
Erick mampir ke apartemennya Rinka masih perlu perbaikan. Tempat itu hampir selesai diperbaiki karena saking banyaknya tenaga kerja yang dikerahkan.
Mungkin beberapa hari bekas kekacauan yang dibuat Erick dan beberapa makhluk sudah lenyap.
"Penunggu tempat ini mengerikan! Apa-apaan bisa menerbangkan dan menghancurkan benda-benda?!" ucap Ariel bergidik ngeri. Dia punya pengalaman buruk berhadapan dengan makhluk ghaib.
"Apa mereka masih berada di tempat ini, Erick?" sambung Ariel bertanya.
"Tidak." Erick menggeleng. "Tapi tak mungkin juga mereka pergi. Mereka belum kalah."
"Jadi, apakah kita akan tetap tinggal di apartemen itu. Kamu rencananya ingin pindah ke sini setelah selesai diperbaiki, 'kan?"
"Tentu saja. Aku sudah keluar uang banyak untuk memperbaikinya. Tapi, tempat itu tak bisa ditinggali dengan tenang bila para penunggunya masih menguasai."
"Jadi, gimana?"
Erick mengangkat kedua bahunya. "Kita pikirkan saja nanti."
Erick dan Ariel pun berlalu melewati apartemen itu. Tujuan selanjutnya adalah rumah Hibiki. Sekalian mampir, setelah sampai di apartemen Erick maupun Ariel tak punya kegiatan.
Masalah mogok sekolahnya harus segera diselesaikan. Hibiki masih sering membolos, itu menganggu prospek misi dari System.
Erick memiliki misi untuk menyelesaikan segala masalah milk keluarga Uzen. Itu termasuk mengurus masalah pembullyan Hibiki.
"System, masih bisa mengirim asisten lain?"
[Bisa, Master. Sebetulnya di setiap versi System, Anda bisa membuat seorang asisten]
"Bagus. Buat yang seumuran anak SMA. Dia akan menjaga Hibiki ketika di sekolah!"
[Apakah tak terlalu berlebihan, Master?]
"Tidak. Biar misi ini cepat selesai."
[Baik. Dia bisa digunakan kapan saja]
"Kita mampir nih?" Ariel nampak cemberut
"Tentu."
"Apa alasannya? Bukan karena Tenka, 'kan?"
"Huh ... kenapa mendadak cemburuan? Kenapa dengan Fian dan Karamel kok tidak? Padahal sama saja lho!?" Erick mencolek hidung Ariel.
"I-tu ... itu ... entah kenapa aku seperti merasa kalah segalanya." Ariel ragu-ragu untuk berucap.
"Kenapa kamu tiba-tiba minder?" ucap Erick memiringkan kepalanya.
"Tenka ... wanita itu sedikit aneh. Ariel bahkan bisa merasakannya." batin Erick.
"Eh? Ada tamu. Umm ... Erick dan Ariel, ada keperluan apa?" tanya Tenka dengan bahasa Indonesia. Dia kebetulan keluar untuk membuang sampah dan tak sengaja melihat Erick dan Ariel.
Erick dan Ariel kebetulan telah berada di depan gerbang rumahnya. Mereka saja yang tak kunjung masuk karena mengobrol.
"Yah, cuma mampir."
"Ah. Begitu? Silahkan masuk." Tenka mempersilakan masuk ketika dia sibuk membuang kresek hitam ke tempat sampah.
__ADS_1
Erick dan Ariel melepaskan alas kaki lalu masuk. Tenka ikut melangkah masuk setelah selesai menata sampah di depan rumahnya, agar gampang diambil oleh tukang sampah.
"Di mana si Hibiki?"
"Dia di rumah. Di kamarnya. Ada urusan dengan Hibiki?" balas Tenka.
"Umm ... ada sedikit sebetulnya." Erick tersenyum kecut.
"Aku panggilkan. Silahkan duduk, anggap saja seperti rumah sendiri!" Tenka naik ke lantai 2. Sementara itu, Erick dan Ariel menunggu di ruang tamu.
Ariel tak henti-hentinya melihat segala sudut rumah keluarga Uzen itu.
"Kamu baru pertama kali ke rumah keluarga Uzen, ya?"
"Nah, kamu sudah pasti pernah ke sini! Urusan dengan Hibiki? Heh, kamu ingin bertemu dengan Tenka, 'kan?" Ariel menatap Erick penuh selidik.
Erick sudah keburu kesal. Jadi, dia membenarkan saja tuduhannya.
"Kalau iya, kenapa?" Erick tersenyum licik. Ekspresi Ariel langsung mengendur.
"B-b-baiklah." Ariel terkesiap. Dia seketika diam. "Huh, dasar Playboy!"
"Nah, begini kan bagus!" ucap Erick tersenyum. Dia mengacak-acak rambut pacarnya itu.
"Sudah, jangan sentuh rambutku!"
Tak berselang lama Tenka muncul membawa minum. Tak ada tanda-tanda keberadaan Hibiki.
"Silahkan diminum. Jangan sungkan. Umm ... Hibiki tak ada di rumah. Aku lupa dia pagi-pagi sekali pergi keluar." Tenka menyajikan minuman yang berupa teh pada tamunya.
"Sayang sekali. Tapi, tak apa-apa. Titip salam saja. Aku akan datang lain kali."
Erick dan Tenka sempat berbincang sebentar sebelum pada akhirnya memutuskan untuk pulang. Ariel bisa ngambek parah bila berlama-lama, apalagi dia seolah-olah obat nyamuk. Ariel kebanyakan diam.
"Aku benar-benar tak bisa mengetahui pikiran dari wanita itu!?" Erick masih penasaran karena kemampuan Esper-nya tak berguna pada Tenka.
"System, cari informasi yang lebih spesifik tentang Uzen Tenka. Sial! Aku penasaran parah dengannya."
[Baik, Master]
Panel berisi informasi tentang Tenka muncul. Karena terlalu panjang, Erick memilih membacanya nanti. Dia sedang dalam perjalanan pulang.
Erick mengaktifkan Clairvoyance. Dia melihat Hibiki sedang diganggu.
"Yap, waktu yang pas. System, kirim asisten itu!"
[Segera, Master]
Di sisi Hibiki.
"Cih, kenapa kalian ini? Tak henti-hentinya menggangguku!" raung Hibiki yang lehernya ditekan ke tembok gang. Dia dikepung oleh beberapa orang.
"Kenapa katamu?" Hibiki didorong semakin keras. Tenaga orang itu sangat kuat, Hibiki kesulitan berontak.
"Apa yang kau lakukan pada kakakku? Kenapa dia jadi aneh?" Dia mencengkram leher Hibiki semakin keras.
"Akhhh ... k-kakakmu? Siapa? A-aku bahkan tak mengenalnya." Hibiki mengerang kesakitan. Sirkulasi udara mulai melambat, dia menjadi sedikit pusing. Pandangannya mulai mengabur.
__ADS_1
"Cih, aku lama-lama muak. Aku habisi saja kau!" Dia mengeluarkan sebilah cutter dari saku.
Melihat benda tajam itu, Hibiki semakin berusaha untuk melepaskan diri. Berbagai cara dia coba, termasuk menggigit. Namun, gagal.
"Ayo, Hibiki. Temui orang tuamu!"
"Aku masih belum ingin mati!" batin Hibiki yang sekarang menutup mata sebab tak berani menatap cutter itu.
"Cowok-cowok menyebalkan! Rasakan ini!"
Hibiki mendengar suara lain, suara seorang gadis. Dia memberanikan membuka mata.
Hibiki melebarkan matanya, dia melongo sesaat. Seorang perempuan yang seumuran dengannya, memakai seragam SMA tempatnya bersekolah.
Gadis itu berhasil membereskan para pengganggu dalam waktu singkat. Dia kini pun dengan santai menginjak tubuh mereka.
"S-siapa kau?"
"Cowok menyedihkan, kau hanya membuat Masterku kerepotan. Sebaiknya belajar bela diri atau apapun itu. Dasar terlalu lemah!" Gadis itu menghampiri Hibiki dan seketika menjorokkan Hibiki hingga terjatuh.
"Karena kau lemah! Aku harus menjadi bodyguard-mu. Kau tak boleh jauh-jauh dariku. Oh, ya ... namaku Lita!" beritahu gadis berambut hitam panjang yang dikucir ke belakang. Matanya berwarna biru.
.
.
.
.
Salah satu visual. Sulit cari yang dirasa cocok. Baru ketemu visual untuk Tenka. Begini kira-kira visualnya.
[Uzen Tenka]
Umur 26 tahun
Bekerja di kementerian pariwisata sebagai penerjemah. Pekerja sipil.
Tenka menguasai bahasa selain Indonesia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekalian promosi.
Ini novel baruku. Silahkan cek diprofil. Barang kali minat.
Genre : Fantasy, Harem, romance, action, adventure
• System pasif seperti di game, jadi System-nya hanya bisa menampung status
• Sesuai judul. MC bagaikan Avatar game, tapi masih bisa bebas bertindak sesuai kehendak.
• Punya tugas untuk mencuri seluruh kekuatan milik perempuan
__ADS_1
• MC cenderung Villian. Pakai segala cara untuk meraih tujuannya.