System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 34 : Perasaan iri


__ADS_3

Ariel telah tiba di depan pintu apartemennya Erick. Seperti yang diberitahukannya lewat pesan, kini dia telah berias secantik mungkin. Rambutnya dibiarkan tergerai bebas, Ariel menuruti saran Erick, bahwa dirinya lebih cocok dengan gaya rambut panjang terurai bebas digerakan angin.


Adapun gaun berwarna biru muda untuk acara-acara resmi pun cocok dikenakan Ariel.


"Erick, pasti pangling!" batin Ariel dengan perasaan berbunga-bunga menakan bel pi Ah, dia tak sabar.


Lalu, di sisi lainnya ...


Fian. Sejatinya Ariel memang datang berdua dengan Fian. Dia mengajaknya agar segera berbaikan dengan keluarga Erick. Supaya tak ada lagi dendam di antara mereka. Masalahnya selesai.


"Sebentar." Suara adik-adiknya Erick menyahut dari dalam.


"Ah, kak Ariel sudah datang——" Mona yang sedang menyambut Ariel seramah mungkin, tak kunjung melanjutkan ucapannya begitu dia menyadari keberadaan wanita lain di belakang Ariel


Senyuman yang dipaksakan itu runtuh. Mona langsung the the point.


"Kenapa dia ikut? Ibu sepertinya cuma mengundangmu!" tanya Mona ketus, terkesan dingin dan menusuk. Fian cepat-cepat mengubur kepalanya dalam-dalam.


"Ah, begini ... Mona, aku——"


"Aku yang mengundangnya. Aku lupa memberitahu." sela Erick yang mendadak muncul, seketika menyingkirkan ketegangan yang terjadi.


"Sudah, siap-siap saja di belakang membantu. Biar kakak yang ambil alih!" ucap Erick berbisik di telinga Mona. Menenangkan adiknya itu.


"Hmph ..." Mona dengan enggan masuk. Erick hanya geleng-geleng kepala dan memijit keningnya.


"Yah, sesuai janjimu. Kamu cantik sekali, Ariel." puji Erick yang tersenyum lembut ke arah Ariel.

__ADS_1


Ariel jadi salah tingkah sendiri, matanya jelalatan, tak berani menatap balik pacarnya itu.


"Kamu juga, Erick. S-ssangat tampan!" puji Ariel malu-malu memandang Erick yang mengenakan kemeja berwarna biru muda. Kebetulan bisa sama, seolah sudah direncanakan.


"Kau ... Fian! Terima kasih sudah mau datang." Erick melirik Fian yang bersembunyi di belakang Ariel.


Sadar namanya dipanggil, Fian berhenti berlindung di balik Ariel. Dia keluar, memberanikan diri mendongak——menatap Erick.


"T-tidak. Ini sudah kewajiban. A-a-ku adalah budakmu!" ucap Fian terputus-putus.


"Yah, kata budak itu memang agak kasar. Tapi, status Fian memang mirip dengan itu!" batin Erick.


Erick kemudian mempersilahkan mereka berdua masuk, memperlakukannya dengan baik. Tamu adalah raja.


"Ah, Ariel? Kamu sudah tiba——k-kamu?"


Yah, reaksi yang Lilis tunjukkan sama dengan Mona. Keberadaan Fian yang ikut bersama Ariel itu sungguh tak disangka. Apalagi Erick tak memberitahu hal ini sebelumnya.


Fian yang langsung berlari menuju Lilis, jongkok di bawah kakinya. Ibunya Erick itu sontak kaget terhadap tindakan Fian. Lilis berusaha membuatnya berdiri kembali, menerima perlakuan yang seakan memiliki derajatnya lebih tinggi dari Fian, membuatnya tak nyaman.


"Hei, hei. Ada apa?" tanya Lilis berusaha selembut mungkin. Rasa benci dan tak suka memang hadir pada diri Lilis. Namun, setelah melihat tindakan Fian. Yah, sedikit berkurang.


"Erick?" Lilis mengopernya pada Erick karena Fian tak mau buka mulut. Sibuk menangis.


"Huh, begini ...."


Erick menjelaskan serinci-rincinya dan ditambahkan dengan bumbu kebohongan. Dia tak bisa memberitahu bahwa dirinya yang menyebabkan hidup Fian hancur, dicampakkan pacar dan keluarga. Seluruh keluarganya pun percaya. Lilis dan Anto sudah memaafkan wanita itu. Kecuali Mina dan Mona, tidak! Mereka tak membencinya. Mereka menganggap Fian sama seperti Ariel.

__ADS_1


"Huh. Mereka ada-ada saja!?" batin Erick geleng-geleng kepala.


Selanjutnya, acara makan malam itu berjalan lancar. Ariel dan Fian diterima dengan baik. Erick pun memperkenalkan Ariel sebagai pacarnya. Anto pun terkejut, memang cuma dia yang belum tahu.


"Nah, Ariel. Gimana kalau kita lakukan pertemuan keluarga. Saya ingin melihat ayah dan ibumu!" ucap Lilis selepas makan malam. Ariel dan Fian membantu membereskan perlengkapan makan.


"Ah, sepertinya sulit. Mama-Papa itu terlalu selektif. Mereka cuma menerima orang yang kekuatan ekonominya setara atau lebih tinggi." ucap Ariel seperti takut salah bicara.


"Umm ..." Lilis nampak ragu, dia melirik ke arah ruang tengah. Di sana ada Erick juga yang lainnya.


"Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Tak ada yang pingin anaknya sengsara. Saya percaya, Erick pasti bisa membahagiakan Ariel." ujar Lilis menatap Ariel penuh harap.


"Ya. Saya sangat percaya." tegas Ariel. Sorot matanya menyimpan keseriusan.


Lilis pun tersenyum setelah melihat reaksi Ariel. "Syukurlah Erick mendapat pasangan yang baik." batin Lilis.


"Ariel, bisakah kamu mulai sekarang manggil saya ibu saja? Yah, seperti Erick dan Mina-Mona."


Mata Ariel seketika berbinar-binar. Mulutnya segera terbuka, tapi tak kunjung ada lisan yang keluar. Dia mendadak lupa rangkaian kata selanjutnya.


"Ariel, kamu menangis?" Lilis menepikan cucian piringnya sejenak. Lebih mementingkan keadaan calon menantunya itu. "Kamu tak apa-apa?"


Ariel mengangguk lemah. "Saya tak apa-apa. Cuma sedikit terharu. Terima kasih, Tan——ibu!" Dia memeluk Lilis dengan erat.


Fian merasa takjub ketika melihat kedekatan di antara mereka berdua, yang sebetulnya terpaut jauh dalam hal usia. Di sisi lainnya, dia juga merasa iri, ingin berada di posisi Ariel. Namun, perasaan itu berusaha di buang sejauh mungkin.


"Andai aku yang berada di posisi Ariel?!" batin Fian.

__ADS_1


Sangat kebetulan, Erick menunju dapur. Kemampuannya dalam mendengarkan suara hati seseorang aktif karena berada dalam jangkauannya.


"Ah, bagaimana, ya? Kita lihat bagaimana ke depannya saja!" batin Erick.


__ADS_2