System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 64 : Bentrokan, pengendali pikiran


__ADS_3

Di markas Heaven Mafia, di ruangan yang terletak di lantai tertinggi. Duduk seorang pria yang berpenampilan urakan. Cuma mengenakkan kaos oblong, sandal jepit, rambut hitamnya pun acak-acakan.


Dia duduk di salah satu kursi, ruangan itu habis digunakan untuk rapat. Pria itu sendirian di sana, termenung menyangga kepalanya dengan tangan, sesekali juga menguap.


"Woah ... membosankan!" ucapnya menguap lebar.


Pria itu acuh pada handphone-nya yang terus memberikan notifikasi pesan masuk. Yah, dari para bawahannya. Tak penting. Dia tak memedulikan apa yang terjadi di markas kebesarannya. Menurutnya itu masih membosankan.


Namun, si penyusup yang datang tadi pagi, tak lain adalah Erick berhasil menarik minatnya.


"Ayo, datang ke sini! Aku akan menyambutmu!" pria itu menyeringai jahat.


Tok ... tok ... tok ...


"Master, master. Terjadi situasi gawat——"


Dor ...


Pria itu menyambar pistol yang tergeletak di atas meja. Terus menarik pelatuk dan menarget langsung jantung dari si tamu yang tak sopan itu. Asal nyelonong masuk tanpa diberi persetujuan, mentang-mentang pintu tak terkunci.


"Dasar tak ada etika!" cibir pria itu, melempar asal pistol di tangannya ke tengah meja.


Ketenangannya di ruangan itu baru saja dirusak.


"Rasuki tubuh itu!" seru pria itu tanpa tahu pada siapa. Tak ada siapa pun.


Sementara itu, secara mengejutkan, orang yang baru dibunuhnya kembali bangkit berdiri. Darah yang mengucur dari dada kirinya seketika mampet. Orang itu nampak berbeda, iris matanya berwarna merah darah.


"Kumpulkan saja para anggota yang tewas!" titah pria itu.


Orang yang baru saja bangkit itu menunduk hormat seraya menempelkan telapak tangan di dada. "Baik, Master. Adapun saya berterima kasih telah diberikan tubuh fisik ini!"


"Ah. Iya, iya. Lagi pula tak ada gunanya menampung kumpulan manusia tak kompeten. Memang kalian yang cocok! Hmm ... oh, ya? Lawanmu kali ini mungkin sedikit sulit! Beritahukan ke sesamamu ... waspadalah!"


"Saya mengerti, Master. Saya undur diri dulu!"


Pria itu mengangguk. Dia kembali sendirian. Dan tak berselang lama, pria itu tertawa cekikikan tanpa sebab yang jelas. Tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.


"Hah, bangsat! Ini sangat menarik! Wuh ... seru sekali!"


Keadaan markas di lantai bawah ...


Markas dari Heaven Mafia sebelumnya adem ayem saja. Semuanya berjalan dengan normal. Tapi, tak ada angin, tak ada hujan, timbul sebuah ledakan di salah satu ruangan. Menyemburkan asap ungu, yang mana jika terhirup sedikit saja ... maka nyawa akan langsung meregang. Racun yang sungguh mematikan.

__ADS_1


Setalah ledakan pertama muncul, kemudian disusul oleh rentetan ledakan lainnya di sembarang tempat. Menimbulkan kekacauan, semua anggota Heaven Mafia panik. Lari tunggang langgang menghindari asap ungu beracun, yang hampir memenuhi seisi gedung.


"Buka semua jendela, kenakan masker gas!" teriak seseorang bermasker gas memberikan arahan.


Para anggota mafia lainnya pun menjalankan arahan itu, mereka tak ingin mati konyol.


.


.


.


Sementara itu, sang pelaku yang telah memporak-porandakan markas dari Heaven Mafia kini sedang tegang-tegangnya.


Erick bersama keluarganya Ariel masih berada di gudang penyimpanan anggur. Mereka tak bisa keluar, sebab di atas sana sudah ada puluhan orang yang mencegat.


"Bagaimana ini?" tanya ayahnya Ariel. Dia tahu pasal kegelisahan Erick.


"Tak apa-apa. Anda sekalian cukup gunakan saja jubah itu untuk berkamuflase. Seperti rencana awal ... saya akan menjadi umpan."


"Tetapi, apa tak apa-apa? Anda sampai harus berkorban——"


"Anda tau ... saya mencintai anak perempuan yang kalian lahirkan! Saya tak mau melihatnya bersedih." ungkap Erick serius, dia tersenyum simpul.


"Cukup basa-basinya! Saya akan keluar lebih dulu, membuat keributan. Kalian langsung kabur, pergi sejauh-jauhnya. Jika memungkinkan, saya akan menyusul" Erick membuka topengnya, rupa pria berusia 20-an tahun terlihat.


"Saya sudah berjanji untuk kembali dengan selamat. Jadi, saya akan berjuang keras untuk menepatinya."


Berkat kalimat itu, ayah dan ibunya Ariel merasa sedikit lega. Kesungguhan yang ditunjukkan Erick ... cuma dengan senyuman sudah sanggup memberikan keyakinan.


Erick memposisikan Reka di depan tubuhnya. Diambil sebuah belati dari penyimpanan System. Erick menodongkannya tepat di leher anak tunggal dari keluarga Rekan itu.


"Baiklah, kau akan jadi tameng hidupku. Sebaiknya jangan bergerak dan turuti perintahku!" bisik Erick mengancam.


Erick lantas memaksa Reka berjalan lebih dulu menaiki tangga. Sampai di pintu. Di sinilah ketegangan mulai memuncak.


Erick berada tepat di belakang Reka, membelenggu tangannya.


"Suruh mereka membuka pintu!"


Reka menelan ludah ketika ujung belati sudah menempel di lehernya. Untung tak dilumuri racun


"Cepat buka! Ini aku!" teriak Reka.

__ADS_1


Orang-orang di sebalik pintu pun bereaksi untuk membukakan pintu. Tapi, mereka tetap waspada. Bisa saja kemungkinan terburuk datang.


Yah, memang kejadian. Begitu pintu terbuka. Ericka langsung mendorong Reka ke depan hingga terjerembab ke depan.


"Letakkan semua senjata kalian! Jika tak tak ingin majikan kesayangan kalian ini kepalanya copot." teriak Erick menodongkan sebuah belati.


Para bawahannya Reka atau para anggota Heaven Mafia yang ada di situ pun mati kutu. Tak tahu harus berbuat apa. Erick jadi lelausa bergerak menjauh, di saat bersamaan juga keluarganya Ariel mulai menyelundupkan diri.


"Yap, bagus. Kita bisa kabur dari sini." pikir Erick.


Erick sudah mencapai pintu keluar. Sedangkan, keluarganya Ariel juga telah keluar tanpa ada yang mengetahui.


Namun, kejadian tak terduga terjadi.


Dor ...


Seorang menari pelatuk senjata api, mengincar Erick. Seusai namanya, Reka dijadikan tameng. Dia pun terhujam timah panas dan di bagian jantung, langsung meninggal di tempat.


"Hiraukan! Cepat! Bunuh dia!" perintah itu serta merta datang. Lalu ... hujan peluru siap menghujani.


Erick dengan sigap membuang tubuh Reka. Kemudian berlari sekuat tenaga menuju mobil-mobil yang diparkirkan di halaman depan.


Erick diberondong peluru, secara membabi-buta ditembak terus-menerus. Sampai mobil-mobil itu berlubang, bahan bakar kemudian bocor. Dan ....


Boammm ...


Mobil-mobil itu meledak bersahut-sahutan. Untung Erick sadar dan sempat pergi menjauh. Tapi, gelombang kejut yang dihasilkan menghempasnya.


"Mereka sudah gila! Apa-apaan dengan tembakan asal itu? Cuma merusak aset-aset saja." batin Erick kesal.


Erick memanfaatkan ledakan-ledakan itu untuk menyerang balik. Dia mengeluarkan semua jenis granat yang dipunya, terus dilemparkan ke arah puluhan orang itu.


Boam ... boam ... boam ...


Ledakan dari granat biasa, suara, dan cahaya bersatu. Timbul cahaya yang amat terang dan suara melengking tinggi untuk menyakiti telinga.


Erick lantas berlari menjauh menuju gerbang keluar. Langkahnya gontai akibat rentetan peluru yang tak sengaja menyerempet kaki, bahu, dan bagian tubuh lainnya. Nampak mengeluarkan darah.


Erick akhirnya berhasil lolos dari rumahnya Reka, tapi tak berlangsung lama. Dia perlu mencari tempat sembunyi sebelum dikejar-kejar.


Ada orang yang mengambil alih pikiran para bawahannya Reka.


"Pasti ada yang mengendalikan pikiran mereka?! Majikan mati bukannya menyerah malah semakin bar-bar. Ahh ... mafia itu, aku harus mengumpulkan pasukan."

__ADS_1


Adapun keluarganya Ariel berhasil selamat.


__ADS_2