tadi. Senjatamu itu bisa menyerap energi spiritual dalam jumlah besar)


Salah satu kepala anjing ada yang memanjang dan berniat menerkam Erick. Pria itu cepat-cepat menjauh dari makhluk bertubuh besar dengan peliharaannya.


"Katana ini padahal yang sudah mempecundangi Ceres." keluh Erick geleng-geleng kepala.


Anjing berkepala sembilan itu terpecah, masing-masing kepala membentuk tubuh masing-masing dan mengeroyok Erick dari segala arah.


"Cih, serius?"


Erick menarik nafas dalam-dalam. Dia pun menggenggam katananya dengan kuat.


"System, copy katana ini menjadi ratusan!"


Copy, salah satu fitur baru dari System v.3. Bisa meniru benda apapun secara persis.


Katana yang katanya sangat hebat menurut Ru atau kakek Fu malah seperti benda receh bagi Erick.


Jleb ... jleb ... jleb ...


Puluhan lubang dimensi muncul dan dari sana muncul katana yang sama. Seketika menghujani para anjing itu tanpa ampun. Mereka semua seketika tak punya tenaga.


"Peliharaanmu sudah kalah! Sekarang jadi adil!"


(Kau punya kekuatan yang berbeda, manusia!?)


"Berbeda atau apapun itu, kau tak mungkin mengerti. Jadi, aku akhiri saja! Aku sudah cuku muak! Jangan sok berkuasa! Di mata Tuhan, derajat bangsamu masih di bawah manusia!"


Erick menodongkan katananya, puluhan lubang-lubang dimensi muncul lagi. Siluet sebuah katana sudah bersiap untuk melesat.


Makhluk ter-skakmat oleh Erick. Dia tak berkutik.


"Huh, baiklah. Kukira kau punya kata-kata terakhir."


Tepat sebelum Erick bisa mengerahkan seluruh katana. Ekor bersisik yang besar muncul dari lantai bawah dan bersiap menyapu seluruh lantai 2.


Erick melompat dan melakukan salto ke belakang. Dia sukses menghindari sabetan ekor itu. Namun, bahaya sebenarnya bukan itu.


Reruntuhan.


Huh, gedung apartemen itu hampir bisa dikatakan runtuh. Pilar-pilar penyangganya sudah hancur.


"Huh, sial."


Brakkk ... brakkk ... boammm!


Setengah dari apartemennya roboh, suara keributannya mengundang orang-orang untuk mendekat. Erick perlu siap-siap terhadap argumentasinya.

__ADS_1


__ADS_2