System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 59 : Ancaman


__ADS_3

Memo yang secara mengejutkan terkirim, rupanya hanya memuat satu kalimat pendek.


..."Ariel's family."...


Yah, dua kata dalam bahasa Inggris itu saja. Tak ada tambahan kata yang ditemukan pada secarik kertas tersebut.


Dampak memo itu menimbulkan keresahan. Erick mulai berspekulasi macam-macam mengenai keadaan keluarga Ariel.


"Siapa yang mengirim ini?" batin Erick resah, cuma bisa gigit jari. "Dari Reka? Luas banget jaringan informasinya? Cepet banget!?"


"Erick, apa maksudnya dari memo itu? Kenapa dengan keluargaku?" Otomatis Ariel merasa was-was, tak bisa tenang.


"Aku pun tak tau. Tapi, aku bisa jamin ini bukan apa-apa. Tak perlu mengkhawatirkan keluargamu! Ini juga berlaku padamu, Fian! Apabila sejenis ini terkirim?" Sebatas kalimat penghiburan dari Erick yang tak dianggap relevan.


Erick meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dia mensugesti semua orang agar menganggap remeh. Memang tak ada gunanya parno berlarut-larut.


"Master, bisa bicara sebentar?" pinta Rita mendadak menghampiri Erick di dapur.


"Ya, silahkan. Apa kau mengetahui sesuatu tentang memo itu?" Erick yakin bawahan ciptaan System itu punya sesuatu untuk diberitahu. Harusnya hal yang bagus mengenai situasinya sekarang.


"Mungkin saya tak bisa menjamin ini benar 100% benar, Master. Namun, saya yakin bahwa memo yang datang ini adalah suatu bentuk teror ancaman!?" terang Rita. Dia beranjak mendekat ke tempat sampah, terus merogoh dan mengambil kertas yang baru dibuang Erick.


Rita mengantongi kertas yang sudah berkerut itu. "Bisa saja ini ada alat penyadapnya. Biar saya yang mengurusnya." Rita tersenyum tipis.


Erick melebarkan matanya, begitu terkejut dengan fakta yang dibeberkan oleh Rita. Erick tersenyum miring. "Haha ... benar juga. Aku malah kurang waspada."


"Tak apa-apa, Master. Tapi, Anda tenang saja ... ini tak seperti mereka yang telah mengetahui tentang kita yang bersembunyi. Menurut saya ini cuma bentuk gertakan. Master bisa mengecek semua akun sosial media Anda. Pasti pesan yang sama telah terkirim.


Master tak perlu cemas soal pelacakan lokasi, saya akan mengurusnya. Keahlian saya seharusnya bisa diandalkan."


"Begitu, kah? Jika ini cuma untuk membuat takut ... berarti memo semacam ini akan datang lagi?" terka Erick mengangkat alisnya. Rita mengangguk mengiyakan.


"Saya pikir juga begitu."


Erick memegang dagunya, berpikir keras. Dia mendadak terkesiap, sungguh kaget pada pemikiran yang mendadak lewat.


Erick memijit keningnya. "Lalu, Rita ... apa kau merasa Reka akan memperkerjakan orang pro? Maksudnya Heaven Mafia."


Tak ada keraguan sama sekali, Rita mengangguk.


Erick menghembuskan nafas berat. "Huh, yah. Tak perlu terkejut sebetulnya." gumam Erick memegangi kepala. Rasanya cukup pening.


Selepas itu, Erick dan Rita kembali ke ruang tamu. Pembatasan berselancar di dunia maya dihapus, setidaknya Erick tak cemas lagi karena ada jaminan dari Rita.

__ADS_1


Langsung saja, Erick memerintahkan untuk mengecek akun sosial media masing-masing. Benar saja, pesan yang sama diterima oleh semua orang.


Ariel jadi sulit mengendalikan kekhawatiran pasal keluarganya. "Gimana, nih?"


"Aku sudah bilang kan ... aku bisa jamin keluargamu baik-baik saja." ucap Erick menarik Ariel ke dalam pelukannya, mengelus rambut Ariel. "Semuanya pasti terkendali."


Ariel memang cuma bisa percaya pada Erick.


Selanjutnya ... pada pukul 2 siang. Datang lagi memo yang sama, di saat yang bersamaan juga. Pesan dari anonim menginvasi akun sosial media tiap orang, yah kecuali Rita.


Pesan kali ini membuat ....


..."Fian's family."...


Sasarannya kali ini keluarga Fian. Namun, wanita itu tak memberikan reaksi apa-apa, cuma "Oh" pendek. Terdengar kejam, tapi hubungan Fian dan keluarganya memang retak, itu pun karena Erick.


Erick yang membebaskan penggunaan internet sedikit membantu rasa cemas semua orang, karena bisa mengetahui keadaan luar. Misal mencoba menelepon.


.


.


.


memo yang datang berubah isinya. Tak lagi melulu soal keluarga.


..."Defamation." (Fitnah)...


..."Suspension." (Pemecatan)...


..."Violence." (Kekerasan)...


..."Intimidation." (Ancaman)...


Memo itu datang setiap jam 10 pagi dan 2 siang. Begitu, selama dua hari berlalu.


Erick masih abai terhadap teror-teror itu. Namun, dia telah mengambil tindakan dengan memata-matai. Berbekal dengan 3 buah mosquito, si pengirim memo terus dibuntuti.


Rupanya Erick masih bisa mengendalikan robot-robot nyamuk itu, walaupun System tengah dalam masa upgrade. Itu sangat membantu.


"Dari mana kakak bisa mempunyai drone yang canggih itu?" tanya Mona dengan mata berbinar. Robot seukuran nyamuk itu memang keren.


"Yah, beli pastinya." jawab Erick sedikit ragu. Dia tak berbohong, memang beli, tapi di Shop System.

__ADS_1


"Sudah, Mona. Jangan ngerecoki kak Erick. Sedang serius-seriusnya, nih!" omel Mina.


Semua orang tengah fokus-fokusnya menonton rekaman real time dari mosquito melalui layar smart TV. Yah, supaya lebih besar.


"Erick, ini jalan menuju ke rumah Reka!?" beritahu Karamel. Fian juga mengangguk.


"Jadi, si tukang pos suruhan langsung? Bukan babu dari Heaven Mafia?" pikir Erick menerka.


Orang yang dibuntuti Erick telah sampai di kediamannya Reka yang luar biasa besar itu. Tak cocok disebut rumah, mirip seperti istana presiden.


"Dasar orang yang suka berfoya-foya! Ini terlalu berlebihan. Hmmm, tapi bebas sih ... horang kaya!?" Erick tak hentinya mengomentari rumah dari salah satu orang terkaya di Indonesia itu.


Si pengirim surat bukannya masuk ke rumah super besar itu. Dia malah menuju ke halaman belakang.


"Mungkin ke lapangan pacuan kuda. Reka hobi melakukannya." beber Mala. Dia mantan ART di sana. Sewajarnya tahu.


Reka memang terlihat sedang menunggang kuda, si kurir surat menunggu di pinggir.


"Apa kita bisa mendengar pembicaraan mereka?" tanya Ariel.


"Yap, tentu saja. Drone ini sangat canggih." ucap Erick bangga. Sensor pendengaran mulai dinyalakan.


"Tuan muda!" panggil si kurir.


Reka yang asyik memacu kudanya sadar, terus bergegas melajukan kuda menuju ke arahnya.


"Ada sesuatu yang bagus? Di mana si Erick itu? Apakah benar-benar berlibur? Aku sangat meragukannya!" ucap Reka.


Si kurir menggeleng. Dia sudah berusaha mengulik informasi dari seluruh penghuni apartemen, tapi karena Erick tak banyak berhubungan dengan orang lain. Jadi, menyulitkan.


"Belum ada perkembangan?" si Reka nampak kecewa.


"Tapi, biarlah ... dia memangnya mau kabur kemana? Tak selamanya dia bisa menghindar! Terpenting ... aku telah menghancurkan kehidupannya di sini ...


Orang tuanya kehilangan pekerjaan. Dia, adik-adiknya, pacarnya, sudah di DO dari kampus. Kabar buruk mengenai dirinya ... hahaha, bahkan polisi juga sedang mencarinya. Malang sekali nasibnya."


Erick sendiri tak kaget, dia sudah memperkirakannya.


"Bagaimana kalau kita gunakan saja keluarga dari pacarnya untuk memancing dia keluar? Bunuh salah satu, itu pasti efektif!"


Muncul suara orang lain, dan di saat bersamaan ... mosquito hilang kontak. Erick langsung melirik ke arah Ariel yang berada di dekatnya.


"Aku tak akan membiarkannya." ucap Erick.

__ADS_1


__ADS_2