
Di dalam sebuah bangunan yang megah seperti di kastil-kastil kerajaan Inggris, terlihat seorang wanita berambut pirang keemasan yang sedang duduk di hadapan meja putih dengan alur biru laut yang indah. Dia mengenakan gaun putih yang elegan.
Di hadapannya juga ada seorang wanita lain, penampilannya terlalu kontras dengan si pirang tadi.
Dia memiliki rambut pendek berwarna ungu gelap dengan mata merah darah yang nampak mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya. Gaunnya pun berwarna gelap, tapi wanita itu tak kalah menawan dengan si pirang, meski perangainya nampak sedikit jutek.
Di meja pun sudah tersaji teh dengan cangkir dan teko yang mewah.
Mereka mulai bercengkrama.
Si pirang tersenyum lembut, "Satelia, mukamu terlalu kusut! Jujur saja, auramu sedikit suram. Tolong hilangkan, itu tak nyaman sama sekali."
"Huh, hari-hari ngurus acara! Hari-hari jadi administrator!" keluh wanita bernama Satelia itu, meneguk teh di hadapannya dengan sedikit terburu-buru.
"Yap, itu salahmu. Kenapa kau tertarik dengan acara dunia bawah. Apakah melihat mereka menjalani kehidupannya itu menyenangkan? Apa menariknya mereka?"
"Yah, jika dibilang menyenangkan sih ... entahlah. Tapi, menyaksikan mereka berjuang untuk hidupnya sedikit memacu adrenalin. Yah, makanya reality show itu sukses ...."
"Yah, sudah berjalan 643 episode. Sedikit yang mampu menang dan pergi ke dunia ini. Kau sendiri angkatan ke 200-an, 'kan?"
"Sesuai katamu ... alasan lainnya adalah karena aku pernah di posisi mereka. Awalnya yang seorang pecundang, yang mendadak mendapat sesuatu yang dinamakan 'System'. Mengubah habis hidupku.
Tadinya bukan siapa-siapa yang tak dianggap penting, berubah menjadi penguasa dunia. Lalu, saat telah mencapai puncak kejayaan. Pesan yang mengejutkan tiba. Bayaran atas diberikannya 'System' menjadi boneka untuk menghibur entitas yang lebih tinggi seperti dirimu." ucap Satelia panjang lebar, mengingat kenangan-kenangannya dulu sedikit membuat matanya berkaca-kaca.
"Memang ironi. Aku bingung dengan cara berpikir penggagas acara itu. Mempermainkan makhluk yang dunianya lebih rendah."
"Mungkin karena kehidupan kalian sudah sempurna. Hampir semua hal bisa didapatkan, tentu kalian lama-lama akan sampai di titik jenuh dan butuh hiburan yang menarik." Satelia kembali menyeruput tehnya. Si pirang memperhatikannya dengan serius.
"Kau terlalu menyamaratakan kami. Tak semuanya begitu, menyaksikan makhluk yang lebih rendah dijadikan mainan, itu bukanlah sebuah hiburan!" Si pirang akhirnya meminum tehnya setelah sekian lama. Mata biru saphir-nya menatap Satelia.
Terjadi sedikit ketegangan, namun tak bertahan lama. Si pirang menghembuskan nafas.
"Aku juga tak bisa mengatakan sepenuhnya kontra dengan acara-acara seperti itu. Aku pun suka melihat entitas seperti kita memilih seseorang dari dunia bawah untuk dijadikan pahlawan dan dikirim ke dunia yang masih bermasalah dengan iblis."
"Oh ... Hero dan Demonlord ... itu terlalu kilse. Sampai di duniaku dulu ... Cerita-cerita semacam itu sudah menjamur. Tapi, siapa sangka bahwa itu memang ada. Semesta dunia bawah yang tak terhitung jumlahnya ... ada dunia yang masih dikuasai Iblis." Satelia tersenyum masam.
"Begitulah? Kita di hadapan mereka itu dianggap seperti Dewa atau bahkan Tuhan."
__ADS_1
.
.
.
.
Ketika fajar tiba, sebuah sirine peringatan membangunkan semua orang. Terkecuali Erick, di memang bergadang semalaman.
Sirine itu berbunyi sekitar 10 menit, dan keadaan sedikit lebih tenang. Tapi, itu berubah ketika setiap orang menerima pesan di handphone masing-masing bahwa dikeluarkan perintah mengungsi. Penyebabnya adalah keberadaan ******* berbahaya di pusat kota Tokyo.
Kepanikan lantas terjadi d mana-mana, unit militer mulai bergerak. Banyak helikopter berterbangan di langit.
"Erick?" ucap cemas Ariel, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menatap Erick dengan pandangan sedih dan takut.
"Jangan cemaskan aku! Sebaiknya kalian juga pergi mengungsi. Sepertinya ini memang sangat berbahaya." balas Erick berupaya membujuk mereka.
"Tapi, kamu ..."
Erick menatap semuanya, "Percayalah padaku!"
Mulut enggan untuk terbuka dan berucap "Ya", mereka sama-sama menunduk dan meratapi keadaan.
Mina-Mona mendadak mendekat ke arah Erick, mereka berdua memeluk Erick secara bersamaan.
"Kak Erick harus bisa kembali! Bukan hanya tubuh, tapi nyawanya juga. Kami tak mau tau, ini harus jadi happy ending!" ucap Mina-Mona yang membenamkan wajahnya ke dada Erick.
Erick membelai kepala mereka sebagai balasan. "Yah, siapa juga yang mau bad ending. Harus happy ending, 'kan?" Dia tersenyum.
Dia tahu bahwa siapa pun bisa berjanji lisan tanpa ada bukti untuk bisa mewujudkannya. Mereka memang sangat butuh jaminan atas janjinya.
Ericka memejamkan mata, "Ini tak berhasil! System, kita harus menidurkan mereka!?! Keluarkan serbuk tidur!"
[Baik]
Di genggaman tangan Erick muncul sebuah bola kecil seukuran bekel.
__ADS_1
Dia menarik nafas dalam-dalam dan menatap sendu semuanya. "Maafkan aku!" ucapnya meremas bola itu dan melemparkannya.
Asap berwarna putih mengepul dan menutupi semua orang. Seperkian detik menghilang, dan hanya menyisakan mereka yang tertidur.
"Rita, Lita. Bawa mereka ke tempat yang aman! Setelah itu ... susul aku! Kita akan berperang!" perintah Erick. "Aku juga akan mengerahkan Mita."
"Siap laksanakan, Master!"
Kedua wanita itu mulai mengungsikan Ariel dan yang lainnya.
"System, di mana keberadaan Anya!"
[Di Shinjuku, persimpangan Shinjuku]
"Hah ... baiklah! System, keluarkan persenjataan!"
Rompi anti peluru, sejumlah amunisi, pistol-pistol, dan sebagainya. Ada juga katana. Katana dari pemberian Ru pun ada.
"Huh ... Ru, kakek Fu, dan penduduk desa itu. Andai saja aku bisa meminta bantuan mereka." Erick garuk-garuk kepala.
"Oh, kekurangan orang? Kami bisa membantu!"
Muncul sesosok wanita secara mendadak, diikuti oleh ribuan lainnya dengan rupa yang mengetikkan.
"Aku bahkan melupakan keberadaan kalian." Ericka tersenyum miring.
"Itu tak sopan, tau!" ucap si manusia ular, Hebi. "Untung si kadal dan rubah juga ikut!"
Kemudian muncul rubah berekor sembilan dan bulu berwarna putih.
"Ini untuk keselamatan gadisku. Aku menduga bahwa skala penghancurannya bisa sangat besar, jika aku diam saja."
Disusul dengan pria tinggi besar dengan karakteristik seperti kadal. Mirip salah satu Villian dari film manusia laba-laba.
"Berani-beraninya mereka! Tapi, jangan salah paham, manusia! Aku hanya tak mau rumahku hancur." kadal itu agak memalingkan muka.
"Yah, itu sudah lebih dari cukup. Aku sangat mengapresiasi bantuan kalian!"
__ADS_1