
Keadaan di kediaman keluarga Rekan dan markas besar Heaven Mafia sedang kacau-kacaunya. Reka yang terbunuh dan pengeboman markas. Semuanya terfokus pada satu orang, Erick.
Setelah lolos dari kediaman keluarga Rekan, dia langsung mengurus keluarganya Ariel dan berusaha membawa ke tempat yang aman.
Luka-luka di sekujur tubuh membuat mobilitas menurun, sulit bergerak cepat. Erick kini belum terlalu jauh kabur dari sana, dia perlu segera pergi jika tak ingin tertangkap.
"Sungguh menyebalkan! Si pengendali pikiran itu ... semuanya kacau!" batin Erick mengeluarkan tas berisi perlengkapannya sendiri dari penyimpanan System. Dia mengambil jaket hitam terus mengenakan tudungnya.
Erick langsung pergi ke tempat keluarga Ariel berada. Selain itu mereka harus mencari tempat persembunyian.
"Kamu ... apa terluka?" ucap ibunya Ariel cemas. Melihat Erick yang wajahnya menahan nyeri membuat mereka merasa bersalah.
"T-tenang saja. Hanya terserempet peluru, nanti bisa diobati. Kita harus pergi ke tempat aman." ujar Erick menolak halus, mengobati luka untuk saat ini malah akan menghambat.
Erick yang langkah kakinya gontai sulit berjalan, ayah dan ibunya Ariel tak tega. Jadi, mereka memapah Erick di masing-masing kiri dan kanan.
"Kita akan tertangkap jika jalanmu pelan begitu!" ledek ayahnya Ariel, tersenyum ramah. Erick pun menyerah untuk berusaha terlihat kuat di depan keluarga pacarnya itu.
"S-semangat, kak." Adik laki-laki Ariel pun tak luput untuk menyemangati.
"Hmm ... yah, terima kasih." balas Erick merasa terharu.
Penampilan mereka terlalu menarik perhatian, jadi Erick menyarankan untuk mengenakan kembali jubah yang bisa berkamuflase. Membuat mereka berempat hilang dari mata semua orang. Syukur jubah itu masih muat bila Erick ikut bergabung.
Erick mengarahkan untuk pergi ke sebuah stasiun bawah tanah. Bukan untuk naik kereta, tapi pergi kembali ke pasar gelap. Di sana Erick mungkin mendapat sedikit bantuan.
"Kita lewat mana?" tanya ayahnya Ariel berbisik.
"Kita jalan ke rel kereta, berjalan sekitar 100 meter. Di sana akan ada sebuah terowongan. Kita bisa sembunyi di sana!"
"Di sana ada apa?"
"Black market."
Ayahnya Ariel terkejut pada awalnya dan segudang pertanyaan muncul di kepalanya. Tapi tak boleh banyak bertanya, malah menghambat.
__ADS_1
Mereka kemudian menuju ke terowongan itu, berjalan dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Di sana sangat gelap, jadi Erick memberikan penerangan dengan layar HP.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu? Kamu kenalannya Ariel, 'kan?" tanya ibunya Ariel memecah keheningan. Suara di dalam terowongan itu bergema.
"Nama saya Erick. Yah, saya pacarnya!"
Deklarasi yang tak disangka, tapi sudah diprediksi. Keluarganya Ariel tak terlalu kaget.
"Ariel sepertinya sangat beruntung, ya?" ayahnya Ariel terkekeh kecil.
Setengah jam berlalu ketika mereka berjalan menyusuri lorong yang gelap gulita itu. Berbekal senter dari cahaya layar handphone, mereka terus berjalan. Keadaan yang hening dan suara-suara aneh. Yah, mungkin tikus, membuat tak nyaman adiknya Ariel. Dia dari tadi merengek pada ibunya.
Sejam berlalu kemudian, Erick dan keluarganya Ariel tak kunjung menemukan ujung dari lorong itu. Berjalan sampai merasakan kaki yang mulai kesemutan. Adiknya Ariel sudah terlelap di gendongan ayahnya.
Memang jarak dari stasiun yang mereka lewati untuk ke stasiun terbengkalai itu jauh. Terpaksa mereka harus berjalan berkilo-kilo meter. Terlebih Erick, dia tersiksa menahan nyeri di sekujur tubuh.
Setengah jam kemudian ... berjalan dua jam nonstop. Mereka akhirnya menemukan pintu mirip brankas. Ayahnya Ariel lantas memutar tuasnya.
Pemandangan jual beli seperti di pasar konvensional nampak. Mereka langsung jadi pusat perhatian, namun dengan segera terpinggir. Jika tak punya uang, jangan berharap perlakuan istimewa. Prinsip di bawah sana.
"Ya." Erick mengangguk.
"Wah, kau kembali secepat ini, anak muda? Hoh, membawa beberapa orang. Mereka orang yang kau selamatkan?" si kakek misterius entah datang dari mana, tiba-tiba menghampiri Erick.
"Siapa kamu?" ucap ayahnya Ariel waspada. Sikap yang benar, jangan mudah percaya pada orang-orang di pasar gelap.
"Cuma seorang kakek tua yang tinggal di bawah sini. Mari sini, saya akan merawat luka anak muda itu!" si kakek berjalan ke satu arah.
Erick dan keluarganya Ariel tak serta-merta mengikutinya.
"Dia memang orang baik!" ucap Erick. Mau tak mau, yang lain juga harus ikut percaya.
Mereka pun mulai mengikuti si kakek yang berjalan ke area sepi. Tiba di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari triplek bekas pada bagian dinding. Rumah itu bisa roboh dengan sedikit terjangan angin, beruntung berdiri di tempat angin jarang bertiup.
"Anggap saja seperti istana sendiri." ucap pria tua itu melangkah masuk ke rumah rumahnya.
__ADS_1
"P-permisi."
"Kalian bisa letakkan si anak muda di kursi panjang itu!" beritahu si kakek.
Erick kemudian dibaringkan di kursi kayu reyot yang sudah dimakan rayap. Kaki kursinya bisa patah jika dinaiki beban berlebih.
Si kakek terdengar sibuk di belakang mempersiapkan sesuatu. Ketika ayah dan ibunya Ariel hendak menghibah, kakek itu mendadak datang dengan membawa teko dan cangkir seng.
"Maaf, minumnya cuma kosongan."
"Tak apa-apa. Itu lebih dari cukup."
Si kakek fokus pada Erick. "Nah, ayo sembuhkan lukamu itu!"
Erick mengernyitkan dahi. "Sembuhkan dengan apa? Si kakek tak membawa apa-apa. Mau simsalabim ... tara, luka sembuh. Mana mungkin seperti itu." batin Erick.
"Bagian mana saja yang terluka?" tanya si kakek.
Erick menunjukkan semua bagian tubuh yang terserempet peluru. Sebetulnya ada juga yang mendarat, tapi dia cuma belum sadar.
Si kakek bermata picing sebelah itu mulai menekan pada bagian-bagian yang terluka. Erick merintih kesakitan, pasalnya lukanya ditekan begitu kuat.
"Akh ... sakit. Mana yang katanya mengobati. Harusnya bawa perban, betadin atau semacamnya." protes Erick yang hanya ditanggapi dengan sebuah senyuman.
"Aku tak perlu semua itu. Hal kuno yang kurang efisien."
"Hah?"
"Coba lihat luka-lukamu?!"
Erick melaksanakan arahannya, dia mulai melepas pakaiannya. Dan betapa terkejutnya dia ...
"S-sembuh? B-bahkan tak berbekas? Siapa kau sebenarnya?"
"Bisa dilihat ... seorang kakek tua renta. Tinggal menunggu ajalnya. Oh, anak muda ... butuh bantuan? Aku sarankan seluruh penghuni asli pasar gelap ini. Mereka juga punya sedikit keistimewaan!"
__ADS_1