
Tok ... tok ... tok ...
"Kami pulang. Ibu, kakak."
Erick lantas keluar dari kamar dan menuju pintu depan. Dia menyambut kedatangan ayah dan adik-adiknya. Lilis nampaknya tertidur, jadi tak bisa mendengar ketukan pintu itu.
"Wah ... apa saja yang kalian lakukan? Sore baru pulang." ucap Erick menyindir
"Tentunya saja bermain." ucap Mona, langsung menarik kakaknya masuk. "Ayo, Mina. Kita mandi."
Mona dan Mina berjalan melewati Erick begitu saja. Namun, mereka mendadak berhenti. Mona berbalik ke arah Erick.
"Oh, ya kak Erick pasti menyesal sudah menolak untuk menemani kami." Mona meledek dan menjulurkan lidahnya.
"Hoh ... sebegitu semenyenangkan itu, kah?" balas Erick seperti menantang. Lalu, disanggupi oleh Mona. Tapi, saudari kembarnya punya pemikiran lain.
"Menyenangkan dari mananya? Itu malah membosankan. Memang lebih baik jika ..." Mina menahan kalimatnya, dia juga mengalihkan tatapannya dari Erick. "Sudah, aku mau segera mandi." lanjut Mina berkata ketus, asal main pergi. Parahnya tak merampungkan kalimatnya tadi
'Aku sungguh malu. Tak berani mengatakannya.' suara hati Mina.
"Kemampuan ini luar biasa." Erick tertawa cengengesan dalam hati. Bisa mendengar suara hati adiknya yang terkenal susah mengakui sesuatu. Tapi, itu adalah sisi lucu dari Mina.
"Jangan asal main ninggalin!" Mona bergegas menyusul.
Anto yang melihat anak-anaknya cuma bisa menghela nafas. "Huh. Adik-adikmu itu!" Kepalanya menggeleng malas.
"Ayah kelelahan?"
Anto mengangguk. "Pada awalnya mereka selalu ngedumel. Berkata merasa tak menyenangkan jika tak ada kakak kesayangannya. Tapi, ujung-ujungnya lupa. Semua wahana dijajal, dan bapak harus ikut sekalian." keluh Anto.
"Hahaha ... mereka gampang dialihkan!"
"Huh, ya. Ngomong-ngomong mana ibumu?" tanya Anto melihat Lilis tak ikut muncul guna menyambut kepulangannya.
"Oh, ibu tidur." balas Erick.
"Hmm ... ya, pasti agak kelelahan."
"Apa perlu memperkerjakan seorang pembantu?" tawar Erick.
__ADS_1
"Nggak usah, Nak. Simpan saja uangmu untuk hal yang lebih penting. Maaf, bapak tinggal ke dalam, ya?"
Erick lantas mengangguk.
'Sejujurnya kami masih belum bisa beradaptasi dengan perubahan gaya hidup ini!?' suara hati Anto.
"Ayah dan ibu memang masih dipandang sebelah mata. Cih, dasar orang-orang kaya itu!" kesal Erick mengingat-ingat perlakuan Fian dan sebagian besar orang di apartemen ini pada kedua orang tuanya. Hal itu cuma membuatnya mendidih.
Erick kembali ke kamarnya. Dia langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
[Situasi yang menarik bakal muncul, Master]
System mendadak memunculkan tampilan keadaan apartemen Fian. Wanita itu telah kembali, dia terbaring terlentang di atas tempat tidur. Nampak begitu lelah.
[Fungsi speaker diaktifkan pada mosquito]
Bukan cuma visual yang mampu didapat oleh robot-robot nyamuk, tapi audio juga. Erick pun kini dapat mendengar sedikit gumaman dari Fian.
"Sial! Hari ini benar-benar sial! Barang-barang penting ada di sana!" gumam Fian lesu tak bersemangat, dia memukul-mukul tempat tidur karena saking kesalnya.
"Ribet mengurus itu semua. Apa aku minta bantuan Mama-Papa. Hahaha ... itu tak mungkin!" Fian kemudian tertawa keras, terdengar frustasi.
Tok ... tok ...
"Oh. Apa ini bagian menariknya?"
[Terus tonton, Master]
Erick pun terus menyaksikan siaran live stream tersebut.
"Sebentar! Nggak bisa apa sabar sedi——"
Plak ....
Persis baru membukakan pintu, tapi layangan telapak tangan telah mendarat. Kepala Fian tertoleh ke kanan, pipi kirinya bersemu memerah bentuk samar rupa telapak tangan.
"Kita putus. Dasar 1acur!" teriak kuat seorang pria yang tak lain adalah pacar Fian sendiri. Dia datang dalam keadaan emosi meluap-luap.
Fian sejenak tak bisa mencerna keadaan. "Putus? Kenapa bisa? Bukannya hubungan kita baik-baik saja? Kenapa putus?" batin Fian yang belum bisa percaya.
__ADS_1
"Hubungan kita berakhir. Begitu juga dengan afiliasi keluarga kita."
Fian ditinggalkan dalam keadaan tak tahu-menahu soal perkaranya. Matanya mulai berbinar dan seketika air mata bocor. Dia menutup pintunya rapat-rapat, terus meringkuk merapatkan lututnya ke dada. Menangis sesenggukan. Benar-benar hari yang buruk bagi Fian.
"Hmm ... apa segini cukup?" gumam Erick bertanya pada diri sendiri. "Dampak yang dihasilkan pasti lebih besar"
[Kurang sedikit lagi, Master]
"Sepertinya benar. Tinggal satu sentuhan lagi. Maka pembalasan dendam ini berakhir."
Erick menyudahi kegiatan memata-matai Fian lagi. Tak ada yang menarik dari melihat seorang yang menangis. Erick keluar kamar, berbincang-bincang santai dengan keluarga di ruang tengah. Kebanyakan membahas masalah kuliah dan permintaan Anto untuk bekerja. Yah, cuma inisiatif darinya untuk punya kegiatan yang dilakukan. Memang akan sangat membosankan jika mendekam terus-terusan di apartemen.
Lagipula, Anto memiliki insting seorang kepala keluarga yang berkewajiban menafkahi selagi masih mampu.
Erick pun memberi izin. Alasannya membelikannya motor agar Anto bisa berpergian guna berangkat kerja. Erick sudah menduga permintaan dari ayahnya itu.
"Terima kasih, Erick."
"Aku mengerti perasaannya ayah."
Quality time keluarga kecil Erick pun berlanjut. Pokok bahasannya semakin acak, tapi lebih sering mengenang masa lalu. Tapi, tak jarang juga Lilis senantiasa memojokkan Erick agar segera menikah.
Itu membuat Erick kehilangan mood saja.
"Berita mengejutkan datang dari luar negeri. Perusahaan ternama dari Amerika sekitar, Meta, mendadak ada yang mengakusisi saham mayoritasnya sebanyak 55%."
"Uhuk ... uhuk ..." Erick seketika tersedak menyaksikan berita di TV.
"Ada apa?" tanya Mina yang kebetulan duduk di samping Erick.
"B-bukan apa-apa!" jawab Erick berusaha bersikap natural. Dia kini tak bisa tenang, ingin jingkrak-jingkrak.
"System ... kenapa tidak memberitahu jika proses pembelian saham telah selesai? Aku bahkan sempat lupa dengan hal ini!"
[Kejutan, Master]
Acara berita itu kemudian menampilkan keadaan seseorang yang dikerumuni oleh puluhan orang, selalu dijepreti oleh flash kamera.
"Nona, nona. Sebenarnya siapa Anda? Kenapa tiba-tiba bisa membeli saham perusahaan yang bernilai miliaran dolar itu?" tanya seorang jurnalis menggunakan bahasa Inggris pada wanita yang Erick kenal. Itu adalah asisten miliknya.
__ADS_1
"Oh, itu bukan saya. Tugas saya cuma perantara. Majikan saya lah yang sudah membeli saham mayoritas itu!"