
"Jadi, perawan kembali? Gimana reaksi ayah ketika melakukannya dengan ibu nanti malam, ya?"
Pertanyaan itu terus melintas di benak Erick, bahkan sampai dia mengikuti kelas bimbingan dosen. Duduk di pojok belakang, Erick terus melamun dan mengabaikan segala hal yang dosen terangkan. Padahal dosen yang tengah mengajar adalah seorang pria setengah baya yang terkesan sadis ketika mahasiswanya mendapat nilai rendah sewaktu ujian.
"Hei, System. Apa aku sudah keterlaluan?"
[Master malah membantu mengeratkan hubungannya mereka]
"Hah, ya sudahlah. Lihat saja waktu malam nanti. Siapa yang paling terkejut?"
Kelas waktu itu diakhiri, sang dosen berpamitan setelah mengirimkan peringatan.
"Tolong, tugas yang saya berikan, kumpulkan pekan depan!" ucapnya tegas, terlebih mendelik tajam pada mahasiswa yang jarang mengumpulkan tugas. Itu sudah menjadi jaminan bahwa mereka akan mengulang pada mata kuliah itu.
"Yap. Selesai juga. Pantatkuku sakit sebab terlalu lama duduk." batin Erick melakukan sedikit peregangan. Dia bukan tipe orang yang biasa belajar. Namun, beruntung Erick kini tak punya masalah lagi soal urusan akademik.
Kelas secara bertahap sepi, Erick masih sibuk membereskan perlengkapannya. Lalu, dua orang wanita mendadak menghampiri ke bangkunya ketika cuma tersisa mereka bertiga.
"Erick?" panggil salah seorang dari mereka yang menyemir rambut panjangnya dengan warna merah tua.
"Hmm ....!?" Erick hanya berdehem malas tanpa menatap lawan bicaranya.
"Mau ikut ke kafetaria bersama kami? Sekalian belajar ngerjain tugas bareng. Kami tak terlalu paham dengan tugasnya, bisa ajari kami?!" pintanya memelas. Tak cukup untuk meluluhkan hati Erick.
"Maaf, tak bisa. Aku hari ini sibuk." ucap Erick dusta. Dia tak memiliki kesibukan, malah waktu luangnya sangat banyak.
"Aduh, Erick. Tolong kami! Kau minta bayaran berapa——"
"Simpan saja uangmu! Aku tak butuh!" balas Erick ketus, sudah menenteng tas dan bersiap pergi.
__ADS_1
"Lantas. Apa yang kau inginkan? Ayolah, orang tua kami bakal marah besar jika mendapat nilai jelek lagi." ucap temannya ikut membujuk Erick. Dia adalah wanita berambut pendek sebahu dengan sedikit warna cokelat di beberapa helai.
"Itu urusan kalian!"
Kedua mahasiswi itu tetap kekeh, mereka merentangkan tangan untuk menghalangi jalannya Erick.
"Kau butuh apa? Akan kami kabulkan!" tawar si rambut merah mulai gusar.
"Tak ada sesuatu yang bisa kalian tawarkan padaku!" balas Erick kesal.
"Oh, gimana kalau ...." Mereka celingukan. "Tubuh kami?"
Hening sesaat, Erick tak langsung merespon. Dia menatap dua wanita di depannya satu per satu.
"Huh, kedua wanita ini pada sering melakukannya. Gonta-ganti pasangan!" ucap Erick dalam hati.
"Kalian tak menarik di mataku? Sebaiknya minggir!"
"Lelaki di seluruh kampus ingin melakukannya dengan kami. Tapi, kau dengan gampangnya bilang tak menarik. Heh, kau buta atau apa? Merasa bisa mendapat wanita yang jauh lebih baik dari kami?" Kedua wanita itu menggerakkan tangannya guna meraba-raba badan atletis milik pria bersurai cokelat-pirang itu.
"Yap. Kalian sudah mengatakannya sendiri. Kalian tak boleh menyentuhnya! Itu sudah di-booking!" Erick lantas menangkap tangan dari kedua wanita itu sebelum menjamah area bawah.
Erick dengan sedikit kasar mencengkeram dan mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi. Kedua wanita itu tak berdaya.
"Akhhh ... lepas! Apa-apaan kau ini? Kasar sama wanita. Dasar laki-laki pengecut——"
"Sudah cukup mainnya, nona-nona! Jangan menghalangiku!" sela Erick melotot tajam. Seketika membungkam mereka berdua. Hanya rasa gentar yang nampak dari sorot matanya.
Erick kemudian melepaskan mereka setelah merasa buang-buang waktu di ruangan itu. Masih ada Ariel yang menunggu, apalagi Mina-Mona. Akan tetapi, para wanita itu lebih licik dari perkiraan.
__ADS_1
"Akhhhhh! Tolong!" teriak salah satu dari mereka, si rambut merah. Sedang, temannya sibuk merekam menggunakan kamera handphone.
Mulailah si rambut merah mengacak-acak rambutnya, merobek pakaian sendiri, berteriak histeris. Erick masih membiarkannya.
"Fitnah semacam ini ... huh, sungguh memuakkan!" batin Erick.
"Tolong, saya dilecehkan oleh lelaki ini!" teriaknya dengan suara melengking tinggi. Cukup untuk mengundang agar orang-orang datang.
Krakkk ...
Erick dengan cepat menyambar handphone dari wanita si rambut pendek. Kemudian menggenggam hingga remuk menjadi bagian-bagian kecil yang berserakan di lantai.
Mereka terkejut bukan main, Erick meremukkan handphone itu seolah cuma ranting kecil.
Erick selepas itu mendekati wanita yang membuat dirinya seolah-olah adalah korban pelecehan. Dia menangkap kedua tangannya, terus membekap mulut wanita itu.
Akan tetapi, komplotannya memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur, serta mengundang banyak orang agar datang
"Huh, System. Kirim Rita untuk mengejarnya!"
[Baik, Master]
Rita adalah salah satu dari dua asisten yang diciptakan System. Satu lagi yang tak bernama bertugas mengurus Meta, sedang si Rita adalah penjaga Mina-Mona. Tapi, karena mereka berdua sudah banyak perlindungan, Rita sebetulnya sedikit nganggur. Dia cuma mengawasi kedua adiknya Erick ini itu dari jauh.
Erick kembali fokus pada si rambut merah. Dia menatap tajam, mengintimidasi. Dia perlahan melepaskan bekapannya. Wanita berambut merah itu tak mencoba berteriak lagi.
"Heh ... jangan pikir aku akan melakukannya denganmu. Yah, aku tak akan melakukan itu ... tapi lebih buruk lagi——"
"Boby?" pekik kaget wanita itu.
__ADS_1
Erick pun tersentak kaget, dia berbalik melihat ke ambang pintu. Di sana sudah ada pria berkepala plontos itu.
Erick menghembuskan nafas berat. "Yah, kejadian tak terduga. Tapi, dengan begini aku langsung bisa menilainya. Bagaimana cara dia menyikapi kejadian ini?" batinnya.