
Setengah tahun yang lalu ....
Anya merasa depresi atas kasus pemerkosaan yang menimpa dirinya. Belum lagi dengan hatinya yang telah remuk, hancur. Dia sudah tak bisa percaya pada orang lain. Kejadian itu membuatnya trauma.
Anya telah terlanjur dikhianati, oleh seseorang yang sangat dia percayai. Yah, itu cuma menurutnya. Dia masih belum mengetahui fakta yang sebenarnya.
Namun, terlambat. Fandi atau Erick telat memperbaiki hubungannya dengan mantan majikannya itu.
"F-fandi bebas? Y-ya ... a-aku tak peduli." Anya segera mematikan televisinya, karena hampir seluruh acara berita memberitakan bahwa tersangka kasus pemerkosaan yang korbannya adalah Anya telah dibebaskan.
Wanita itu terkejut dan memiliki rasa sedikit untuk meyakini berita itu. Namun, hatinya terlanjur tertutup. Dia menganggap Erick hanya sebagai orang bermuka dua, munafik.
"P-padahal aku sangat mempercayaimu. Tapi, kenapa kamu melakukan itu padaku? Kenapa kamu sangat tega?" ucap Anya yang mulai terisak ketika dia mengingat kejadian kala itu.
Air matanya lolos dan kian deras. "H-hidupku sudah hancur, Fandi! Dan kamu yang telah menghancurkannya!"
Anya mengalami gejolak di dalam dirinya. Dia memang sangat membenci Erick sekarang, tapi sebagian dirinya yang lain juga mempercayai Erick.
Pria yang telah bekerja untuknya selama beberapa tahun, telah banyak menghabiskan waktu bersama, dan orang yang selalu berada di sisinya ketika sedang terpuruk.
Anya meringkuk di atas kasurnya yang kehilangan isian kapuk, jadi terasa keras seperti tidur tanpa alas. Yah, memang begitulah ....
Anya mengontrak rumah sederhana di kawasan kota kumuh agar para awak media yang mengejar-ngejar tak dapat menemukan jejaknya.
Anya bahkan rela memotong rambut panjangnya yang berharga.
Namun, semua itu belum cukup. Jejaknya tetap terendus. Jadi, Anya tak punya pilihan lain untuk meninggalkan negara kelahirannya.
Hidupnya sebagai Anya sudah hancur dan dia bakal membuat hidup barunya sebagai orang lain di negara lain.
Anya tak perlu cemas keluarganya sebab hanya dia sendiri. Dia dulunya tinggal di panti asuhan.
"Pergi ke Jepang?" Anya melirik sebuah tiket pesawat yang tergeletak di meja dekat kasur.
__ADS_1
"Huh, kuatlah, Anya! Jangan jadi perempuan yang lemah lagi! Oh, nama 'Anya' itu juga perlu dibuang!"
Anya telah sampai di Tokyo, Jepang. Setibanya di bandara, dia bergegas mencari tempat tinggal yang sesuai dengan budget-nya. Jujur saja, uang yang dimiliki Anya mungkin hanya cukup untuk satu minggu ke depan.
Selain tempat tinggal, dia juga perlu yang namanya pekerjaan demi kelangsungan hidupnya. Belum lagi mengurus masalah kependudukan, yang tentunya juga sulit.
"Setidaknya aku di sini bisa memulai semuanya dari awal." batin Anya, taksi yang dipesan sudah sampai.
Karena keterbatasan uang, Anya tak bisa pilih-pilih tempat bermalam. Jadi, sebisa mungkin dia memilih tempat paling murah. Yah, walupun tak nyaman, meski berhantu.
Anya nekat memilih tempat seperti itu. Dan itu adalah apartemen Rinka.
Wanita itu sebisa mungkin bertahan di sana, walaupun gangguan-gangguan yang dialami semakin gila. Anya bisa saja dianggap tak waras apabila mentalnya tak kuat menghadapi makhluk-makhluk halus itu.
Yah, itu adalah Anya yang baru. Dia tak takut malah semakin lama, dia menjadi semakin terbiasa.
Para penunggu apartemen pun sampai kewalahan untuk mengusir Anya.
"Aku tak peduli dengan kalian yang tak suka dengan kehadiranku di sini. Tapi, asal tau saja ... aku sudah membuang perasaan dan emosiku sendiri. Jadi, semua hal yang kalian lakukan itu percuma!" ucap Anya serius, melirik sekitarnya.
Dia menghela nafas. "Mulai sekarang, berhentilah untuk menggangu tiap penghuni di sini. Kalian tak kasihan pada gadis muda pemilik apartemen ini?"
"Yah, tapi aku ada kabar bagus. Besok aku akan pindah dari sini. Kalian bisa berpesta sesukanya."
"Anya pernah tinggal di sini? Jadi, di mana dia sekarang?" tanya Erick yang tak sabaran. Dia menyesal karena telat beberapa bulan ke Jepang.
(Kami tak bisa memberitahumu)
"Apa-apaan itu? Kalian tak ingat dengan kontraknya? Kalian harus membantuku!"
(Kami memiliki perjanjian tertentu dengan wanita itu agar tak memberikan informasi apapun tentang keberadaannya)
Erick lantas melebarkan matanya. Dia tak menyangka bahwa Anya akan melakukan hal semacam itu.
__ADS_1
"Maksudnya? Dia sudah memprediksi bahwa akan ada seseorang yang mencarinya?"
(Kemungkinan begitu)
"Bagaimana bisa?" ucap Erick yang frustrasi mengacak-acak rambutnya.
Jika Anya sendiri yang menghindari Erick, maka dia pasti akan sangat sulit untuk dicari.
"Sebegitunya, 'kah dia membenciku?" Erick tersenyum getir.
"Kenapa dulu aku tak langsung mencarinya?"
Yah, cukup menyesali tindakannya yang tak langsung mencari Anya. Dia memilih hidup santai untuk beberapa saat.
Mungkin inilah saat Erick mengingat dirinya menangis kerena sesuatu. Dia lupa terakhir kali menangis, mungkin ketika pertemuan dengan keluarganya. Dan selebihnya, dia tak mengingat hal lain yang dapat membuatnya menitihkan air mata.
(Kami hanya bisa memberitahu hal itu. Dia masih tetap tinggal di Tokyo. Kami tak dapat membantu lebih lanjut jika berkaitan dengan wanita itu)
"Hmm, yah ... tak masalah. Terima kasih atas informasinya. Nah, sekarang ... adalah permintaan kalian, apa yang harus kulakukan?"
(Kami cuma ingin kau mencari orang yang telah membunuh salah satu dari kami. Dia belum tenang karena orang itu belum tertangkap dan masih hidup damai)
"Oh, begitu, ya? Bisa berikan informasi lebih lanjut ... mungkin aku bisa langsung mencarinya!?"
(Yusa)
Tepat di samping Erick mendadak muncul sosok seorang gadis SMA. Pria itu hampir terjungkal karena kaget.
"Jantungku hampir berhenti!?"
(Maaf)
Gadis berkulit pucat, yah dia hantu. Masih memakai seragam SMA, dan rambut hitam panjang.
__ADS_1
(Yusa akan memberikan informasi lengkapnya)
"Baiklah, aku terima tugas ini. Dan permintaanku pada kalian adalah hidup berdampingan. Aku dan keluargaku akan pindah ke sini lagi, aku harap kalian menerima kami."