System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 75 : Tempat tinggal


__ADS_3

Tak sulit bagi Erick untuk mengobati luka-luka yang diderita Hibiki. Dengan System, dia hampir bisa melakukan segalanya.


Erick membawa Hibiki ke love hotel di mana dirinya, Ariel, dan Karamel akan menginap. Reaksi kedua wanita itu.


"Erick, kamu memungut bocah SMA? Ada apa dengannya? Kenapa babak belur?" (Ariel)


"S-sebaiknya dibawa ke rumah sakit. J-jangan di tempat ini!" (Karamel)


Sedikit terjadi perdebatan, tapi Erick lah yang menang. Rencana yang awalnya memesan satu kamar, yah itu rencana Ariel. Sekarang berubah menjadi dua kamar.


Erick sekarang berada di kamar terpisah untuk mengobati Hibiki. Pakaian kumal dan lusuh remaja itu sudah diganti. Hibiki seperti pernah ikut tawuran.


"Yap, pil-pil itu sangat luar biasa, System!"


[Terima kasih, Master]


Erick kepikiran bagaimana untuk mengecek handphone milik Hibiki. Dia harus menghubungi keluarganya agar tak mencipta kepanikan.


"Heh? Lowbat?" kejut Erick tak bisa menghidupkan handphone yang layarnya sudah retak-retak itu. "Sepertinya aku bawa powerbank ... oh, semua barang bawahan sudah dibawa Rita."


Erick meletakkan handphone itu ke meja kecil dekat ranjang.


"Woah, tidur kali, ya? Ngantuk!"


Itu rencananya, tapi ....


Pesan dari Ariel datang ... wanita itu mengirimkan sebuah foto.


Erick tersenyum kecut. "Hmm ... ini kan love hotel."


Suara-suara yang bergairah menggema dari penjuru. Penghuni kamar-kamar sebelah sudah melancarkan aksinya.


"Tapi, apakah Ariel memang merencanakan hal ini? Bisa-bisanya dia membawa pakaian seperti itu di tas kecil yang selalu dia sandang. Untuk Karamel bahkan ada juga."


Ariel mengirim foto dirinya dan Karamel yang mengenakan busana yang pernah ditunjukkannya pada Erick. Itu adalah gaun tidur yang sama ketika mereka pertama kali melakukan itu.


"Huh, Ariel, Ariel ... apa dia tak semakin agresif, ya?" Erick tersenyum dan keluar dari kamar itu. Langsung menuju ke kamar yang ditempati oleh dua teman wanitanya.


Keesokkan paginya ....


Hibiki bangun lebih dulu. Dia sangat terkejut mendapati dirinya berada di suatu kamar yang ternyata adalah sebuah love hotel.


"Kenapa aku bisa di sini? Siapa yang membawaku?"


Hibiki melihat-lihat kondisi sekeliling. "Bahkan lukaku sudah diobati, pakaian pun juga sampai dicuci. Siapa orang baik itu?" gumam Hibiki yang merasa penasaran. Dia langsung memakai kembali pakaiannya.


Remaja laki-laki itu lantas bergegas keluar. Dia tak boleh berlama-lama di sana karena ada anggota keluarga yang cemas menunggu kepulangannya.


"Mungkin dia sudah pergi. Tapi, siapa pun orang itu ... aku sangat berterimakasih."


Hibiki hendak keluar dari love hotel. Tapi, hatinya masih terganjal sesuatu. Dia menuju meja resepsionis. Dia berpikir bisa mengetahui identitas dari seseorang yang telah menolongnya.


"A-no ... boleh saya bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Oh, kamu sudah nampak lebih baik sekarang. Humm ... cepat juga sembuhnya." ucap wanita yang menjadi resepsionis. "Oh, kamu pasti ingin menanyakan siapa yang sudah menolongmu, bukan? Yah, mereka belum bangun. Tunggu saja sebentar lagi!"


Hibiki agak terkejut dengan kata "Mereka". Itu berarti lebih dari satu orang.


"Terima kasih."


"Tak perlu sungkan." Resepsionis itu tersenyum.


Ada satu masalah lagi.


"Ah, gawat. Bagaimana aku membayar biaya menginap di sini? Aku tak punya uang satu Yen pun." panik Hibiki dalam hati. Dia tak mau terlalu bergantung pada penolongnya.


Seolah bisa menangkap maksud dari raut muka remaja laki-laki itu, si resepsionis hanya tersenyum tipis.


"Kamu tenang saja. Semua biayanya sudah diurus."


"Huh ... saya berhutang budi terlalu banyak."


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul.


Erick tiba dengan ditemani Ariel dan Karamel. Tentu saja, mereka memang sekamar.


"Terlihat tak seperti orang Jepang? Mereka turis, 'kah?" batin Hibiki.


"Umm ... Erick-san? Anak yang kamu selamatkan ingin bicara sesuatu?" beritahu resepsionis itu.


"Benarkah? Kukira dia langsung pergi setelah siuman." balas Erick dalam bahasa Jepang. Dia menatap Hibiki secara seksama.


"Namanya Erick, 'kah? Memang bukan orang Jepang?" pikir Hibiki. Dia juga melirik Ariel dan Karamel. Tapi, tak berani melihat dua wanita itu.


"Umm ... Erick-san. Terima kasih banyak." ucap Hibiki membungkuk 90 derajat. "Saya tak tahu bagaimana membalasnya. Tapi, jika ada yang bisa saya berikan, maka akan saya berikan."


"Tak perlu berlebihan. Hal yang kulakukan itu tak terlalu besar——"


"Umm ... Erick, ibu mengirimkan pesan. Dia bertanya, bagaimana soal tempat tinggal. Kita akan tinggal di mana?" Beritahu Karamel dalam bahasa Indonesia, menunjukkan isi pesannya pada Erick.


Rombongan Erick tadi malam berpencar-pencar. Rita yang repot mencarikan tempat menginap terasa tak berguna. Semuanya asal memilih tempat tidur. Seperti di love hotel atau warnet 24 jam.


"Eh? Bahasa Indonesia? Mereka dari Indonesia?" Hibiki sangat terkejut mendengar Karamel berucap dalam bahasa Indonesia. "Mereka mencari tempat tinggal?"


"Erick-san, Erick-san. Kalau soal itu tempat tinggal. Saya bisa menyarankan tempat tinggal yang bagus."


Ariel yang melihat Erick nampak terkejut meminta diterjemahkan. "Erick, kenapa kamu sangat terkejut? Apa yang baru saja dia katakan?" Ariel menarik-narik baju pacarnya itu.


"Dia bisa merekomendasikan hunian yang bagus."


"Eh? Apa dia mengerti bahasa Indonesia?" tanya Ariel.


"Entahlah."


"Ya, saya mengerti bahasa Indonesia. Kakak perempuan saya yang mengajarinya. Dia seorang penerjemah, seorang tour guide khusus turis dari Indonesia." Hibiki nampak bersemangat menceritakan tentang kakak perempuannya.


"Oh, begitu, kah?" Erick bisa leluasa berucap dalam bahasa aslinya sendiri.

__ADS_1


"Ya. Jika Erick-san benar-benar mencari tempat tinggal. Di dekat rumah kami banyak menyediakan banyak apartemen."


Ariel dan Karamel melirik Erick, menunggu keputusannya.


"Yah, sepertinya tak perlu hunian yang mewah."


Ariel dan Karamel asal setuju-setuju saja.


"Kalau begitu. Tolong tunjukkan jalannya. Hibiki, kan?"


"Baik."


Mereka berlalu pergi.


"Terima kasih sudah memilih jasa kami. Kami harap pelayanan kami memuaskan." Resepsionis mengatakan kalimat-kalimat klise yang wajib disenandungkan.


.


.


.


Menggunakan transportasi kereta, Hibiki berhasil mengantar Erick pergi ke apartemen yang dimaksud.


Itu cuma apartemen biasa. Minimalis, hanya terdiri dari empat lantai, tapi memanjang sekitar satu lapangan sepakbola.


Satu hal yang aneh, tempat itu sepi. Tak nampak ada tanda-tanda penghuni yang berlalu lalang.


"Penghuninya kebanyakan beda dunia. Yang benar-benar tinggal di sana cuma beberapa." batin Erick yang melihat beberapa penampakan makhluk yang berlalu lalang di atap apartemen.


"Tenang saja. Meski terlihat, yah biasa. Di dalamnya terawat dan bersih, kok!?" ucap Hibiki. "Penghuninya pun ramah-ramah." Hibiki tersenyum kecut.


"Hmm ... dia cuma ingin mempromosikan tempat ini. Punya teman dekatnya, ya?" batin Erick.


"Yah, mari kita lihat. Di mana pengurus apartemen ini?" ucap Ariel, dia merasa aneh bahwa tempat itu sepi.


"Tunggu, sebentar. Biar saya yang menghubunginya——"


"Iki!" panggil seseorang dari kejauhan.


"Ne-san?" Hibiki kembali menurunkan Handphone yang retak layarnya itu.


Seorang wanita yang seumuran dengan Erick berlari, menggapai Hibiki. Bekapan kuat langsung didapat.


"Semalam kamu dari mana?"


"Gomen, Ne-san. Aku tak bisa menjelaskannya. Tapi, orang-orang dari Indonesia inilah yang telah menyelamatkanku."


Wanita berambut pendek sebahu itu menatap Erick dan dua teman wanitanya.


"... Dari Indonesia?" Dia berucap dengan bahasa Indonesia.


"Ya, perkenalkan. Nama saya Erick. Ini Ariel dan Karamel."

__ADS_1


__ADS_2