
Ting tong ....
Erick membunyikan bel pintu apartemennya, tak butuh waktu lama agar suara berisik dari derap langkah kaki mendekat.
"Kak Erick!" seru seseorang dari dalam, tersirat aura kemarahan.
Bughh ....
Orang yang pertama muncul dari sebalik pintu adalah Mona. Dia muncul dengan kepalan tinju yang menarget perutnya Erick. Tumbukan tinju itu tak terlalu menimbulkan dampak, malah tak terasa sedikitpun. Namun, Erick tak ingin adiknya kecewa.
"Apa sih? Pulang-pulang udah ditonjok. Kakak pergi lagi nih?" ucap Erick kesakitan memegangi perut. Aktingnya berhasil.
"Kak Erick beraninya ngancem. Semalam kakak nginap di mana? Pasti di hotel, 'kan? Ketemuan sama wanita!?" Mona dengan geram memukuli kakaknya. Yah, walau tak ada rasa.
"Terlalu over thinking! Walau tak sepenuhnya salah, sih. Setidaknya bagian ketemuan dengan wanita itu benar, hahaha." Erick terkekeh dalam hati.
"Kenapa kak Erick mesam-mesem? Berarti benar. Ahh ... kakak jahat. Aku tak mau merestuinya." rengek Mona memeluk Erick, memukul-mukul dadanya.
Mona memang kekanak-kanakan.
Perempuan yang hadir selanjutnya adalah Mina. Dia hadir dengan rambut lepek tergerai panjang sampai punggung, habis keramas.
"Apa kak Erick sudah sarapan? Jika belum, aku dan ibu udah masakin buat kakak. Tersaji di meja makan!" beritahu Mina yang kemudian pergi menuju kamarnya. Hajat gadis itu memang cuma memberitahu Erick soal sarapan.
Erick yang menyaksikan tingkah adiknya itu cuma bisa menghembuskan nafas. Dia merasa bersyukur bahwa sikap Mina kembali seperti sedia kala. Itu berarti tak perlu ada lagi yang dicemaskan.
"Nah, Mona. Kakak sudah kelaparan. Tolong lepaskan pelukannya!" pinta Erick yang menyunggingkan senyuman lembut.
"Tidak!" sergah Mona menggeleng-geleng kuat.
"Huh, adikku yang satu ini memang konyol!" komentar Erick dalam hati.
Erick lantas pergi ke dapur, menyapa ibunya——Lilis dan langsung sarapan. Lilis sempat menanyakan kemana si anak sulung sekaligus anak laki-laki satu-satunya itu semalam. Sebagai seorang ibu, Lilis tentunya cemas jika Erick melakukan hal-hal negatif. Apalagi dengan uangnya yang banyak, Erick bisa berbuat seenaknya bila ingin.
__ADS_1
"Perkataan ibu ternyata benar. Pakai tangan sendiri kalah nikmat dengan pakai mulut. Huh, semalam itu——"
Pyarr ...
Lilis yang tengah mencuci piring tak sengaja menjatuhkannya. Saking kagetnya karena anak laki-lakinya itu berkata demikian. Lilis masih belum percaya, ditatapnya Erick lamat-lamat.
"Aduh. Hati-hati. Apa ibu tak apa-apa? Tak ada yang tergores?" tanya Erick siaga mengecek kondisi ibunya, mungkin saja tergores serpihan piring yang terbuat dari kaca itu.
Lilis mengangguk pelan. Dia menyentuh pundak anaknya. "Kami sudah mempunyai pacar? Kalian sudah melakukan itu? Sama sapa? Cepat kenalin, ibu tak sa——"
Jika Erick tak segera menghentikan ucapan ibunya, Lilis pasti telah berteriak histeris, jingkrak-jingkrak senang. Sesaat lupa akan umurnya, salah-salah bisa berakhir di tukang urut.
"Ssstt ... jangan keras-keras, Bu! Mina dan Mona nanti bisa dengar." Erick dengan gelisah melihat ke arah ruang tengah yang di mana ada Mona, mungkin Mina juga di sana.
Tak ada pergerakan, Erick akhirnya mengelus dada lega.
"Jadi, sama siapa? Tolong, cerita sama ibu!" girang Lilis berbisik. Keinginannya untuk menimang cucu dalam beberapa tahun ke depan bakal terlaksana.
Pegal terus berdiri, Erick mengajak ibunya duduk, pecahan piring itu sementara diabaikan.
Plakk ....
Lilis reflek melayangkan telapak tangan terbuka menuju bahu Erick.
"Apakah pertanyaan itu benar-benar harus ditanyakan? Siapa pun dia, jika memang perempuan baik-baik ... ibu pasti setuju. Jadi, kapan kalian menggelar pesta pernikahannya?" ucap Lilis dengan mata yang berbinar. Pokoknya dia kini tengah bahagia.
"Huh, hubungan kami belum genap 24 jam. Udah ditanyai kapan acara pernikahannya." balas Erick membuang nafas, mengeluh.
"Pertama-tama adalah restu. Yah, mungkin ibu dan ayah setuju-setuju saja. Tapi, gimana dengan adik kembar yang Brocon itu?"
"Ah, Mina dan Mona. Tak perlu dipikirkan. Pacarmu itu pasti bisa menaklukan mereka. Jadi, siapa perempuan cantik yang sudah kamu curi keperawanannya?" tanya Lilis bersemangat.
"Yah, siapa lagi kalau bukan penghuni apartemen sebelah." ucap Erick tersenyum canggung.
__ADS_1
Hal yang ditakutkan Erick terjadi. Lilis tak bisa menahan kegembiraannya, hal itu sontak memancing Mina dan Mona ke dapur. Jadi, terbongkarlah rahasia yang ingin ditutupi Erick. Adik-adiknya langsung mogok bicara.
.
.
.
"System, tunjukkan isi kontrakku dengan Fian!"
[Kontrak]
[Erick : Berkewajiban memenuhi kebutuhan Fian sehari-hari]
[Fian : Berkewajiban menuruti segala keinginannya Erick. Bisa dibilang budak]
[Pinalti bagi pihak yang mangkir : Penderitaan tiada henti]
"Simpel. Aku cukup menafkahi wanita itu!" ucap Erick membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia kini berada di kamarnya.
"Istilah budak itu ... aku berarti memegang kendali penuh atas Fian. Perintahku adalah mutlak!"
[Master ingin menjadi penjahat kelamin?]
"Haha, kau bisa saja System. Tapi, aku orang yang setia ... pada pasangan. Tapi, konteksnya apakah aku tak boleh melakukannya dengan wanita lain?"
[Tak ada yang melarang, Master]
"Setelah merasakan sensasi yang luar biasa itu. Pasti kebanyakan pria akan ketagihan, berakhir mencoba bersama wanita lain yang bukan pasangannya. Terjadilah kasus pemerkosaan!
[Ya. Menurut saya, tubuh milik Fian memang tidak kalah saing dengan milik Ariel]
"Kau juga berpikiran seperti itu? Huh, wanita itu ... rasa benciku padanya memang sudah berkurang. Tapi .... huh, lihat saja dulu!"
__ADS_1
[Master, Fian sedang mandi. Anda ingin melihatnya?]
"Bagaimana reaksi Ariel, ya? Jika aku lebih memilih mengintip wanita lain. Eh, Aku kirim mosquito juga ke apartemennya Ariel!"