System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 56 : Pembagian tempat tidur


__ADS_3

Jika Reka sedang serius-seriusnya melakukan persiapan untuk membalas Erick. Berbanding terbalik dengan si target, dia tak merasa takut, cemas, atau sejenisnya.


Erick masih bersantai dengan keluarga, pacar, teman, yang tak seberapa jumlahnya di apartemen. Sekarang huniannya terasa sesak karena diisi 10 orang. Susah untuk mencari waktu sendiri. Untuk kasus ini ... Fian yang paling tersiksa.


"Nah, untuk tempat tidur. Karena hanya ada 3 kamar dan ranjangnya yang kecil. Jadi——"


"Aku ingin tidur di kamar kak Erick." Mona mengangkat tangannya, menyahut semangat.


"Apa yang kau katakan? Laki-laki sama laki-laki. Kak Erick tidur dengan ayah." timpal Mina menatap ketus adiknya yang terkesan agresif.


"Ranjang di kamar kak Erick cukup besar. Muat kali, tidur bertiga?" Mona mencari-cari pembelaan.


"Kau sudah gila? Makan apa pagi tadi?" cibir Mina. Dia geram terhadap adik kembarnya itu. "Tak muat, Mona!" sang kakak bersikukuh.


"Huh, dasar! Mereka berdua ... selalu saja," keluh Erick dalam hati menyaksikan tingkah kedua adiknya.


"Ah, sudah! Aku yang mengatur dan memutuskan. Tak boleh ada penolakan. Keputusanku mutlak." seru Erick seketika menghentikan perdebatan Mina-Mona.


Sekarang terlaksana sebuah rapat kecil-kecilan di rumah tengah atau keluarga, untuk mengatur tata letak tempat tidur. Siapa saja yang bakal mengisi ketiga kamar yang ada. Yah, pastinya para wanita, Erick dan Anto mesti mengungsi ke ruang tamu.


Ariel yang duduk di sebelah Erick mendadak mencolek-colek, wanita itu agak merapat ke sisi Erick.


"Erick, aku ingin satu kamar denganmu!" pinta Ariel berbisik pelan.


Erick dengan penuh penyesalan menggelengkan kepala. "Maaf, tapi tak bisa." balas Erick tak kalah senyap. Semua orang tak ada yang sadar. Ariel lantas merasa sedikit kecewa.


Erick meleng sebentar dan Mina-Mona mulai berdebat lagi.


"Kalian berdua, hentikan perseteruan itu! Ahh ... ok, ok. Kalian bisa tidur di kamar kakak."


"Huh?" pekik Mina-Mona bersamaan. Semua orang juga menunjukkan respon serupa.

__ADS_1


"Erick!" Ariel orang pertama yang hendak melayangkan protes.


Erick memintanya untuk tenang sebentar.


"Kak Erick serius?" ujar Mona terdengar girang. "Tidur di kamar kak Erick, 'kan?"


Erick lantas mengangguk sebagai jawaban. "Yah, kalian akan tidur di kamar kakak ..." Dia menjeda ucapannya. Membuat semua orang penasaran. Meski sedikit punya gambaran kalimat yang bakal digumamkan Erick selanjutnya.


"Yey——"


"Bersama Rita." Erick menyunggingkan senyum penuh arti. Selebrasi dari Mina-Mona gagal terlaksana. Senyuman saudari kembar itu terlanjur luntur.


Mina-Mona melirik ke arah wanita yang sejatinya adalah bodyguard mereka. "Kak Erick."


"Keputusannya bulat."


Ariel menertawakan kejengkelan calon adik-adiknya. Sepasang gadis kembar itu pun hanya bisa gigit jari.


"Selanjutnya ... Karamel, Bu Mala, dan Ariel tidur di kamarnya Mina-Mona. Aku dan ayah bakal mengungsi ke ruang tamu. Lalu ... Fian dan ibu bisa tidur berdua." terang Erick dengan lugas. Penjelasannya cukup jelas.


"Eh, serius?" Fian lantas melirik ke Ariel yang keduluan memasang wajah cemberut.


"Tak ada protes, ya?" Erick memegang tangan pacarnya yang ketahuan kesal itu. Tak ada jawaban darinya.


"Yah, ada alasannya sih. Kenapa tidak kusatukan ibu dan Ariel!?" gumam Erick dalam hati.


Selanjutnya para wanita bekerja di dapur untuk memasak makan malam. Para pria pun tinggal bersantai. Lagian dapur sudah penuh sesak, untuk apa menambah sesak.


Erick dan Anto duduk-duduk di ruang keluarga. Ngemil salah satu snack timbunannya.


"Erick, kamu punya pacar lagi?" celetuk Anto menunjuk Karamel yang tengah memotong sesuatu. Wanita itu menggunakan celemek, rambut panjangnya disanggul. Aura keibuannya muncul.

__ADS_1


Berkat ucapan random dari Anto, Erick gagal memasukan cemilan ke dalam mulutnya, malah berhenti tepat di depan mulut.


"Ya ... nggak, sih. Belum ada rencana!" balasnya enteng, kembali mengunyah.


"Hahaha ... enteng banget bicaranya. Seolah-olah kamu bisa meluluhkan hati perempuan sekali tatap." Anto tertawa kecil.


"Huh, tapi jujur. Karamel itu cantik, Fian pun sekarang berubah karena kamu. Bukannya itu calon-calon pacar atau istrimu. Humm ... baru tiga, maksimalnya 4 jika di negara ini. Jadi, Erick kurang satu!" gurau Anto menepuk-nepuk punggung anak sulungnya itu. Sudah lama mereka tidak berinteraksi sebegitu intensnya.


"Untuk yang satu lagi ... masih bersembunyi nun jauh di sana. Menunggu kutemukan." balas Erick serius. Tentu saja yang dia maksud adalah Anya. Bisa dibilang cinta pertamanya. Wanita yang cukup berjasa bagi kehidupan Erick.


"Beneran ingin punya 4 istri, nih? Wah ... cucu yang didapat 2 tim sepakbola pasti. Hahaha ...." Anto membayangkan dirinya menjadi wasit pertandingan sepakbola para cucu-cucunya.


"2 tim sepakbola itu 22 orang. Berarti tiap istri minimalnya 5 orang anak. Hah ... tak bisa dibayangkan serajin dan sesubur itu kami!"


"Ah, tak perlu diambil serius. Ayah hanya bercanda."


Kemudian terjadi keheningan sesaat. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka berdua. Suara bising dari dapur pun terdengar jelas, percakapan-percakapan yang terjadi.


"Umm ... ayah, maaf atas ini. Semuanya jadi repot karena perbuatan yang kulakukant!" Erick mendadak meminta maaf.


"Tak perlu. Kamu melakukan hal yang benar. Karamel memang perlu ditolong. Jika mampu, memang tolonglah." nasihat Anto.


"Yah, aku agak senang kalian tak marah terhadap tindakan egois yang merepotkan banyak orang ini."


"Kita bisa menghadapi ini sama-sama. Terlebih kamu menjamin semuanya bisa kembali normal dalam seminggu?" ucap Anto mengingat penjelasan Erick.


"Ya, setelah seminggu semuanya akan kuperbaiki. Mungkin aku, Mina-Mona, Ariel, Fian, bahkan Karamel harus pindah kampus. Belum lagi keadaan keluarganya Ariel dan Fian. Huh ... keluarga itu serius ingin menghancurkan kehidupan kita. Beruntung aku punya solusi atas semua masalah itu!" gumam Erick panjang lebar.


"Hmm ... bebanmu sepertinya berat?!"


"Yah ... semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin yang menerpa. Siap tak siap harus menguatkan diri. Humm ... aku berencana pindah keluar negeri saja."

__ADS_1


__ADS_2