
"Yah, rumah ini memang tak bisa lagi rumah!?" pikir Erick sewaktu melihat secara langsung bagaimana rupa kediaman dari keluarga Reka.
Halaman depannya terpampang luas, terhampar setara lapangan sepakbola. Bangunan bergaya Eropa. Memang menakjubkan, Erick tak ada waktu untuk mengagumi. Lagipula, dia juga bisa membuatnya bila ingin. Tapi, menabung harus dulu.
Erick berada dalam satu mobil dengan para anggota Heaven Mafia. Penyamarannya berjalan mulus sampai di dalam kediamannya keluarga Rekan itu. Belum ada kendala.
Kelompoknya Erick dikirim ke sana untuk melakukan penjagaan terhadap keluarganya Ariel yang berhasil disekap. Yah, sungguh kebetulan. Erick jadi tak perlu susah-susah berkeliling untuk mencari tempat di mana keluarga Ariel ditawan.
Erick bersama seorang lainnya yang merupakan rekan dari perlengkapan yang dikenakannya. Code name, Bolt. Mereka berdua menuju ke ruang bawah tanah yang ada di rumah besar itu.
"Setiap anggota diberi persenjataan seperti senapan M416, granat biasa, granat suara, granat cahaya, dan perlengkapan lainnya. Basis persenjataan mereka cukup hebat. Mengajak perang para polisi sepertinya masih bisa dinalar." batin Erick melakukan pengecekan senjata.
Keluarga Ariel rupanya disekap di suatu ruangan yang harusnya adalah gudang. Tempat menaruh koleksi anggur milik ayahnya Reka.
Erick tak henti-hentinya mengecek waktu pada jam tangannya. Ya. Itu bukan miliknya. Baru pukul 09.30 ... sisa setengah jam sebelum ancaman dikirimkan.
"Giliran kami yang berjaga. Kalian pergi ke untuk mencari informasi keberadaan dari si target!." ucap rekannya Erick.
"Huh, baiklah. Kami juga sudah cukup jenuh di bawah sini. Ingin menghirup udara segar." balas seorang dari mereka. Menguap malas dan melakukan peregangan pada sendi.
"Selamat bertugas." Kedua orang itu menepuk bahu Erick dan rekannya sebagai salam perpisahan.
Erick cuma mengangguk. Tak ada yang mencurigainya.
Waktu berlalu lumayan cepat, setengah jam terlewati. Pesan dikirim ke handphone Erick yang asli. Dia langsung mengeceknya secara diam-diam.
..."Serahkan dirimu, Erick! Atau pacar kesayanganmu akan menangisi keluarganya yang tinggal nama. Aku tunggu sampai jam 2 sore. Hahaha ... risikomu jika berada di luar negeri. Terlambat sama dengan kematian mereka."...
Setelah pesan itu terkirim, disusul sebuah foto. Tentu saja keluarga Ariel. Melihat itu, Erick tak bisa menahan diri untuk mengepalkan tangan kuat-kuat, bahkan kukunya menggores telapak tangan hampir berdarah.
"Hmm ... ada apa, Bolt? Ada masalah?" tanya rekannya yang menyadari perbuatan Erick menahan amarahnya.
"Bukan apa-apa. Yah, cuma sedikit sebal. Mendapat bagian menjaga sesuatu itu membosankan!" ucap Erick berbohong.
"Aku juga berpikiran begitu. Tapi, kita cuma bawahan ... yah, terima saja."
"Benar." balas Erick singkat.
Selanjutnya tak banyak terjadi pembicaraan, cuma fokus menjalankan tugas. Namun, di sisi lain, Erick sedang berpikir keras. Bagaimana cara mengeluarkan keluarganya Ariel.
__ADS_1
"Sialan! Ini sangat sulit!?" pikirnya. Kepala serasa berasap.
Di sela-sela memikirkan rencana pembebasan, handphone yang dimiliki Bolt dan rekannya berbunyi. Jelas sebuah pemberitahuan darurat.
Muncullah sebuah pesan.
"APA?" teriak rekannya marah. "Ada kekacauan di markas besar. Ada penyusup yang telah membunuh beberapa anggota." rutuknya serasa ingin membanting handphone di tangannya.
Erick hanya bersikap tenang. "Huh, sudah ketahuan, ya?"
"Tak perlu panik. Masalah itu pasti mudah diatasi. Kita fokus dengan kerjaan kita di sini." Erick berupaya menenangkan.
Suasana pun kembali lengang. Namun, itu untuk sesaat saja. Suara derap langkah bergema di sepanjang ruang bawah tanah. Asal suara itu dari Reka, Figo, dan beberapa bodyguard di belakangnya.
"Buka! Aku ingin bicara dengan tawanan!" ucap Reka ketus.
Rekannya Erick langsung mengambil kartu, terus menggeseknya pada slot di pintu tersebut. Serta-merta, terbuka.
Reka dan Figo lantas melangkah masuk, meninggalkan beberapa bodyguard yang disuruh menjagongi Erick dan rekannya.
"Bagaimana caranya bisa lolos dari sini?" batin Erick melirik CCTV di beberapa sudut ruangan itu. "Cara bar-bar? Huh, yah ... memang benar. Dengan perlengkapan dan bergerak solo. Sungguh mustahil bermain cantik."
Erick mulai mengeluarkan beberapa jarum beracun. Dia mengincar rekannya, perlahan-lahan didekati.
Dan ... cus. Langsung tepar. Erick menahan tubuh rekannya itu.
"Kenapa rekannmu itu?" tanya salah seorang bodyguard milik Reka.
"Sepertinya dia kelelahan. Kerja kami itu tak manusiawi." ucap Erick dusta. Dia menyiapkan jarum-jarum lainnya. Dan akan ditusukkan ketika mereka lengah.
Masih ada 6 orang termasuk Reka dan Figo.
.
.
.
10 menit berlalu, Reka dan Figo telah keluar. Mereka sungguh terkejut melihat para bawahan tergeletak tak sadarkan diri, yang rupanya telah tewas.
__ADS_1
"Siapa yang berani melakukan ini? Penyusup?" murka Reka. "Tutup semua akses keluar dari rumah ini." titah Reka.
Namun, sebelum Figo bisa memberi kabar. Sesuatu turun dari langit-langit. Itu adalah Erick yang bagaikan ninja, kakinya menapak di langit-langit.
Perlengkapan assassin yang dimiliki Erick rupanya sungguh hebat, ada banyak perlengkapan canggih seperti agen rahasia. Contohnya sepatu dan sarung tangan yang bisa membuatnya merayap di tembok maupun langit-langit.
Figo langsung diincar. Erick berhasil menusukkan jarum beracun tepat di leher, pria besar itu langsung terkulai lemas. Reka yang melihat kejadian itu pun ketakutan setengah mati.
"S-siapa kau?" ucap Reka dengan tergagap. Dia seperti melihat hantu saja. Erick memamerkan sebuah jarum.
"Mungkin malaikat pencabut nyawa. Tapi, aku akan membiarkanmu hidup untuk sekarang ... aku tak akan bisa keluar dari sini tanpa bantuanmu." ucap Erick enteng, menggertak Reka dengan menodongkan jarum ke arah lehernya.
"Yah, beginilah anak manja. Bergantung pada bawahan. Jika sendirian, ya ... begini. Seorang pecundang!" Dari sebalik topengnya, Erick menyeringai.
Erick tak serta-merta melupakan keberadaan CCTV. Orang yang berada di balik layar monitor pasti sudah mengawasi dan memberikan komando.
Erick memang berencana menjadikan Reka sebagai sandera. Sekarang siapa yang terbalik? Mengancam atau diancam.
"Sisanya adalah mafia itu ... di rumah ini sepertinya ada puluhan anggota yang dikerahkan. Lalu ... mungkin saja bertambah banyak ke sini!"
Erick membuka pintu ruangan di mana keluarga Ariel. Reka tak luput diajak kembali.
"Siapa kau?" tanya ayahnya Ariel. Rambut yang sebagian sudah berwarna putih menandakan umurnya yang telah lanjut.
Berbanding terbalik dengan sang istri yang kelihatan masih berusia kepala 4. Dia memeluk erat anak laki-laki.
"Apa dulu ayahnya Ariel menikahi seorang bocah? Gap umurnya terlalu jauh." pikir Rie. "Hah, apa sih? Harus fokus!"
"Saya akan menyelamatkan kalian. Saya kenalannya Ariel." beritahu Erick.
"Kau mengenal Ariel? Di mana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja." tanya ibunya cemas.
"Ya. Ariel berada di tempat yang aman. Mari, saya akan mengeluarkan kalian." ajak Erick. Mengeluarkan sebuah jubah besar dari sebalik badan. Pasti dianggap sulap oleh semua orang. Memang muncul begitu saja, Erick mengambilnya di penyimpanan terbatas milik System.
"Ini jubah kamuflase! Pakai, maka kalian akan tak terdeteksi!" Erick memakaikan jubah hitam itu untuk menutupi satu keluarga.
Mereka percaya begitu saja, walau terdengar terlalu fantasi. Itu memudahkan Erick, jadi rak perlu banyak penjelasan.
"Kau tak ikut memakainya?" tanya ayahnya Ariel.
__ADS_1
"Tidak muat. Anda sekalian gunakan jubah itu dan keluar dari tempat ini. Saya akan mengalihkan perhatian. Oh, ya ... gunakan pistol ini jika terdesak!" Erick menggenggamkan sebuah pistol.
Selanjutnya ... untuk tak membuat para anggota Heaven Mafia berdatangan ke rumah Reka. Erick langsung menghidupkan alat pemicu, seluruh bom yang telah dia letakan di markas mafia lantas meledak.