System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 25 : Kemenangan mudah


__ADS_3

Erick saat ini berhadapan dengan Rosi dan kawan-kawannya yang kurang lebih berjumlah 8 orang. Mereka mengepung Rosi dari segala arah, tak memberi celah sedikitpun baginya untuk melarikan diri.


Di sisi lain tindakan mencolok itu menarik perhatian mahasiswa lain. Tak terkecuali Karamel yang kebetulan terbebas dari belenggu Reka. Disiksa oleh rasa penasaran yang persis menimpa mahasiswa lain, Karamel beranjak mendekati kerumunan didekatnya.


"Oh, ternyata dia? Aku agak merasa aneh jika melihatnya ... rasanya familiar. Padahal aku belum pernah bertemu dengan laki-laki itu." batin Karamel. Menonton Erick yang kini dikepung oleh 8 orang. Pada pandangan umum ... memang kecil peluang untuk menang.


Itu bagi orang lain. Bagi Erick 8 orang itu tak ada apa-apanya.


[Master, apa perlu mengaktifkan pembaca suara hati dan pikiran]


"Tak perlu. Kecepatan reaksiku seharusnya cukup."


Erick sendiri hanya berdiri diam dan menatap lurus ke arah Rosi, tenang tanpa rasa gentar. Bahkan sesekali menebar senyuman mengejek. Tatapannya Erick pun terasa begitu dingin dan merendahkan.


Rosi menggertakkan giginya dengan penuh kekesalan. Dia adalah yang jadi pemangsa saat ini, tatapan itu, baginya seperti seekor singa yang diejek oleh seekor rusa. "Sialan, serang dia!"


"D-dia berbahaya!" batin Rosi, yang mana dia mulai mengucurkan keringat dingin


Mengikuti perintah dari sang bos, mereka berdelapan berlari menerjang ke arah Erick. Curang? Keroyokan? Siapa peduli! Mereka adalah sekumpulan hyena yang tak kenal belas kasih.


"Huh ... dasar orang-orang keras kepala!"


Pukulan demi pukulan, serangan demi serangan. Erick begitu lihai mengelak dari serbuan frontal mereka. Rosi dibuat kesal, para anak buahnya dipermainkan. Sedang para penonton berdecak kagum akibat pertunjukan akrobatik yang ditunjukkan Erick.


Erick malah seperti menari. Dia menghindar dengan indah.


"Ah, ada 500 perak!?" ucap Erick berjongkok cukup dalam. Itu bersamaan dengan dua serangan yang mengincar dari dua arah berlawanan.


Buaaghh ....


Mereka tertonjok masing-masing oleh pukulan rekannya sendiri.

__ADS_1


"Lho, kenapa?" ucap Erick dengan nada mengejek. Dia mengulurkan tangannya pada salah seorang yang tersungkur itu.


"Ah, sorry. Tanganku kotor." Erick menarik lagi tangannya. Orang yang sudah sangat berharap, alhasil terjungkal ke belakang. "Maaf, sekarang——"


Bagaikan memiliki indera pendeteksi bahaya seperti miliknya si manusia laba-laba, Erick sadar ada orang yang hendak menyerang dari belakang. Dia reflek melompat, melakukan back flip. Gerakan yang indah. Mendarat mulus dan langsung menjorokkan hingga terjatuh.


Dua orang lainnya sudah berhasil mendekati Erick, namun ditangkap pukulan salah satunya, kemudian melakukan gerakan bantingan ke arah yang lainnya. Kedua orang itu bertabrakan hingga terjatuh.


Segerombolan yang lain datang, Erick menjadikan tubuh salah seorang yang sudah dibanting sebagai tameng.


"Apa-apaan kalian ini?" ucap Erick berakting kaget. "Kalian ngos-ngosan? Padahal perkelahiannya belum dimulai! Aku baru pemanasan."


Semua orang lantas menertawakan akting sikap polos yang ditunjukkan Erick.


"Kenapa kalian sebodoh itu? Cepat serang dia! Jangan bertingkah seperti idiot!" maki Rosi pada anak-anak buahnya, yang hampir seluruhnya terkapar akibat ulah sendiri.


Rosi menatap tajam Erick. Kini cuma mereka yang masih berdiri.


"A-ku tak mungkin bisa menang!" pikir Rosi. Dia dilema, tak memiliki kepercayaan diri.


Melawan dan kalah atau kabur dan kalah. Lebih memalukan pilihan untuk kedua, Rosi sadar akan hal itu. Jadi ....


"Saat ini kau bisa tertawa bedebah! Tapi ke depannya ... kau pasti bakal terjerit tangis!" ucap Rosi menunjuk-nunjuk Erick, terus melarikan diri. Para anak buah atau temannya itu ditelantarkan.


"Hah!" Erick seketika mengembuskan napas, dia sedikit mengelap keringat di dahi. Tatapan dari semua orang yang masih belum pergi.


"Maaf, atas keributan yang kami timbulkan." ujar Erick sopan. Dia kemudian sedikit mendapat sorak tepuk tangan. Berbeda dengan Rosi yang menerima teriakan "Booo."


Kerumunan mulai membubarkan diri. Di waktu itulah, Erick melihat Karamel. Mereka tertaut pandang untuk sesaat.


"Aku benar-benar merasa pernah bertemu dengannya. Tapi, di mana?" batin Karamel yang kebingungan. Sosok Erick baginya terasa familiar.

__ADS_1


Erick tiba-tiba mendekati Karamel, dia mengulurkan tangan seraya tersenyum. Karamel pun agak terkejut bahwa Erick ingin berkenalan dengannya.


Karamel dengan canggung menerima uluran tangannya Erick.


"Aku Erick. Mahasiswa yang masuknya telat."


"Aku Karamel. Mahasiswi dari fakultas kedokteran, semester 4. Senang berkenalan denganmu Erick." ucap Karamel dengan canggung. "Maaf, atas sikap temanku pada tempo hari. Aku pastikan, dia tak akan menyakitimu."


"Ah. Tak perlu dipikirkan. Lagipula aku tak takut padanya. Kau melihat bagaimana aku mengatasi mereka?"


Karamel mengangguk mantap. "Ya. Aku tau kau hebat. Tapi, kau tetap hati-hati. Temanku——Reka, berbeda dengan orang yang barusan kau pecundangi. Reka itu akan melakukan apapun terhadap orang yang sudah main api padanya. Bakal dicari sampai dapat dan menyiksanya habis-habisan." beritahu Karamel yang seolah-olah menceritakan cerita horor.


"Oh, begitu? Terima kasih peringatannya. Ke depannya aku bakal waspada."


"Ya. Harusnya memang begitu." Setelah mengatakannya, mata Karamel jelalatan kemana-mana. Nampak sedikit takut untuk berucap kata selanjutnya. "Umm ... maaf. Tapi, aku harus segera pergi."


"Oh, ya. Silahkan. Maaf sudah menghambamu di sini."


Karamel pun berlalu pergi. Erick untuk sesaat terus menatap punggungnya yang kian mengecil pada bidang pandangnya.


"Aku memang pernah mengatakan pada diri sendiri bahwa bakal membantunya apabila bertemu lagi. Yah, dan kami memang bertemu. Meski dia tak mengenaliku karena penampilan yang berubah drastis." batin Erick berjalan menuju salah satu gedung di universitas itu. "Tapi, aku tengah memprioritaskan masalahku sendiri. Jadi, Karamel tak bisa kubantu dalam waktu dekat."


[Misi berhasil diselesaikan]


[Selamat, Master mendapatkan ???]


"Hmm ... apa hadiahnya?"


[Master ingin mengetahuinya sekarang?]


"Kalau gitu nanti saja."

__ADS_1


__ADS_2