System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 94 : Militer yang bar-bar


__ADS_3

Hampir setengah penduduk Tokyo berhasil diungsikan, dan sampai sekarang terus berjalan.


Helikopter hilir mudik di angkasa, berupaya menyelamatkan penduduk yang terjebak di sekitaran Shinjuku. Sedangkan di darat, puluhan ribu orang berdesakan memenuhi jalan guna pergi ke tempat yang telah disiapkan pemerintah,


Semua orang panik, bunyi dentuman demi dentuman yang memekakkan selalu hadir. Mensugesti bahwa kelompok ******* yang di Shinjuku itu begitu berbahaya, sampai militer dikerahkan penuh, dan seluruh penduduk yang diungsikan.


Orang Jepang yang biasanya teratur dalam melakukan antrean kini masa bodoh dengan etika itu. Mereka berebut untuk cepat-cepat nak ke truk kontainer besar. Anak-anak kecil dan para Lansia pun menjadi korban. Harusnya mereka yang diutamakan.


Sementara itu, Erick berada di puncak gedung untuk melihat pemandangan sekitar.


[Kita tak bisa bergerak lebih dekat, Master]


[Lokasi Anda akan langsung diketahui jika bergerak selangkah lagi]


Erick masih terpaut jarak belasan kilometer dari lokasi Anya atau Tenka berada. Namun, dia tak dapat maju tanpa menimbulkan keributan.


Begitu keberadaannya terdeteksi, pihak musuh akan langsung memburunya.


"Eh? Tunggu ... bukannya mereka memintaku untuk datang? Kenapa sekarang malah aku dihalang-halangi?"


[Tujuannya hanya untuk membuat semakin menarik]


[Anggapan sebuah game, Master harus melawan kroco sebelum melawan boss]


"Menyebalkan!"


[Ya, kita harus menunggu semua orang untuk dievakuasi. Kita bisa bertarung tanpa mengkhawatirkan siapa pun]


"Yah, tapi militer Jepang sudah duluan bergabung ke pesta."


Erick membuka ruang penyimpanan System untuk mengambil katananya. Sebuah lubang dimensi lantas terbuka, katana dengan bilah hitam itu pun muncul.


Erick menarik nafas dalam-dalam, "Silahkan mengamuk sesukamu! Habisi semua musuh!" Dia tersenyum getir. Seluruh energinya terasa dikuras habis.


"Baiklah, divisi makhluk ghaib .... silahkan dimulai!"


"Dengan senang hati, hehe."

__ADS_1


Siluet ular raksasa melilit gedung Erick jajaki. Itu sungguh mengerikan. Ular berwarna hitam legam dengan alur ungu, matanya yang berwarna merah pun terlihat menakutkan.


Hebi mulai merayap dengan cepat, melalui sela-sela bangunan pencakar langit.


Serangan mulai bermunculan, ribuan makhluk seperti manusia berusaha memblokir pergerakan ular raksasa itu. Yah, tentu saja percuma, mereka dilindas dengan mudah. Senjata-senjata api yang digunakan pun tak mampu menembus sisik kerasnya.


Memanfaatkan kekacauan itu, Erick juga mulai bergerak. Dia melompat dari gedung satu dengan gedung lainnya. Semuanya berjalan mulus, dia tanpa hambatan akan segera sampai di tempat Anya.


Namun, tak berselang lama ....


Bam!


Dentuman menggema, laluan Hebi mendadak terblokir oleh sesuatu yang tak kasat mata.


"Sialan!" Hebi berusaha menerobos dengan terus menyeruduknya, namun tak kunjung membuahkan hasil.


Lalu, ditambah dengan masalah yang datang tiba-tiba.


Hebi mendadak dibombardir oleh pesawat tempur milik militer Jepang. Belasan pesawat meluncurkan rudalnya.


"Woi, apa-apaan ini? Ah, sial! Tubuh raksasa Hebi terlalu menarik perhatian!"


Tak punya pilihan lain, Erick menyuruh Hebi untuk berubah ke wujud manusia. Pesawat-pesawat tempur itu pun berhenti menembaki dan berganti sasaran. Mereka lalu memborbardir area persimpangan Shinjuku.


"Aku baru bergerak tak lebih dari 1 km."


Dia kemudian menggunakan Clairvoyance untuk menerawang jarak jauh dan melihat kondisi Anya.


Yah, dia diikat pada tiang tinggi, sedangkan di sekelilingnya di jaga oleh belasan orang yang tampak kuat.


Terlebih, ada penghalang tak kasat mata yang mampu memblokir tembakan rudal dan segala serangan dari luar.


Sebuah sinar laser melesat dari salah satu senjata yang digunakan mereka, mengincar beberapa pesawat tempur sekaligus. Lantas terkena telak lalu hilang kendali, dan menabrak gedung-gedung di bawahnya.


Boam! Boam!


Asap hitam mengepul dari beberapa titik.

__ADS_1


[Evakuasi telah selesai, Master]


[Seharusnya pasukan militer akan melakukan hal yang lebih gila lagi ... seperti menembakkan rudal yang mampu meratakan seluruh kota]


"Oi, oi ... apa yang dipikirkan oleh mereka? Seluruh Tokyo bisa hancur! Apa tak mempedulikan keselamatan Anya sebagai sandera .... oh,ya? Harus berpikir realistis, tak peduli terhadap satu nyawa, prioritas untuk melenyapkan ancaman yang bisa menghancurkan sebuah benua kecil."


[Menurut saya, barrier yang digunakan masih mampu untuk melindungi Anya, Master]


"Yah, aku tunggu saja sampai keadaan mereda. Namun, aku sedikit ragu. Militer Jepang pasti juga susah meminta bantuan kepada negara sekutu. Ugh ... semakin banyak pasukan militer."


Hari berubah menjadi sore, sinar berwarna jingga menembus asap-asap hitam yang mengepul di segala tempat. Wilayah di sekitar Shinjuku telah luluh lantak.


Bunyi tembakan telah berhenti sejak tadi. Yah, keadaannya bisa sedikit lebih tenang. Kecuali suara sirine yang muncul kembali.


"PIHAK MILITER JEPANG, KAMI TAK TERTARIK PADA NEGARAMU. BERHENTI MENGGANGGU ACARA INI. TUJUAN KAMI HANYALAH PRIA BERNAMA GURE ERICK, SETELAH MENYELESAIKAN URUSAN DENGANNYA. KAMI AKAN PERGI!"


Pengumuman dari pengeras suara itu bergema ke seluruh penjuru Tokyo. Membuat bising ketenangan yang sebelumnya tercipta.


"OH, KAMI TAK INGIN KALIAN MENYERAHKAN PRIA ITU. CUKUP DUDUK MANIS, DAN KAMI AKAN MEMBERESKAN KEKACAUAN YANG KALIAN BUAT SENDIRI! TAK AKAN ADA YANG MERASA DIRUGIKAN DI SINI. ASALKAN MAU BEKERJA SAMA."


Erick cuma tersenyum kecut saat mendengarnya.


"Mereka benar-benar serius! Orang-orang dari dunia lain itu!?"


"Gimana, Erick?" tanya Hebi yang berada di sebelahnya.


"Ya, tentu berperang, kan? Arenanya sudah ada. Tinggal pesertanya ... hmm, apa kita tak bisa mengerahkan seluruh makhluk di kota ini?"


"Tentu saja bisa. Pasti mereka marah ke orang-orang sok asik itu!"


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau membosankan, ya udah lah, ya ... aku juga mau ini cepat tamat, jadi bisa fokus ke novel baru.


__ADS_2