
"System, ini harus gratis!"
[Kebetulan item-item di shop dalam status trial. Bisa dicoba sesukanya]
"Wah ... kebetulan."
[Saya akan menyiapkan beberapa item yang cocok]
Tak berselang lama, muncul beberapa benda yang familiar bagi Erick. Yah, kebanyakan orang pasti tau benda itu.
Beberapa alat VR dan Katana mainan yang terbuat dari plastik.
[Saya harusnya tak perlu menjelaskannya terlalu banyak]
[Intinya VR tersebut bisa mendeteksi aura energi yang berbeda dan memvisualisasikannya. Visual bentuk bebas ditentukan oleh Master]
[Sedangkan katana tersebut berfungsi untuk menyerap energi asing di sekitar]
"Wah ... akan sangat menarik! Tapi, di tempat ini sepertinya ada makhluk yang lebih kuat lagi?!"
[Kita harus lebih berhati-hati terhadap makhluk tersebut. Mungkin bisa melukai]
"Ya. Biar aku saja nanti yang menghadapinya. Makhluk kadal raksasa itu sebagai last boss. Mari bermain-main dengan para kroco lebih dulu."
Erick keluar dari toilet dengan alat-alat VR yang berjumlah 7 dan Katana mainan. Ariel dan Mina memiringkan kepalanya serentak.
"Erick, dari mana kamu mendapatkan VR-VR itu?" tanya Ariel menunjuk benda-benda yang dibawa Erick.
"Apa aku perlu menjelaskannya? Huh, anggap saja sulap. Lagipula aku pernah menunjukkan hal yang lebih gila lagi, 'kan? Intinya semakin sedikit yang kalian ketahui, maka semakin baik."
Ariel cuma berdehem. "Okelah ... untuk hal-hal tak masuk akal, Erick memang jagonya. Lalu ... kenapa juga ada pedang mainan? Kita mau main pedang-pedangan?"
"Yah, mungkin. Tapi, bukan pedang-pedangan biasa. Permainannya adalah Ghost Slayer."
"Hah?" Ariel dan Mina mengerutkan kening.
"Panggil Mona, Karamel, atau Fian! Sepertinya mereka tertarik! Ini sama saja dengan game pencari pokemon."
"Hah ... oke, sepertinya Mona lebih tertarik dengan hal seperti ini." Mina beranjak keluar untuk memanggil Mona dan yang lainnya.
Erick sukses mengalihkan perhatian, rasa takut dari namanya hantu dan makhluk ghaib reda dengan sendirinya. Entah mereka menganggap permainan yang Erick ajukan cuma main-main. Namun, sebetulnya sungguhan.
Mereka memang akan benar-benar melakukan perburuan hantu dan mungkin bisa jadi berbahaya. Erick sudah memikirkan jika hal-hal berjalan di luar kendalinya, jadi sudah ada penanggulangan. Seperti kesurupan.
"Ariel, kamu pilih katana yang mana? Ada banyak motif!" Erick menawarkan.
Katana mainan yang ada tak cuma bermodel polos seperti katana pada umumnya. Tapi, ada beberapa motif pada bilahnya.
Seperti motif petir biru, gelombang air, kobaran api, bunga sakura, mega mendung, akar hijau menjalar, dan bilah berwarna hitam dengan alur merah darah.
__ADS_1
Erick cuma menyesuaikan agar lebih menarik. Lagipula Mona pasti akan sangat bersemangat. Gadis itu pasti membayangkan dirinya menjadi Demon Slayer yang ada di anime.
Bel pintu berdenting. Dirasa bukan Mina, dia tak mungkin membunyikan bel. Untuk mengetahui identitas tamu, Erick pun membuka pintu.
Tamunya adalah Hibiki dan Rinka.
"Oh, Erick-san. Maaf mengganggu. Tapi, kami cuma ingin mengecek kondisi tempat ini dan juga mau ikut membantu beberes." ucap Hibiki dengan sopan. Rinka yang selaku pemilik apartemen hanya diam seribu bahasa di belakang Hibiki.
"Tak perlu repot-repot sebetulnya. Umm ... tapi, karena kalian di sini. Mau bermain game VR?" ucap Erick dalam bahasa Jepang.
"Game VR?"
.
.
.
Yap, tuju orang yang akan ikut perburuan hantu. Erick, Ariel, Karamel, Fian, Mina-Mona, Hibiki. Rinka memutuskan untuk menolak ajakan Erick.
Mereka akan memurnikan tempat angker tersebut, musnahkan semua makhluk yang menganggu.
"Wow, ini keren banget, kak. VR-nya keren!" Mona girang. Dia menelisik seluruh inci tubuhnya.
"Huh, System ... kau bahkan sampai menampilkan seragam pemburu iblis. Ini terlalu ... yah, sudahlah. Mona nampak sangat antusias."
"Yah, mungkin ada benarnya."
"Baiklah, dengar semuanya!" Erick berkata dengan sedikit keras, menarik perhatian semua orang.
"Game ini sama saja dengan mencari pokemon. Bedanya kita tak menangkap, tapi memburu dan habisi mereka di tempat. Gunakan katana itu sebagai senjata.
Kalian perlu menyerang sampai makhluk yang kalian hadapi lenyap dan kalian akan mendapat poin. Mengerti?"
"Ya."
7 orang disuruh berpencar ke seluruh ruangan. Di lantai dasar sampai lantai 3 dua orang, sedangkan lantai 4 akan diurus oleh Erick sendirian.
"Baiklah, mulai!"
"Ichi no kata ...." Mona langsung memperagakan gaya khas dari anime yang dia tonton.
Semuanya telah berpencar.
"Ayo, System. Aktifkan VR-nya. Semoga tak ada yang teriak."
[Item diaktifkan]
"Waaaaa ... makhluk apa itu? Tak punya kepala!?"
__ADS_1
"Tangannya delapan?"
"Mukanya hancur."
"Yah, memang dasar betina!" Erick cuma geleng-geleng kepala. Dia mulai menghabisi tiap makhluk yang terlihat melalui VR-nya. Yah, walaupun tanpa benda itu dia bisa melihat mereka semua dengan jelas.
Bentuk yang beraneka ragam dan mengerikan tak mempengaruhi Erick. Dia tanpa hambatan berhasil memusnahkan puluhan makhluk tak kasat mata.
"Bahkan sampai diberi efek-efek tebasan. Tapi, keren sih."
[Biar lebih nyata kesan sebuah game, Master]
"Yap. Dan Mona pasti tak akan mau melepaskan VR-nya!?"
Erick pergi ke unit apartemen lain untuk memburu lebih banyak makhluk. Apartemen milik Rinka itu hampir tak ada penyewa kecuali rombongannya Erick. Jadi, memberikan kesan seluruh apartemen adalah arena permainan. Tak perlu cemas mengganggu penghuni lain.
Slash ...
Erick baru akan membuka pintu, namun sesuatu melesat dari dalam dan menembus pintunya. Berbekal reflek luar biasa, Erick tanpa kesulitan berarti menghindar.
"Paku?"
(Dasar manusia! Berani-beraninya mengganggu hidup kami. Sudah berpuluh-puluh tahun kami tinggal di sini!)
"Woah, bahkan ada subtitle ketika mereka bicara. Benar-benar game! Hebat sekali, System!" Erick malah sibuk terkagum-kagum. Dia mengabaikan sosok makhluk berwujud manusia dengan bagian bawah berwujud ular.
(Manusia!)
Angin kencang seperti badai muncul, memporak-porandakan lantai empat tersebut.
"Ini jauh lebih berbahaya dari perkiraan!" gumam Erick. Dia langsung kabur ke lantai bawah untuk mengecek kondisi yang lainnya.
Bisa saja ada makhluk-makhluk lain yang lebih kuat, namun tak dia sadari.
Ketika baru dilantai tiga, Erick melihat Mina terpelanting dari suatu ruangan. Tentu saja tak ingin membiarkan adiknya terluka, jadi Erick menggunakan tubuhnya sebagai tempat mendarat.
"Mina, kamu tak apa-apa?"
"Y-ya. Tapi, apakah ini tak terlalu nyata, kak? Aku beberapa kali diserang dengan serpihan-serpihan kayu. Rasanya sangat perih menggores tubuh." ucap Mina meringis. Memang benar, di pipi kanan dan kiri terdapat luka gores.
"Kenapa mereka menjadi sangat kuat?"
[Perbuatan dari last boss, Master. Dia membagi energinya pada makhluk-makhluk yang lain]
"Cih, sialan!"
"Huh, baiklah! Mina, ikut kakak saja. Jangan jauh-jauh!" ucap Erick. Mina mengangguk.
"Niat bersenang-senang malah begini. Tapi, ya sudahlah! Waktunya sedikit serius!"
__ADS_1