
Keesokan paginya, hari pertama lock down di apartemennya Erick. Semuanya berjalan seperti biasa, tak ada keluhan. Mereka bersepuluh bangun dan melakukan aktivitas yang biasa dilakukan selepas bangun tidur.
Yah, cuci muka, langsung ke kamar mandi, minum air yang banyak. Kebiasaan mereka beda-beda.
Lilis dan Mala yang bangun paling awal, insting emak-emak. Mereka memasak untuk sarapan dan sedikit berberes. Kemudian disusul oleh si kembar Mina-Mona, terus karamel. Mereka menyapa ibu masing-masing.
"Ibu, kak Erick sudah bangun? Di ruang tamu kok nggak ada?" tanya Mona yang mulutnya terbuka lebar, menguap. Bahkan sebelah matanya masih menyipit.
"Jangan langsung tanya kakakmu dulu! Itu ... pipi bekas liur bersihin! Anak gadis kok gitu?!" tegur Lilis, dia menunjuk bekas genangan di pipi Mona dengan gestur jijik.
Lilis dan Mala sibuk membersihkan beberapa sayuran segar. Karamel yang baru bangun pun sedia membantu.
"Woah, ok, ok." Mona berjalan lesu ke arah kamar mandi. Namun, sayang ... pintunya terkunci. Itu berarti ada yang sedang memakainya.
"Bu, siapa yang makai kamar mandinya?" Mona berseru.
"Umm ... siapa, ya? Ibu juga nggak tahu!" balas Lilis mengangkat bahu. "Ya udahlah. Cuci muka di wastafel dapur!"
"Hmm ...?" balas Mona lesu.
Berbanding terbalik dengan saudari kembarnya, Mina ketika bangun tak banyak drama. Dia menuju ke ruang tamu. Yah, ujung-ujungnya memang mencari Erick. Tapi, ada alasannya tersendiri.
Instingnya lumayan tajam, dia menyadari sesuatu.
"Kak Erick sudah bangun, 'kah?"
Mina cuma menemukan ayahnya, tak ada Erick. Padahal harusnya dia tidur bersama Anto. Pada akhirnya Mina cuma membangunkan Anto.
Kemudian, orang yang bangun paling akhir adalah Ariel dan Fian. Rita tak dihitung, wanita itu sejatinya tak butuh tidur. Jadi, sepanjang malam cuma pura-pura tidur di hadapan Mina-Mona.
Sedangkan Erick ... dia pagi-pagi buta sudah ke kamar mandi untuk membersihkan kekacauan yang dibuatnya dengan Ariel dan Fian. Mereka semalam memang langsung tidur. Permainan yang brutal, Fian sampai tepar. Kalah dengan Ariel.
__ADS_1
Fian paginya pun terlihat berjalan dengan gaya aneh, sedikit melebarkan ************. Mina yang kebetulan melihat cara jalannya Fian itu langsung negatif thinking.
"A-apa jangan-jangan mereka? Ahh ... kak Erick kejam!?" rengek Mina dalam hati.
"Fian, kau baik-baik saja?" tanya Ariel cemas melihat cara jalan Fian. Mereka menuju ke dapur untuk menyapa.
"Cuma sakit. Itu pun salahku. Kenapa sangat brutal, hehe." Fian tersenyum garing, memalingkan muka, dia merasa malu membayangkan kejadian semalam.
"Tapi, sekali lagi terima kasih, Ariel. Sudah mengizinkan. Tadi malam sungguh seru. Sayangnya, aku tepar duluan." ucap Fian menambahkan. Dia tak henti-hentinya mesem. Orang sedang kasmaran.
"Hmm ...? Apa Fian benar-benar jatuh cinta pada Erick?" batin Ariel melihat tingkahnya Fian.
"Aduh, yang bakal jadi ibu rumah tangga malah bangun paling akhir. Suami kalian pasti cemberut karena belum ada sarapan di meja makan." goda Lilis. Karamel dan Mala tak kuasa untuk menahan tawa.
"M-m-maf, kami ada sedikit kendala." jawab Ariel dan Fian serempak.
Secara kebetulan juga, Erick keluar dari kamar mandi dalam keadaan bertelanjang dada, cuma handuk terlilit di pinggangnya. Ketika pria dengan rambut berwarna mirip porselen itu lewat dapur. Perhatian dari para perempuan berhasil direbut.
"Erick, di sini ada cewek-cewek lho." sindir Lilis tersenyum menutupi mulutnya dengan tangan.
"Yah, mau gimana lagi?" keluh Erick.
Setelah selesai sarapan, mulailah kelinglungan mereka. Kebiasaan-kebiasaan yang biasa dikerjakan setelah selesai sarapan. Kali ini tak bisa dilakukan. Pada akhirnya, duduk-duduk tak jelas. Opsi menonton TV, setidaknya itu dirasa aman.
Namun, tetap jenuh. Kegiatan yang bisa dilakukan di dalam ruangan terlalu sedikit. Mungkin bagi introver itu malah lebih menyenangkan. Contohnya Mona, dia keasyikan menonton anime kesukaannya. Mina yang biasanya tak terlalu suka pun ikut nimbrung.
Para gadget hanya bisa digunakan sebatas itu. Tak boleh sampai terhubung internet.
Ting ... tong ...
Bel pintu ditekan, semuanya langsung terfokus ke arah pintu. Adapun Erick yang melirik ke arah jam.
__ADS_1
"Baru juga jam 10. Sudah ada yang mengecek ke sini?" gumam Erick.
Yah, cukup mengejutkan sudah ada orang yang bertamu atau mencari keberadaan Erick dan keluarganya. Padahal Erick berpikir bahwa seluruh penghuni apartemen, baik di gedung ini maupun gedung apartemen lain telah mengetahui atas kekosongan unit apartemennya.
Dia sudah sangat jelas menyuruh orang tuanya menyebarkan informasi, bahwa satu keluarga ditambah Ariel dan Fian tengah berlibur ke luar negeri.
"Kira-kira siapa?" pikir Erick.
Bel pintu berbunyi beberapa sesaat, kira-kira 3 menit. Setelahnya ada lengang, tak ada bising lagi dari luar. Namun, 10 menit kemudian, bel pintu berbunyi lagi. Kali ini lebih kuat penekanannya, tempo pun semakin cepat. Menandakan si tamu sudah tak sabaran.
"Erick? Gimana?" ucap cemas Lilis berbisik, yang diikuti oleh semua orang. "Jadi masalah?"
Erick lantas menggeleng. "Kita cuma cukup diam. Maka orang itu akan pergi. Siapa pun dia!" Erick menenangkan kekhawatiran yang terjadi.
Lalu, hal-hal yang tak disangka terjadi. Selarik amplop meloloskan diri dari celah di bawah pintu. Beberapa orang hendak berteriak, tapi beruntung bisa ditahan.
Erick langsung memungut amplop putih itu, terus membukanya. Yah, dia tak ragu sama sekali. Hal yang ditemukannya adalah sebuah memo tanpa diketahui sedikitpun pengirim yang jelas.
Erick meremas kertasnya, nampak kesal. Semua orang berspekulasi macam-macam.
"Erick, surat apa itu?" tanya Ariel.
Erick berbalik dan menatap pacarnya itu intens.
"Ini tentang orang tuamu!" beritahu Erick.
.
.
.
__ADS_1
Update kedua mungkin siang atau sore.