
Erick berada di dalam kamarnya sendirian, mematikan lampu dan tidur dengan asal terlentang di tempat tidur, menutupi wajahnya dengan bantal. Dia sudah begitu sejak kembali dari kediaman Uzen.
Bisa dibilang pria itu hanya sedang galau. Bila dipikir-pikir ... Erick tak pernah galau sebegitunya semenjak menilik System, apalagi urusan wanita. Dia tak punya masalah untuk mendapatkan mereka.
Namun, wanita yang satu ini berbeda ... entah kenapa ... dia sudah berada jauh dalam jangkauannya.
"Sekarang, bagaimana? Kelanjutannya?" gumam Erick yang terdengar cukup putus asa. Tak memiliki semangat, serasa ingin pergi dari dunia.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu kamar diketuk. Bisa langsung ditebak, lagipula Ariel telah kembali.
"Erick, boleh aku masuk?" panggil Ariel meminta konfirmasi.
Semenjak pulang, dia belum berjumpa langsung dengan Erick, karena pria itu mengurung diri di kamar.
Semua orang pasti cemas akan kondisi mentalnya, meskipun mereka tak tahu konteks masalahnya.
"Erick? Kamu tidur?" ucap Ariel yang cemas. Jujur saja, itu adalah omong kosong. Tentunya Ariel tahu bahwa Erick tak tertidur.
"Masuk saja."
"Permisi." Ariel melangkahkan masuk. Dia sedikit kaget melihat kondisi pacarnya itu.
"Kamu tak apa-apa, 'kan?" tanya Ariel cemas. "Kamu tak sakit, 'kan?"
Erick bergeser bangkit dan menunjukkan senyum tipis. Yah, walaupun senyum palsu terpaksa.
"Tak usah cemas. Tak ada hal buruk yang terjadi." Erick menggeleng, lalu dia menepuk-nepuk area kasur di sebelahnya, mengisyaratkan agar Ariel duduk di sana.
Mereka berdua pun berada di tempat tidur yang sama di tengah kegelapan.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Ariel yang belum bisa mengendurkan ekspresi cemas di wajahnya.
Erick sekali lagi menggeleng. "Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku sedang tak baik-baik saja?"
"I-itu ... itu, tidak! Semua orang pasti langsung tau bahwa ada sesuatu hal yang tak beres."
"Begitukah? Lalu, coba tebak?" ucap Erick yang ekspresinya agak datar, namun terasa menantang bagi Ariel.
"Bagaimana kalau jawabanku salah?"
"Maka sampai di sini saja ...."
"E-erick?" Air menetes dari mata Ariel.
Erick seketika melebarkan matanya. Dia baru sadar apa yang hendak dikatakannya itu sudah keterlaluan. Bercanda, tapi terasa begitu serius.
"Tidak, tidak ... jangan anggap serius——akh!" Erick mengacak-acak rambutnya, dia lalu seketika membekap Ariel.
"Maaf, emosiku sedang tak stabil." sangkal Erick yang panik berusaha menenangkan Ariel. "Jangan menangis, Ariel. Hatiku sudah cukup hancur, jangan membuatnya bertambah remuk karena sudah menyakiti perasaanmu."
Erick membelai pipi Ariel untuk menghapus air matanya. Sepasang pria dan wanita itu saling bertatapan dalam diam.
__ADS_1
Ariel bisa melihat ekspresi kesedihan dari Erick, tersedih yang pernah dilihatnya.
"E-erick?"
Tanpa aba-aba Erick mendekatkan wajahnya ke arah Ariel, memberikan sedikit kecupan antar bibir. Dirasa terlalu singkat, Erick merobohkan tubuh Ariel di kasur, menaikan pakaian wanita itu ke atas hingga perut putih mulusnya terlihat.
"Erick?" ucap Ariel yang tatapannya, seolah berkata. 'Jangan sakiti aku!'.
Itu bukan pengalaman pertama mereka, jadi sudah tak ada rasa canggung. Sementara itu, pintu kamar yang awalnya menganga mendadak menutup sendirinya.
.
.
.
.
Erick merapikan rambut Ariel yang menutupi wajahnya ke belakang telinga. Tentu dia menatapnya selama beberapa saat.
Tanpa sadar, Erick menggertakan giginya dengan kesal. "Lagi-lagi Anya ... Anya dan selalu Anya!"
Dia kesulitan lepas dari bayang-bayang wanita itu. Bahkan saat berbagi kenikmatan, Erick beberapa kali melihat Ariel sebagai Anya.
"Aku minta maaf, Ariel." Erick memakaikan selimut ke tubuh Ariel yang nirbusana.
Tak terasa Erick melakukan itu dengan Ariel hampir 3 jam. Wajar jika kelelahan.
Sementara itu, Erick beranjak dari tempat tidur, mengambil pakaian santai yang hanya celana pendek dan kaos hitam polos.
"Mina? Huh ... kamu ini?"
Erick agak terharu melihat adiknya itu. Mina pasti mengetahui kalau kakak sedang melakukan sesuatu yang di luar areanya. Dia pengertian dan tak mengganggu.
Mina bahkan telah memasak untuk mereka bertiga. Namun makanannya sudah terlanjur dingin. Jadi, Erick perlu memanaskannya lagi.
"Mina, bangun! Kamu sudah bangun?" ucap Erick sedikit menggoyang bahu Mina. Namun, gadis itu cuma menggeliat dan beragam.
"Dah."
"Beneran?"
Mina cuma mengangguk tanpa bisa membuka mata.
"Huh, yasudah lah." ucap Erick yang menggotong tubuh adiknya ke kamar.
Erick jadi mengingat kenangan-kenangannya dulu. Menggendong adik-adiknya yang selalu ketiduran saat belajar. Yah, itu adalah masa-masa damai, meski keluarga Erick cuma orang biasa yang kerap kekurangan.
Setelah selesai mengurus adiknya, Erick berencana membangunkan Ariel untuk makan malam.
"System, tunjukkan status!"
[Menampilkan status Master]
__ADS_1
Panel biru transparan melayang di hadapannya. Yah, informasinya tak banyak berubah meski Erick agak lupa kapan terakhir kali melihatnya.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan? Semua keinginanku terpenuhi ... uang, kekuatan, aku tak kesulitan untuk mendapatkannya. Lalu, sekarang apa? Selain keluarga, tujuanku adalah Anya. Tapi ...."
Saat seseorang telah berhasil meraih semua keinginannya. Pasti rasa bingung dan bosan akan muncul.
Setelah itu aku harus melakukan apa? Selanjutnya aku harus berjuang untuk apa?
Jika hidup tanpa tujuan, hidup terasa sangat hambar.
Misi utama yang ada pada System hampir selesai. Hanya menyisakan dua misi, yaitu berbaikan dengan Anya dan membuat keluarga kecil sendiri.
Kedua misi itu sudah terlihat titik terangnya. Erick hanya sedikit mengambil tindakan. Semuanya akan segera selesai.
"Meski tak bisa bersamanya. Aku harus tetap pergi menemuinya untuk meminta maaf secara langsung. Yah, tak peduli dia mau memaafkan atau tidak."
Erick lalu membangunkan Ariel.
[Ada pemberitahuan penting, Master]
"Hah? Kenapa? Cih, tunjukkan!"
Panel biru berisi semacam pengumuman muncul.
[Subjek nomor 643, Anda dianggap terlalu membosankan untuk para Penonton. Maka dari itu, Administrator akan melakukan sedikit penyesuaian]
[Misi dikonfirmasi]
[Selesaikan semua misi utama System dalam 3 X 24 jam]
[Klasifikasi : Khusus]
[Hadiah : —]
[Pinalti : System akan memisahkan diri]
[Misi dikonfirmasi]
[Selamatkan Anya]
[Klasifikasi : Khusus]
[Hadiah : Bertemu dengan Administrator dan God]
[Pinalti : System akan memisahkan diri. Dan Hdup Anda akan direset kembali, begitu dengan ingatan tentang System]
Erick melebarkan matanya dengan terkejut. Dia tak bisa mengendalikan diri dan terduduk di kasur.
"Apa maksudnya ini? Penonton? Hidupku terlalu membosankan?"
[Maaf, Master. Sudah beberapa hari ini saya ingin memberikan informasi ini. Tetapi, saya pun juga merasa tak adil]
[Pengguna System tak berhak diatur hidupnya oleh Administrator. Itu sudah menjadi kewajiban para Administrator untuk para pengguna System yang mereka awasi. Namun, Anda dinilai terlalu membosankan dibanding pengguna System lainnya. Para penonton pun jadi melakukan protes]
__ADS_1
[Saya tak mampu berbuat apapun, Master. Saya cuma ciptaan dan tak bisa melawan]