
Malam pun tiba, semua orang telah terlelap di kediamannya Erick. Hari ke-0 telah terlewati, hari pertama dalam menyembunyikan diri akan dimulai besok. Sulit atau mudahnya akan segera terlihat ketika sudah berlangsung selama beberapa hari. Yap, itu adalah rasa bosan sebagai musuh utama.
Mereka tak boleh mengaktifkan gadget apapun, berhubungan dengan dunia luar. Benar-benar seperti terasing, hidup di pulau tak berpenghuni.
Erick yang tidur di sofa panjang di ruang tamu mendadak terjaga. Bangun pada tengah malam memang hampir menjadi kebiasaan. Erick pasti sedang kehausan.
"Sebaiknya aku minum air yang banyak. Selalu saja begini." gumam Erick pelan, dia tak mau membangunkan Anto, ayahnya. Erick segera beranjak ke dapur dan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.
"Kamar mandi lampunya menyala, hmm ... ada yang mandi tengah malam begini? Atau sejenisnya?" ucap Erick sedikit merasa aneh. Namun, diabaikan sebentar. Dia perlu menyegarkan tenggorokannya segera.
Tak disangka, suara aneh muncul dari kamar mandi. Itu agak menganggu. Padahal dia sudah tak tertarik, tapi berkat bising aneh dari kamar mandi. Erick memutuskan untuk sedikit mendekat.
Erick memposisikan telinganya tepat menempel di pintu kamar mandi yang transparan namun blur tersebut.
"Ah, Erick ... tolong, jangan lakukan itu! Ah ... Erick!"
Erick seketika mengerutkan keningnya. Mendengar dari suaranya sudah bisa ditebak. Siapa yang sedang berada di kamar mandi, melakukan ritual.
"Huh ... Fian, 'kah? Tapi, setidaknya jangan gunakan diriku sebagai bahan fantasimu! Aku malah sedikit merasa aneh!" batin Erick tersenyum miring. Dia bergegas kembali ke ruang tamu.
Fian pasti malu tertangkap basah melakukan ritualnya. Erick tak ingin ada rasa canggung di antara para penghuni. Bisa menimbulkan masalah nantinya.
"Sebenarnya dia melakukan itu berapa kali dalam sehari?" gumam Erick tersenyum. Rasanya lucu saja mengenal wanita yang sangean. Bahkan melebihi birahi dirinya sendiri.
Begitu kembali, Erick dikejutkan dengan Ariel yang terduduk manis bergelung dengan selimut.
"Ariel? Kamu belum tidur?" sapa Erick yang mengambil tempat duduk di sampingnya.
Mengingat ada keberadaan Anto, dan mereka tak ingin menganggu. Erick dan Ariel pindah ke ruang keluarga.
"Ah, aku tak bisa tidur, sih!" jawab Ariel dengan suara pelan.
"Kenapa kamarnya tak nyaman? Atau Karamel dan ibunya agak ... yah, berisik! Eh? Apa kamu masih tak enak badan?" Erick bergegas menyentuh dahi pacarnya itu. Suhunya turun daripada yang kemarin.
"Umm ... begini, aku ingin melakukannya?" Ariel perlahan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Erick sontak menghentikannya. "Baiklah, aku mengerti. Tapi, di mana? Di sini? Kamu terlalu berisik!" sindir Erick.
"Yah ... habisnya ... rasanya terlalu ... ah, lupakan. Ayo, Erick! Kamu mau membuatku tersiksa begini? Terpaksa melakukan ritual seperti Fian?"
"Tapi, tak ada tempatnya, Ariel. Semua kamar diisi orang!"
__ADS_1
"Di kamar mandi kan bisa? Ayo, aku tak sabar. Kenapa? Kamu tak mau?"
"Masih ada Fian lagi? Gimana ... apa aku harus ... 'tok, tok, tok ... Fian, kamar mandinya sudah dipakai. Tolong, gantian! Kami sudah kebelet, nih' begitu?" batin Erick membayangkan bagaimana memergoki Fian. Wanita itu pasti sungguh malu. Walau Erick maupun Ariel telah mengetahui kebiasaannya.
"Huh, ok, ok. Tapi, kita harus melakukannya bertiga. Kamu tak kasihan pada temanmu?"
"Huh? Teman siapa? Ah, bodolah! Tapi, harus aku yang mendapat jatah lebih banyak." Ariel bergegas menarik Erick menuju ke kamar mandi.
"Kami di sini tidur nyenyak dan sesekali bersenang-senang. Tapi, bagaimana si Reka ...? Masih terjaga dan memikirkan rencana untuk membalasku?" Erick tersenyum simpul dengan sendirinya.
Kenyataannya begitu, Reka belum tidur. Dia malah berkeliaran dengan Figo tengah malam begini.
"Kenapa pertemuannya pada waktu seperti ini? Tak ada waktu lain yang lebih wajar?" protes Reka.
Figo telah mengatur pertemuan dengan Heaven Mafia. Yah, agak sulit menghubunginya, tapi pada akhirnya Figo berhasil melakukan kontak untuk bertemu di suatu tempat. Yaitu, bangunan konstruksi yang mangkrak, sudah lama tinggalkan.
Perlu diketahui hanya segelintir orang yang mengetahui tentang Heaven Mafia, terlebih informasi bahwa kelompok Mafia itu bisa diperkerjakan untuk urusan macam-macam. Baik bersih maupun kotor. Mereka siap melakukannya, tapi jaminannya adalah ongkos yang setara beberapa ginjal.
Namun, tak diragukan lagi hasil kerjanya.
Figo di masa lalu sudah pernah berhubungan dengan mafia itu. Majikannya waktu itu menyewa mereka untuk menyingkirkan saingan bisnisnya.
"Woah ... segera selesaikan urusan ini dan segera pulang."
Reka sebetulnya sudah ngantuk berat. Tapi, apa daya ... ketika dia hendak tidur, Figo mendadak nyelonong masuk ke kamarnya. Dan mengatakan bahwa mereka harus berangkat menemui perwakilan Heaven Mafia untuk membuat kontrak.
"Mereka itu memang tak wajar!? Tapi, harusnya bersyukur Tuan muda. Mereka bisa merespon secepat ini!? Tuan muda ingin secepatnya membalas orang-orang yang telah merendahkan Anda, bukan?" ucap Figo sambil menyetir mobil. Dia baru saja masuk ke sebuah bangunan konstruksi yang terbengkalai.
"Yah, jika ditanya begitu ... tentu saja aku ingin dia segera hancur!" geram Reka.
Reka dan Figo masuk ke bangunan setengah jadi itu. Hawanya sepi, memberikan kesan agak mengerikan. Pantas tak ada tanda-tanda orang berseliweran di sekitar area itu. Bangunan itu angker.
Bulu-bulu halus pada tengkuk seketika berdiri tegak,badan pun mengigil tak karuan walau tak terasa dingin sedetikpun. Reka sudah persiapan mengenakan pakaian tebal.
"Kenapa mereka sangat suka tempat seperti ini? Hotel harusnya lebih baik!" ucap Reka asal, matanya tak berhenti memerhatikan sekeliling. Alat penerangan yang dipunya cuma handphone.
"Mereka terlalu tertutup. Jadi, tempat semencolok itu sangat mereka hindari." balas Figo. Dia mengarahkan cahaya handphone-nya ke berbagai arah. Jujur, mafia itu seperti ninja, bisa berkamuflase. Jadi, tentu tak ingin kaget oleh kehadiran mereka yang tiba-tiba.
"Banyak mural, seingatku dulu belum ada sama sekali!" pikir Figo ketika menyadari ada banyak mural terlukis di tembok. Semuanya sudah kusam.
Yah, umur bangunan itu sudah belasan tahun, tapi belum ada lumut ataupun tanaman rambat yang tumbuh.
__ADS_1
Reka tak sengaja menendang sebuah botol bekas. Rupanya banyak botol sejenis dan berserakan di mana-mana.
"Tempat ini sepertinya sering dijadikan tempat berkumpul para pemabuk dan orang-orang sejenis. Yah, orang-orang seperti itu yang sering dimanfaatkan mereka untuk menjadi tumbal untuk polisi, demi menutupi pergerakan." batin Figo.
Mereka sampai di puncak bangunan. Pembangunannya cuma sampai beberapa lantai dan tak dilanjutkan lagi. Nampak besi-besi besar mencuat.
Di sana berdiri sesosok orang berpakaian hitam.
"Kami sudah sampai." beritahu Figo sedikit berteriak.
Sosok itu berbalik. Bersetelan tuksedo, mengenakan topeng putih dengan suatu simbol di dahinya, yang menyerupai dua pintu setengah terbuka.
"Di salah satu anggotanya?" batin Reka takut. Dia seketika merasa was-was. Bisa saja dia bakal disergap, terus dirinya diculik. Ujung-ujungnya meminta tebusan. Yah, itu lebih menguntungkan.
"Kami sudah membawa uang mukanya." ucap Figo memamerkan sebuah koper. Tentu berisi uang. "Jumlahnya 5 miliar. Setengahnya lagi akan dibayarkan setelah perkerjaan kalian selesai."
"Apa yang harus kami kerjakan?" tanya sosok bertopeng itu datar, seakan tanpa emosi.
"Tuan muda, tuan muda ... cepat kata——ahh." bisik Figo dengan frustasi. Reka tak menyahut, terpaksa dia yang mengambil alih.
"Hancurkan hidup seorang pria bernama Erick Brown. Begitu juga dengan semua orang terdekatnya!" ucap Figo tak gentar.
"Oh, cuma itu. Baiklah——"
"Tunggu sebentar! Apa yang bisa kalian lakukan selain itu? Kalian bisa membuat seseorang jatuh cinta padaku secara tulus? Atau tidak ... apa kalian bisa mengembalikan kesucian seorang wanita?" tanya Reka tiba-tiba dengan tubuh yang gemetar.
"Hmm ... apa itu tugas tambahannya? Jadi, terhitung dua, biayanya bertambah——"
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Reka agak berteriak.
"Tuan muda?!" Figo memperingati dengan panik.
"Jika ditanya begitu ... tentu jawabannya, bisa. Itu masalah sepele. Kami bahkan bisa membangkitkan orang mati, lho?!"
.
.
.
Maaf, untuk hari ini cuma bisa update segini. Ada sedikit kendala. Untuk beberapa mungkin juga cuma bisa 1 chapter.
__ADS_1