
"Kau tau, System ... sampai saat ini aku belum terlalu mengerti." ucap Erick yang berupaya mencerna semua hal yang didengar dan lihat agar terasa logis untuknya.
Lagipun, sedari awal Erick tak mengetahui apa itu sebenarnya System. Dia cuma mengetahui seseorang atau sesuatu memilihnya untuk menerima System yang seperti asisten pribadi. Membantu segala masalahnya.
[Hal yang bisa saya jelaskan sangat terbatas, Master]
Erick cuma geleng-geleng kepala menerima semua penjelasan dari System. Dia menyingkirkan semua bahasan-bahasan yang menurutnya tak penting dan fokus pada Anya.
"Selamatkan Anya! Dari apa? Lagian, apakah mungkin?" Erick menebak.
[Mungkin sebentar lagi akan ada sesuatu yang muncul, Master]
Brrr ...
Handphone milik Erick yang terletak di atas meja dekat tempat tidur, mendadak menyala terus bergetar. Baru saja menerima sebuah notifikasi.
Erick lantas buru-buru mengeceknya. Ternyata itu adalah telepon dari Hibiki. Lalu seketika Erick merasakan firasat buruk dan segera menerimanya.
"Erick-san, Erick-san!" teriak dari pihak seberang membuat telinga langsung berdengung keras. Hibiki asal teriak dan tak memedulikan kondisi lawan bicaranya. Nyerocos begitu saja.
"Ada hubungannya dengan kakakmu?" Erick tak mau berbasa-basi. Pasti memang itu masalahnya.
"Iya ... dia mendadak menghilang dan aku menemukan sebuah surat tergeletak di kamarnya." terang Hibiki yang terdengar panik.
"Bagaimana isinya?"
"Di sana tertulis agar Erick-san yang datang untuk menolong Ne-san."
Erick mengigit bagian bawah bibirnya. Dia berusaha menengah dirinya terlebih dulu.
"Kemarilah dulu. Aku butuh penjelasan lebih detail darimu" pinta Erick.
Tanpa jeda Hibiki langsung mengiyakan dan serta-merta langsung menutup sambungan telepon.
"Baik, aku akan segera ke sana."
Erick meletakkan kembali handphone ke sembarang arah di tempat tidur. Ariel jadi terbangun.
"Umm ... E-erick?"
"Kamu bangun?" ucap Erick membantu Ariel berdiri. Dia masih lemas.
"Ayo, bersihkan diri dulu."
Ariel cuma mengangguk dan mengikuti arahan Erick untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Erick?" panggil Ariel dengan suaranya yang masih lemas itu, dia menatap Erick dengan pandangan yang agak sayu.
"Iya, ada apa?"
"Aku bermimpi aneh tentangmu."
Erick menaikkan sebelah alisnya, "Mimpi seperti apa?"
Ariel lalu sedikit murung, pandangannya jatuh ke bawah. "Itu mimpi yang aneh, aku pun tak mengerti. Tapi, intinya ... kamu pergi meninggalkanku, pergi meninggalkan kami semuanya."
Erick menjadi tertegun sesaat, dia kembali mengingat-ingat sekumpulan misi tambahan yang muncul dari System. Dia telah mengerti maksudnya.
Ada dua kemungkinan, Erick tewas atau dia pergi ke dunia di mana System diciptakan. Bertemu dengan sosok yang dipanggil Administrator ataupun God.
Erick sebisa mungkin tersenyum di hadapan Ariel. "Mimpi hanya bunga tidur, Jangan dianggap terlalu serius! Memangnya aku akan pergi ke mana?"
"Tapi, tapi ...."
"Sudah, aku tak akan pergi kemana pun! Kamu di sini, Keluargaku juga di sini. Aku ingin pergi kemana?" tegas Erick menatap Ariel serius. Namun, perkataannya belum cukup untuk menenangkan wanita itu.
"Kamu tau, Ariel. Saat kita pergi ke toko perhiasan ... aku bukan hanya membeli perhiasan untuk Fian dan Karamel saja. Aku juga memesan untuk kita berdua ... untuk pernikahan kita berdua."
"Erick?" Ariel seketika menoleh dengan terkejut.
Air mata sontak menetes dari mata Ariel. "Jadi, kenapa aku harus pergi?" Erick menyeka air matanya.
.
.
.
.
Tak berselang lama, Hibiki datang malam-malam dengan keadaan tergesa. Meskipun di luar dingin, wajahnya terlihat banjir keringat.
"Erick-san, Erick-san ...!" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.
"Duduklah dulu. Ariel, tolong ambilkan air untuknya!"
"Baik." Ariel pergi ke belakang.
"Tenangkan dirimu dulu, Hibiki! Tarik nafas dalam-dalam!"
"Aku tak bisa tenang, Erick-san. Ne-san menghilang, kemungkinan terburuk diculik. Bahkan meninggalkan sebuah surat ancaman." ucap Hibiki yang tak berhenti berpikiran negatif.
__ADS_1
"Baiklah, tolong berikan suratnya. Aku penasaran bagaimana isinya."
Erick mulai membaca surat yang ditulis dengan bahasa Jepang.
"Keselamatan Uzen Tenka bergantung Gure Erick. Dia harus datang untuk menyelamatkannya. Percuma melapor polisi atau organisasi lainnya ... Gure Erick harus datang ke pusat kota Tokyo besok!"
"Apa-apaan ini? System, siapa yang kira-kira melakukannya?"
[Kemungkinan ulah Administrator, Master]
"Aku sudah tau, tapi bagaimana caranya. Apa dia memiliki wujud fisik atau perantara lain."
[Seperti saya yang bisa membuat manusia buatan. Administrator pun bisa melakukannya, bahkan kualitas manusia ciptaannya bahkan lebih menakutkan]
"Begitu?"
"Erick-san, bagaimana? Apa kita harus menyanggupinya. Tapi, itu sepertinya pancingan. Apa Erick-san punya musuh?" tanya cemas Hibiki.
"Aku selalu punya musuh, tapi tak mengira akan ada yang berbuat senekat ini. Umm ... tenang saja, aku akan pergi untuk menyelamatkan kakakmu. Itu tanggung jawabku."
"Ya, aku harus menyelamatkan Anya! Waktu itu aku gagal melakukannya. Tapi, lagi-lagi dia dalam bahaya karena diriku!" Erick mengepalkan tangannya dengan kuat.
Kabar tentang surat itu menyebar ke orang di sekitar Erick. Yah, beruntung dia belum melebarkan hubungannya ke orang setempat. Jadi, hanya itu saja-saja.
"Erick, kamu akan pergi?" tanya Lilis sang ibu, tentu cemas terhadap keselamatan anaknya.
"Ya, ini adalah tanggungjawabku. Tenka begitu karena diriku, karena musuhku!"
"Namun, kamu selalu memikulnya sendiri. Seperti saat kamu melawan para mafia Itu. Kita pun belum tau seberbahaya apa orang itu?!" ucap Anto menimpali.
"Yah, karena tanggungjawabku dan memang hanya aku yang mampu." jawab Erick tegas tanpa keraguan sedikitpun.
Erick menatap adik kembarnya yang murung. "Kenapa kalian dari tadi diam saja? Kalian tak ingin mengucapkan kalimat motivasi agar aku semangat?" guraunya untuk mencairkan suasana yang tegang.
"Kak Erick, jangan pergi! Kami takut sekali! Kak Erick nanti pergi meninggalkan kami semua."
Erick dan Ariel sedikit tersentak, tapi mereka sebisa mungkin nampak tenang.
"Aduh, jangan percaya pada mimpi, adik-adikku! Kalian percaya kakak kuat, 'kan? Apa masih belum cukup bukti ketika aku meng-duo menghadapi ribuan mafia?"
Erick lalu menoleh ke arah semua orang yang menunjukkan ekspresi serupa.
"Itu juga untuk kalian, Fian, Karamel. Jangan percaya mimpi! Ibu dan ayah juga ... aku tak peduli jika itu memang pertanda karena kalian semua bermimpi hal yang sama. Namun, itu hanya mimpi, ilusi tidur yang dibuat oleh otak."
"Aku tak akan membiarkan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku janji! Aku akan menghabisi semua musuhku agar kita bisa hidup tenang. Ini akan menjadi pertempurannya penghasilan untukku."
__ADS_1