System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 37 Kue kering


__ADS_3

Setelah puas lari-larian mengelilingi kompleks apartemen, Erick dan Ariel bergegas pulang. Mereka harus berangkat ke kampus.


"Huh, ayo kembali. Kita harus bersiap pergi ke kampus!" ajak Erick menjulurkan tangannya. Ariel dengan senang hati menerimanya.


Mereka pun bergandengan tangan kembali ke unit apartemennya masing-masing. Mereka berdua lebih memilih menggunakan tangga alih-alih lift. Olahraganya memang sedikit berlebihan.


"Pindahannya belum selesai?" ucap Ariel bingung melihat pegawai jasa perpindahan masih hilir-mudik mengangkat berbagai perabot dari mobil box.


"Barangnya segudang paling?" balas Erick nampak tak peduli. "Sudah, ayo! Nanti terlambat." Erick menarik tangan Ariel.


Kemudian ereka berdua bergegas kembali. Acara pindahan itu diabaikan. Yah, mereka memang sungguh-sungguh menggunakan tangga. Ariel sampai ngos-ngosan, wajahnya banjir keringat.


"Hah ... hah ... rasanya mau pingsan!?" Ariel ngos-ngosan ketika sampai di lantai apartemennya.


"Tenang. Aku siap gendong!" balas Erick bergurau. Dia langsung ditonjok di bagian perut oleh pacarnya itu.


"Kebiasaan!" sebal Ariel.


"Yah, gimana, ya? Kala nggak mau gunain tangga ... kenapa setuju? Kamu tinggal bilang tidak, maka tak ada namanya pendakian anak tangga!"


"Ukh ...!?" Ariel langsung memalingkan muka, kentara pipinya merona. "A-aku nggak bisa nolak!" ucap Ariel malu-malu.


Erick cuma bisa cekikikan melihat tingkah Ariel. Dia tak menyangka bahwa Ariel bisa sebucin itu. Erick memang belum kenal lama dengannya.


"Sudah, sudah. Katanya mau cepat-cepat pergi ke kampus?" Wanita itu berusaha mengalihkan perhatian Erick.


"Huh, ok, ok."


Erick dan Ariel kembali berjalan menyusuri koridor. Di sana cukup lengang, tak nampak banyak orang yang lewat. Hanya bertukar sapa dengan cleaning servis. Tapi, mereka juga menemukan keberadaan yang tak asing.


"Eh? Bukannya itu penghuni baru apartemen?" ujar Ariel menunjuk seorang pria yang berdiri di depan apartemennya Erick.


"Ah, mungkin menyapa atau memberikan buah tangan atas kepindahannya ke sini. Dia bawa kardus!?"


Erick dan Ariel menuju ke sana.

__ADS_1


"Umm ... ada yang bisa saya bantu? Saya penghuni apartemen ini?" ucap Erick dengan bahasa yang formal.


"Maaf. Pasti saya sudah membuat tak nyaman. Begini ... ada kudapan. Saya berniat membaginya, tapi saya agak takut menekan bel pintu." ucap pria berkacamata itu canggung, menggaruk bagian belakang kepala.


"Kenapa malu? Tapi, harusnya tak usah repot-repot. Perkenalan, nama saya Erick, dan ini Ariel. Penghuni di lantai ini!" beritahu Erick menjulurkan tangannya meminta bersalaman.


Pria berkacamata itu kesusahan hendak meriah telapak tangan Erick. Kardus ukuran besar menghambatnya.


"Ah, maaf. Sini saya bantu. Pasti berat!?" Erick membantunya menurunkan barang bawaan si pria kacamata.


"Terim kasih. Nama saya Ardhi. Penghuni baru di lantai bawah." Pria berkacamata bernama Ardhi itu membalas jabat tangan.


"Hmm ... sampai sini belum ada yang aneh. Suaranya hati cenderung normal. Tapi ... tatapannya pada Ariel. Aku tak suka sama sekali!" batin Erick menyunggingkan senyum paksa.


"Saya Ariel. Semoga Pak Ardhi betah di sini!" ucap Ariel yang cuma menganggukan kepala ketika sadar dirinya ditatap.


Ardhi dipanggil dengan sebutan Pak dan bahasa yang sopan karena lebih tua dari Erick maupun Ariel. Usianya sudah hampir kepala empat. Dia pindah sendirian, tak bersama keluarganya.


"Pasti. Orang-orang di sini ramah." Ardhi merogoh sesuatu dari kardusnya. "Mungkin cuma kue kering harga murah. Tapi, tolong diterima."


"Panggil Pak Ardhi saja!"


"Sekali lagi terima kasih, Pak Ardhi."


"Sama-sama. Mari .... Erick, Ariel. Saya harus menghabiskan kue-kue ini!" pamit Ardhi membopong kembali kardusnya.


"Hati-hati, Pak!" ucap Erick dan Ariel serempak melihat punggung Ardhi yang perlahan menghilang dari pandangan mereka.


"Sini kuenya!" pinta Erick.


Ariel lantas terkejut dan bingung. Tapi, tetap patuh terhadap perkataan dari pacarnya itu.


"Kamu ingin makan semuanya?" tanya Ariel sambil menyerahkan toples kecil berisi kue kering itu.


"Salah! Aku ingin membuangnya!" balas Erick enteng. Ariel seketika memekik kaget.

__ADS_1


"Hah? Kenapa?"


"Begini ya ... pacarku. Jangan menerima sesuatu dari orang asing, terlebih makanan. Kamu tak mau keracunan, 'kan? Kita belum mengenal pria itu. Jadi, lebih baik hati-hati!" terang Erick dengan nada sedikit bercanda mencubit hidung Ariel.


"Tapi, bukannya itu berlebihan?"


"Bukan lebay atau apa. Cuma pencegahan! Seharusnya kau sudah diajarkan oleh orang tuamu untuk tak menerimanya, 'kan?"


"Benar sih. Tapi——"


"Kita harus berangkat ke kampus!" Erick mengucapkan selamat tinggal dan langsung masuk ke apartemennya.


"Hmm ... sepertinya memang tak ada salahnya berhati-hati!" Ariel juga bergegas masuk ke apartemennya.


Erick masih berada di ambang pintunya, menatap tajam dua toples kecil berisi kue di kedua tangannya.


"Huh, pria itu. Aku masih belum bisa memastikan dia baik atau tidak. Meski suara hati dan pikirannya tak ada yang aneh. Tapi, perasaanku kurang srek dengannya." Erick bergumam sendiri.


[Saya sarankan memang jangan mudah percaya pada orang asing]


[Master tahu ... suara hati dan pikiran bisa dimanipulasi]


[Kemampuan yang menipu diri sendiri. Batinnya berkata begitu, tetapi alisnya bukan]


"Makanya aku waspada. Humm, tapi tumben kau bicara setelah bersikap pasif selama beberapa hari?"


[Kebetulan, Master]


"Yah, ok. Sudah saatnya aku mandi."


"Eh? Erick? Sudah selesai olahraganya?" sambut Lilis melihat anaknya itu berjalan menuju kamar mandi.


"Ya. Ngomong-ngomong, di mana Mina dan Mona?" tanya Erick celingukan mencari keberadaan dari adik kembarnya. Dia tak melihatnya di seluruh ruangan.


"Mereka katanya berangkat ke kampus lebih awal!" balas Lilis. "Cepat mandi. Ibu udah nyiapin sarapan buat kamu. Ibu juga dapat kue' kering dari tetangga baru di lantai bawah. Coba kamu makan, rasanya enak, lho."

__ADS_1


"Eh?"


__ADS_2