
"Iki, siapa gadis yang kamu bawa?"
Tenka kaget melihat sosok gadis yang pulang bersama adiknya. Gadis itu dengan kejam membawa Hibiki seperti karung beras di pundak.
"Kamu temannya Iki?"
"Umm ..." Gadis itu mengangguk. Setelahnya, Hibiki dijatuhkan seenaknya.
"Aduh. Kamu jadi perempuan terlalu kasar!" keluh Hibiki yang memegangi punggungnya yang sakit.
"Jangan banyak bicara! Nah, Tenka-san. Aku ingin tinggal di sini!" ucap Lita tanpa keraguan.
Yah, sifatnya memang telah disetel begitu oleh Erick. Blak-blakan dan sedikit tomboy.
Hibiki yang mendengar deklarasi tak terduga dari Lita langsung bangkit. "Hah? Siapa kau? Ini bukan hotel! Jangan seenaknya memutuskan untuk tinggal di sini!!" ucap Hibiki agak memaki Lita. Dia juga menarik kerah seragam sekolah gadis itu.
"Hoh? Kau tak tahu balas budi, ya? Aku sudah menyelematkanmu dari pengeroyokan! Tak ingat?"
"Tunggu sebentar. Iki ... kamu hampir dikeroyok? Lagi? Kita masuk dulu ... Lita, ayo masuk!"
"Terima kasih, Tenka-san." balas Lita tersenyum. Dia langsung mengenyahkan tangan Hibiki dari seragamnya.
"Makanya ... jadi orang jangan nyusahin!" cibir Lita yang berlalu melewati Hibiki.
Tenka menyiapkan teh untuk tamunya.
"Apa masalah Hibiki sebegitu besarnya? Dia hampir dikeroyok? Jika begitu, wajar bila dia ta mau sekolah lagi. Gawat, masalah antara siswa malah menjadi separah itu!" Tenka tak bisa berhenti untuk memikirkan adiknya. Dia sebelumnya terlalu menyepelekan masalahnya.
"Tenka-san, airnya meluap-luap!" beritahu Lita. Tenka yang melamun tak sadar bahwa air panas yang dia tuangkan ke cangkir meluber.
"Akh ... panas, panas. Aduh, apa melepuh?" ucap Tenka mengecek kakinya.
"Tenang, saya obati?" Lita berjongkok dan menyentuh bagian yang tersiram air panas
"Jangan cemas, Tenka-san. Kakimu baik-baik saja!" beritahu Lita. Tenka kaget dan buru-buru mengecek kondisi kakinya.
"Seperti sedia kala? Bagaimana mungkin?" batin Tenka kebingungan.
Hibiki menyusul Tenka ke dapur. Ia langsung mendapati Lita yang berjongkok.
"Ne-san, ada apa?" tanya Hibiki cemas melihat luberan air panas di lantai.
"Yah, sedikit kecerobohan. Tapi, tenang saja. Lita sudah mengatasinya."
__ADS_1
"Hah?" Hibiki memiringkan kepalanya. "Kau?" Dia menatap Lita dengan serius.
"Hehe ... kau harus berterima kasih. Lagian, kedepannya mungkin aku akan selalu menyembuhkanmu."
Lita dibuat untuk membantu Hibiki, lebih tepatnya keluarga Uzen. Keahlian utamanya adalah bela diri dan sedikit kemampuan-kemampuan dari item pil yang ada di shop System.
Gadis itu bisa mengobati luka luar ringan. Contohnya tadi, dia dengan sangat mudah menyembuhkan luka melepuh.
"Sekali lagi terima kasih, Lita." ucap Tenka sedikit menunduk.
"Ya. Perlu diketahui bahwa aku adalah sodok penjaga yang diperintahkan untuk membantu kalian." ucap Lita berbangga diri.
Dari tiga sosok manusia buatan atau asisten pembantu yang diciptakan System. Lita berada di urutan kedua di bawah Mita. Yang terlemah adalah Rita.
"Oh, ya. Kau sempat mengatakan Master? Siapa dia? Apa dia yang mengutusmu?"
.
.
.
Sementara itu, Erick sedang pergi ke luar. Dia menemani Mona ke toko buku.
"Sedikit-sedikit. Kursus bahasa Jepang yang diberikan oleh Tenka cukup bagus. Aku sudah bisa beberapa huruf kanji." Mona dengan brutal mengambil tiap buku yang dianggapnya menarik. Di tangannya sudah penuh tumpukan buku.
"Huh, terserahlah. Tapi, ingat ... sebentar lagi kuliah lagi. Selesaikan kursus bahasa Jepangnya dan segera mulai kuliah! Kamu tak akan punya waktu nge-nolep untuk menonton anime atau membaca komik-komik ini!?"
"Makanya aku puas-puasin, hehe." balas Mona tersenyum.
"Huh, dasar. Mari sini, biar aku yang membawanya!" Erick menawarkan untuk membawa buku-buku itu. "Umm ... apa cuma segini?"
"Ya. Segitu dulu. Aku masih punya timbunan komik yang belum dibaca, hehe." Mona tersenyum kecut.
"Huh, dasar!"
Setelah melakukan pembayaran, Erick dan Mona bergegas kembali. Uang yang dikeluarkan cukup banyak, tapi bukan masalah bagi Erick.
Waktu itu sudah masuk jam makan siang. Erick dan Mona memutuskan mampir sebentar untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.
"Kita mampir ke restoran saja. Di apartemen pasti tak ada orang." usul Erick. Mona asal menyetujui.
"Oke ..."
__ADS_1
Mereka berdua naik kereta untuk pergi ke sana. Yah, sedik agak jauh, tapi restoran yang baru Erick beli cukup strategis. Dekat dengan stasiun kereta, dekat sekolah-sekolah, dan kantor-kanror swasta. Banyak pegawai dan anak sekolahan yang mampir.
Hanya perlu kurang dari setengah jam untuk Erick dan Mona sampai di restoran. Waktu mereka datang keadaan lumayan ramai.
"Kita ke sini sebagai pembeli. Jadi, berperilaku seperti pembeli." beritahu Erick menunjuk kursi yang kosong.
Pelayan restoran yang kebetulan sedang melayani pengunjung tak sengaja melihat kedatangan Erick dan Mona. Yah, pelayan itu adalah Mina. "Mereka mampir?"
"Umm ... pelayan?" Mona menepuk tangan untuk memanggil.
Mina lantas datang menghampiri. Dari ekspresinya, jelas gadis itu sangat kesal. Dia memberikan daftar menu.
Perlu diketahui, setelah membeli restoran itu. Erick menjadikannya sebagai restoran khusus makanan Indonesia. Jadi, datar menunya pun didominasi makanan Indonesia. Makanan-makanan Jepang masih ada walau tak banyak.
"Aku pesan mie Aceh. Kalo kak Erick?"
"Nasi goreng saja."
"Oke. Satu mie aceh dan satu nasi goreng. Oh, ya, minumnya ... kak Erick mau pesan apa? Aku jus alpukat." tanya Mona sekali lagi. Dia bertingkah seolah-olah sebagai pihak yang membayar. Padahal sebaliknya.
"Samakan saja denganmu."
"Ok, sudah dicatat, 'kan?" Mona tersenyum mengejek.
Mina nampak ingin mematahkan pensil yang dipegangnya. Sedangkan raut wajahnya datar-datar saja.
"Harap ditunggu, ya?" Mina tersenyum paksa.
Mona yang melihat saudari kembarnya seperti ingin marah-marah tak kuasa menahan cekikikan.
"Kamu ini?" Sementara itu, Erick hanya geleng-geleng.
"Pelayan, pelayan." ucap seorang pelanggan dengan bahasa Jepang.
Dari ekspresinya sudah menggambarkan kekecewaan. Pelanggan yang merupakan wanita kantoran itu bersiap marah-marah.
Tak berselang lama Karamel datang ditemani Rita untuk melayani keluhan dari wanita itu.
"Sekarang apa lagi?" batin Erick.
"Saya mau protes. Makanan ini mengecewakan. Belum matang, ada ulat di dalamnya ...." Wanita itu terus nyerocos. Mengutarakan keluhan tak masuk akalnya secara blak-blakan.
Karamel pun tak tahu harus merespon apa. Dia juga kelihatan syok.
__ADS_1
Erick memijit keningnya. "Huh, dia orang Indonesia, ya? Cih ... apa restoran ini dianggap saingan? Padahal aku mengusahakan untuk biasa-biasa saja, tidak mencolok. Tapi, kenapa? Aku muak ... kubuat bangkrut saja restoran milik orang Indonesia itu?"