System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 62 : Menyusup


__ADS_3

Pukul 4 pagi ....


Setelah menyelesaikan urusannya di pasar gelap, Erick pergi mencari tempat bermalam. Akan ada hari besar besok, dia perlu mempersiapkannya matang-matang. Selain itu juga mesti stirahat yang cukup. Namun, sayang Erick cuma bisa tidur selama dua jam.


Susah rasanya untuk tidur seperti kebo, dan di saat yang bersamaan besok kau bisa saja meregang nyawa. Itu yang Erick rasakan. Ketegangan, sulit mengendurkan bahu.


Adapun informasi tentang Heaven Mafia telah dikantongi Erick, berkat handphone milik salah satu anggotanya yang telah dia dibunuh.


"Heh? Cuma bawahan, tapi diberi informasi sedetail ini. Bukannya terlalu beresiko?"


Sangat banyak informasi yang dapat Erick temukan. Mulai dari jaringan-jaringan milik Heaven Mafia yang ternyata sampai ke luar negeri, bisnis-bisnis gelap apa saja yang dijalankan, bahkan memiliki pengaruh terhadap pemerintah negara.


Erick hanya bisa geleng-geleng. "Mafia yang sangat besar. Ada puluhan ribu yang tersebar di seluruh negeri. Humm ... berarti sulit untuk memusnahkan mereka sampai ke akar. Hah, cukup habisi pusat dan ambil alih! Mungkin memang harus begitu?"


Erick sampai saat ini masih memeriksa isi handphone tersebut.


"Oh, daftar klien mereka? Humm ... banyak, rata-rata orang berdasi——pejabat negara ini. Cih ... orang-orang seperti ini baiknya dihukum mati saja." gumam Erick, terus menggulirkan layar handphone-nya. Tak ada yang menarik lagi.


Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 5, Erick sudah sejam memantengi layar handphone. Cukup melelehkan untuk mata.


Lalu, hal yang tak disangka muncul. Pesan pemberitahuan terkirim. Isinya adalah untuk berkumpul di markas besar saat jam 7 pagi.


"Permintaan berkumpul, ya? Hmm ... apakah ada kegiatan absen tiap anggota? Gawat jika sampai tahap ini ada beberapa anggota yang tak hadir. Dan kebetulan bertugas di satu tempat." gumam Erick berpegang dagu, berpikir. Dia lantas melirik ransel di sebelahnya, kemudian membedah sedikit isinya.


Erick mengambil topeng yang dikenakan oleh para anggota Mafia itu. Yah, untuk penyamaran jika diperlukan.


"Sepertinya bagus jalan-jalan ke markas mereka. Setidaknya ... lihat, bagaimana medannya lebih dulu."


Erick telah memutuskan, dia menenteng tas gendong yang sering digunakan mendaki. Ukurannya berat dengan berbagai macam barang.


Pria dengan rambut cokelat-pirang itu keluar dari bilik salah satu komputer. Yap, Erick menginap di warnet. Sangat kebetulan ... stasiun bawah tanah yang dijadikan lokasi pasar gelap, dekat dengan warnet yang pernah digunakan Erick dan Karamel untuk bersembunyi dari kejaran Reka. Merasa nostalgia.


"Yo, penjaga warnet. Selamat pagi." sapa Erick setelah melihat si penjaga warnet turun dari lantai dua. Mukanya nampak sepat.

__ADS_1


"Kau benar-benar orang yang itu?" tanyanya, dia menelisik Erick dari bawah ke atas.


"Yap, tentu saja. Aku cuma mengganti penampilan, soalnya buron, hahaha." Erick terkekeh geli mengingat masa lalu.


"Kau sekarang juga buron? Kau punya fatish dikejar-kejar?" tanya si penjaga warnet mencibir.


"Mungkin? Terlebih, tuduhan kasus apa kali ini?"


"Kau menyekap dua mahasiswi!"


Erick terkesiap, "Huh ... mereka lebih hebat dari dugaan. Bagaimana caranya mendapat informasi itu? Aku memang pernah menyekap 2 wanita di kampusku, meski cuma semalaman." batin Erick.


"Kau sungguh melakukan itu?" tanya si penjaga warnet memastikan. Erick cuma tersenyum.


"Terserah kau saja bagaimana menanggapinya. Maaf, aku sibuk. Pinjam sebentar toiletnya."


"Hmm ... silahkan."


Erick pergi ke toilet untuk berganti busana. Setelan tuksedo cukup mewah dan mengenakan topeng. Sama seperti anggota Heaven Mafia lainnya.


"Yah, orang itu. Tapi, dari gelagatnya ... tak takut sama sekali. Berarti cuma fitnah, ya?" Si penjahit warnet diam-diam prihatin dan mendoakan keselamatan Erick.


.


.


.


Erick bergegas menuju ke markas dari Heaven Mafia. Tempatnya adalah di salah satu gedung pencakar langit di kota dengan puluhan lantai. Markasnya tak punya kesan-kesan tersembunyi.


"Cih ... padahal mencolok, tapi kenapa tak ketahuan?"


Pukul 6, Erick telah sampai di dekat lokasi. Masih mengintai, banyak mobil masuk kawasan gedung.

__ADS_1


"Masih ada 4 jam. Sebelum ancaman tentang keluarga Ariel muncul."


Butuh beberapa menit Erick menyiapkan mental. Dia kini sudah mengenakan topengnya dan mengantri untuk diperiksa oleh penjaga.


"Maaf, kami diserang oleh seseorang di pasar gelap. Senjata yang hendak dijual semuanya dirampas. Cuma aku yang selamat." beritahu Erick yang sebenarnya.


"Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa!?"


Jleb ...


Tanpa sadar, anggota yang bertugas mengidentifikasi tiap orang yang datang itu tertusuk oleh jarum kecil seukuran duri mawar. Lagipula, Erick sengaja datang paling akhir.


"Membunuh sembunyi-sembunyi seperti ini rupanya menyenangkan. Adrenalin dipacu sangat tinggi." gumam Erick.


Erick mengubah penyamarannya, sekarang menjadi sang penjaga. Heaven Mafia menggunakan code nama atau nama samaran. Nama yang bakal dipakai Erick adalah Gate. Yah, representasi benda-benda.


Tempat pertemuannya tak langsung berada di satu ruangan besar seperti aula. Ruang pertemuannya terpisah di tiap lantai. Akan ada proyektor yang menunjukkan keadaan di ruangan utama di mana ketua dan para petinggi melakukan rapat. Para bawahan hanya cukup menyimak.


"Kupikir apa, ternyata cuma rapat rutin. Tak ada yang istimewa." Itu pikiran Erick ketika pertama kali mengikuti rapatnya. Namun, saat penghujung rapat.


Wajahnya terpampang di layar monitor. Baik dulu sebagai Fandi, maupun sekarang yang sebagai Erick.


Sang bos yang mengenakan topeng berbeda berwarna emas berseru. "Orang ini adalah target dari salah satu klien kita. Diminta untuk dihancurkan hidupnya ... Tapi, aku ingin dia ditangkap. Dia berbahaya jika dibiarkan berkeliaran terlalu lama. Dia itu istimewa!"


"A-apa maksudnya? Kenapa mereka mengincarku? Apa aku telah melakukan sesuatu yang mencolok? Cih ... apa-apaan ini?" batin Erick.


Setelah rapat itu selesai, dia langsung bergegas pergi. Erick membunuh satu orang lagi dan menyamar sebagai dirinya. Selain itu ... Erick melakukan persiapan dengan menempatkan beberapa bom yang diikatkan sebuah bom asap beracun. Erick menaruhnya di setiap lantai gedung, tersembunyi dengan baik.


Dia perlu melakukan itu karena saat menjelang siang, dia akan kembali setelah menyelamatkan keluarganya Ariel.


Erick dengan mulus pergi pergi ke kediamannya Reka. Namun, pria itu masih memikirkan soal rapat tadi.

__ADS_1


"Oke, oke ... aku butuh pasukan! Jika mereka sudah sebegitunya denganku. Orang-orang di pasar gelap."


__ADS_2