System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 81 : Misi baru


__ADS_3

Erick dikepung dari segala penjuru. Namun, dia tak gentar sedikitpun, malah sebaliknya. Erick terus memotivasi para Yakuza itu.


Mereka naik pitam karenanya.


"Sebaiknya kalian hibur aku, ya? Untung lagi bosan!"


"Bajin9an!"


Mereka menyerang bersama-sama, tak memberikan kesempatan Erick untuk menghindar. Tapi, Erick tak punya niatan menghindar sedikit pun. Dia cuma berdiri santai tak bergerak meski hanya sejengkal.


Bugh ... bugh ... bugh ...


"Argh ... apa-apaan dengan tubuhnya itu? Seperti memukul besi." Salah satu Yakuza mengibaskan telapak tangannya. Dia merasa kesakitan setelah meninjau perut Erick.


Begitu juga dengan yang lainnya, punggung tangan mereka memerah dan bahkan langsung bengkak. Tubuh Erick sekeras baja.


"Hoh? Apa yang kalian tunggu? Ayo pukul! Apa kalian yang terlalu lemah? Ini baru kulit manusia lho, belum berlian! Kalian sudah kesakitan?" Erick melanjutkan provokasinya. Dia menyeringai lebar, memandang remeh.


"Sialan, kau!" Yakuza yang lain mengeluarkan sebilah pisau dan akan ditusukkan mengincar dada kiri Erick.


Sebelum bisa mendekat, Erick sudah keburu menendangnya hingga membuat pisaunya terlucut.


"Huh, dasar pengecut. Aku berkelahi tangan kosong, lho. Kalian menggunakan senjata. Kalian tak malu, 'kah? Hah?"


Para Yakuza menggetarkan giginya dengan kesal. Mereka tak tahu mesti harus berbuat apa. Berkelahi secara jujur tak mungkin bisa menang, pilihan menggunakan senjata adalah cara satu-satunya. Itu yang mereka pikirkan.


Erick hanya tersenyum karena menertawakan semua pikiran Yakuza itu.


"Akan kubuat malu mereka semua!" batin Erick.


"Sebaiknya kau berlutut di hadapan kami jika tak ingin mati!?"


"Kalau tidak?" Erick memiringkan kepalanya. Dia melirik ke salah satu Yakuza yang memasukkan tangannya ke dalam saku.


"Kalau tidak ... hahaha, tubuhmu akan berlubang!"


Jdar ...


Yakuza itu memuntahkan timah panas dari moncong pistol. Erick sudah menduganya. Dia cuma menggeserkan tubuhnya ke samping dan tembakan itu dengan mudah dihindari.


Erick punya kemampuan prekognisi. Kemampuan untuk mengetahui kejadian di masa depan, walaupun hanya beberapa detik. Yah, salah satu kemampuan Esper.


Yakuza itu tak berhenti di tembakan pertama. Serangan-serangan susulan terus digalakkan, mereka menyerang Erick secara brutal dan tanpa ampun.


Namun tak ada bedanya, Erick menghindari semua tembakan itu. Dia seperti menari-nari.


Para Yakuza pun menjadi frustasi. Pistol mereka juga sudah kehabisan peluru.


"Bedebah! Awas kau! Kami akan membalas kejadian ini!" Mereka hendak kabur.


"Apakah aku akan membiarkan kalian pergi dari sini hidup-hidup?"

__ADS_1


Erick memunguti balok kayu yang tercecer di dekatnya. Dia langsung melemparkan dan menarget kepala mereka.


Satu target terkena telak, seketika pingsan.


Erick mengambil handphone-nya dari saku dan mulai merekam tindak-tanduk Yakuza itu.


"Hei, lihat guys ... para Yakuza payah itu kabur setelah kalah menghadapi satu orang. Mereka mau mengadu pada bosnya. Pengecut sekali, 'kan?"


Kalimat yang diucapkan Erick itu membuat para Yakuza itu tertelan amarah dan gelap mata. Tak memedulikan apapun, mereka berlari menerjang Erick dengan modal nekat.


Erick meringkus mereka hanya dengan beberapa gerakan.


"Huh ... dasar orang-orang merepotkan!" keluh Erick menyeka keringat di dahinya. Tadi lumayan melelehkan.


"Sebaiknya ingatan mereka tentang kejadian ini mesti dihapus. Aku malas berurusan dengan para Yakuza itu."


Erick akhirnya memodifikasi ingatan mereka.


Dia turun dari gedung untuk menemui Tenka dan Hibiki yang menunggu di bawah.


"Erick-san baik-baik saja?" Hibiki kaget melihat Erick yang menghampiri mereka sambil berjalan santai.


"Hmm ... bisa dilihat sendiri. Sudah, ayo kita pergi dari sini." ajak Erick.


"Terima kasih, Erick!" Tenka menunduk. Dia sadar utang budinya pada pria itu semakin bertambah.


"Yah, tak perlu dipikirkan." balas Erick santai.


[Misi dikonfirmasi, Master]


"Hah? Tumben. Sudah lama tak ada misi yang muncul. Lalu, apa misinya?"


[Bantu permasalahan keluarga Uzen]


[Klasifikasi : A]


[Hadiah : Hubungan dengan mereka akan semakin erat dan petunjuk keberadaan Anya]


[Batas waktu : Tidak ada]


[Pinalti : System akan diturunkan ke v.1]


"Hmm ... ini sama sama kau menyuruhku untuk semakin terlibat dengan urusan Hibiki dan Tenka. Semakin dekat dengan mereka. Huh, yah, hadiahnya adalah petunjuk tentang Anya."


[Apakah terlalu sulit, Master?]


"Tidak, sepertinya mudah. Mungkin cuma menyelesaikan masalah pembullyan dan keuangan mereka yang tak stabil."


Mereka sampai di kediaman keluarga Uzen. Yah, rumah yang lumayan besar. Keluarga mereka mungkin golongan menengah ke atas.


"Ayo, Erick-san masuk." ajak Hibiki.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau mampir." ucap Tenka.


"Ya ..."


"Pertama-tama, tentang masalah Hibiki. Dia kabur karena tak mau sekolah. Masalah pembullyan itu parah. System, cari informasi tentang orang-orang yang merundung Hibiki."


System menampilkan panel yang berisi informasi tentang orang-orang yang membully Hibiki.


"Heh? Masalah cewek, 'kah? Dia marah karena gadis yang disukainya lebih memilih Hibiki!? Tapi, setidaknya mudah diselesaikan."


"Erick, mau minum kopi?" tawar Tenka yang telah mengenakan celemek.


"Padahal mereka sudah sarapan?" batin Erick tersenyum kecut. Dia mendengar suara-suara hari dari Hibiki.


Namun, entah kenapa Erick tak bisa mendengarkan suara hati maupun pikiran dari Tenka. Sangat senyap.


Tak mungkin seseorang bisa melakukan pikiran kosong, kecuali jika dia memang memiliki keistimewaan.


"Yah, kurasa tidak. Tenka masih didekati para makhluk halus. Itu berarti dia manusia normal, 'kan? Kenapa aku tak bisa mengetahui isi hatinya? System, jelaskan!"


[Saya pun juga tak tahu, Master]


"Huh ... yah, bagian ini juga harus diselidiki."


Handphone Erick bergetar di saku jaketnya, itu artinya ada notifikasi. Erick ada sudah menebak bahwa itu Ariel.


"Erick, kemana kamu? Kenapa tak kunjung kembali?" (Ariel)


"Ada urusan sebentar. Sarapan tanpa aku!"


"Ya sudahlah." (Ariel)


"Dia pasti ngambek dan minta jatah. Oh, ya? Kapan aku melamar wanita itu? Akhhh ... fokusku selalu terbagi-bagi."


Masalah datang dan pergi sudah biasa.


Bagi Erick.


.


.


.


.


Sekitaran 40-an chapter atau bisa aja kurang novel ini tamat. Umm ... gimana, ya? Aku malas memperpanjang novel ini. Tujuan utamanya cuma nemuin Anya, udah itu aja. MC nggak tertarik kekayaan dan kekuasaan. Dia cuma ingin hidup tenang dengan keluarganya.


Jadi, nggak ada banyak hal yang bisa diceritakan setelah MC menyelesaikan misinya. Malah bosenin nanti. Sampai pada chapter bagian ini sudah pada bosen, 'kan? Jumlah like nya menurun tajam.


Tambahan. Makasih bagi para pembaca yang ingikutin dan nunggu update selama ini. Dukungan kalian yang buat aku masih tetap update.

__ADS_1


Udah, see you.


__ADS_2