
"Erick, Erick!"
Ariel dan yang lainnya bergegas menuju ke reruntuhan itu. Yah, memang berbahaya, tapi rasa cemasnya membuat abai terhadap keselamatan diri sendiri.
Mereka berusaha menerobos kepulan debu yang membuat meta perih. Nama dari Erick terus digaungkan sampai terdengar sahutan.
"Uhuk ... uhuk ... E-rick! Erick, j-jawab! Kamu di mana? Uhuk ... uhuk ... E-rick?!"
Pondasi gedung itu masih labil dan reruntuhan bisa berjatuhan kapan saja. Ariel kebetulan berada di bawahnya dan hampir terkena. Andai kata Erick tak sigap menghancurkan puing-puing itu menjadi potongan-potongan kecil.
Slash ... Slash ...
"Aduh, uhuk ... uhuk ... aku tak mungkin mati dengan cara seperti ini!" ucap Erick berupaya menenangkan Ariel yang kelewat cemas.
Erick muncul dengan terbatuk-batuk sambil memegangi katananya.
"Kalian ceroboh! Sudah, kita harus jauh-jauh dari area ini!" seru Erick mengajak semua orang untuk mengungsi.
Erick memandu mereka yang khawatir padanya menjauh dari area reruntuhan.
Di luar area apartemen milik Rinka sudah banyak orang berkerumun, bahkan beberapa mobil damkar dan ambulan juga sudah bersiaga. Para petugas langsung melakukan bagiannya masing-masing.
"Erick-san tak apa-apa?" tanya Hibiki. Sepertinya dia yang sudah menghubungi damkar.
"Ya, kami baik-baik saja. Tapi, maaf soal apartemennya, Rinka. Namun, tenang saja. Aku akan mengganti seluruh kerusakannya. Kau tak perlu khawatir!" balas Erick dalam bahasa Jepang. Dia cukup menyesalkan kerusakan yang terjadi. Gadis pemalu itu terlihat sangat sedih.
"Tak apa-apa. Ini namanya musibah dari sebuah game?" Hibiki berniat menghibur Rinka yang bersedih. "Erick-san punya uang banyak, jadi tak perlu cemas."
"System, modifikasi ingatannya Hibiki dan Rinka!"
[Baik, Master]
Pil yang Erick berikan sebelumnya bukan cuma berfungsi menyembuhkan, tapi lebih dari itu.
Erick selanjutnya butuh alasan yang masuk akal atau memodifikasi ingatan semua orang secara paksa.
"Erick!"
__ADS_1
Yah, calon-calon istrinya langsung memeluk Erick. Karamel terlihat paling malu-malu untuk melakukannya, Fian terlihat jaim, sedangkan Ariel tak peduli sama sekali walaupun dilihat banyak orang.
"Syukurlah, kita baik-baik saja." ucap mereka bertiga memuaskan hasratnya masing-masing.
"Ya, game-nya sedikit terlalu realistis?!"
.
.
.
Protokol yang sedikit merepotkan harus dilalui oleh Erick dan yang lainnya. Mereka perlu pergi ke kantor polisi terdekat guna menjelaskan kronologi kejadiannya secara rinci.
Erick berusaha membuat semuanya terlihat masuk akal meskipun jika ditelaah kurang masuk akal. Jika dirasa perlu, Erick akan memanipulasi para polisi itu. Tapi, beruntung dia tak perlu melakukannya.
Semuanya berjalan dengan lancar. Yah, itu yang dirasa. Setelah itu, urusan pembiayaan atas kerusakan yang terjadi.
"System, hubungi Mita untuk mentransfer sejumlah uang. Mungkin satu juta dolar?"
[Baik, Master. Mungkin memerlukan waktu beberapa menit]
"Yah, selesai." ucap Erick menghela nafas berat.
"Memang bencana!? Jadi, gimana nih? Kita tinggal di mana?" tanya Ariel yang kebingungan. "Lebih baik bangun rumah sendiri walaupun sederhana. Yang jelas tak boleh angker dan berhantu."
Cuma mereka berdua yang pergi ke kantor polisi.
"Sebetulnya Hibiki dan kakaknya menawari untuk tinggal di tempatnya untuk sementara waktu. Tapi ... yah, bukan ide bagus. Kita mungkin harus menyewa apartemen lain sampai apartemen milik Rinka selesai diperbaiki."
"Aku ikut Erick saja."
Erick dan Ariel dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki karena tempatnya yang tak terlalu jauh. Mereka melewati sebuah minimarket. Ariel terbesit suatu ide.
"Erick, Erick. Bagaimana kalau malam ini kita bikin pesta barbeque? Sepertinya menyenangkan. Lagian ini juga bisa untuk menghibur Rinka. Gadis itu pasti masih syok." Ariel memaparkan suatu ide.
"Hmm ... bukan ide yang buruk."
__ADS_1
"Betulkan? Ya udah. Ayo kita beli bahan-bahannya!" ucap Ariel dengan semangat menarik Erick.
"Huh, oke."
Di sisi lainnya, Erick selalu memerhatikan makhluk-makhluk tak kasat mata di sekelilingnya. Dia hanya sedang menyamakan mereka dengan para penunggu di apartemennya Rinka.
"Kenapa makhluk-makhluk di apartemen Rinka sangat kuat? Dari mana sumber kekuatannya? Terlebih si kadal raksasa yang tak ikut pesta. Malah cuma manusia setengah ular dengan si raksasa pembawa gada."
[Itu memang sulit dijelaskan, Master. Namun, mereka kemungkinan mendapat kekuatan dari entitas yang lebih kuat lagi. Mereka cuma bawahan]
"Hmm ... sekarang yang menjadi pertanyaannya, apakah setelah semua itu? Apakah mereka akan pergi dari apartemennya Rinka? Karena mereka tak ada penyewa yang berani tinggal di sana!?"
[Saya pun juga tak tahu]
Erick dan Ariel kembali dengan barang bawaan yang banyak, rata-rata daging, sosis, dan sayuran seperti kentang ataupun wortel.
Karena di dekat apartemen Rinka tak memungkinkan karena pegawai kontruksi sedang di kebut untuk membereskan reruntuhan. Jadi, tempat yang ditentukan adalah kediaman Rinka.
Erick dan yang lainnya tak menyangka bahwa rumah gadis pemalu itu sangat besar walaupun tak terlalu terawat. Seperti kebun kecil yang sudah banyak ditumbuhi rumput liar. Rinka pasti tak punya biaya untuk mengurus kediamannya yang mewah itu.
"Wah, rumah Rinka ternyata besar. Apakah dia dulu anak orang kaya?"
"Ssttt ... nggak sopan!" seru Mina. Dia mengingatkan Mona supaya tak menyinggung hati Rinka. "Untung bahasa Jepang modal nonton animemu itu payah!"
"Ya, ya. Padahal cuma mengagumi." balas Mona tak terima dengan cibiran Mina.
"M-maaf semuanya, tempat ini tak terurus." ucap Rinka menunduk. Hibiki dan Erick langsung menerjemahkan.
Semua orang tak mempermasalahkan tempat, yang terpenting tak ada penunggunya. Mereka sedikit trauma dengan makhluk metafisika itu.
Tugas dibagi menjadi dua. Para pria yang cuma tiga orang bertugas mengurus panggangan dan para wanita yang jumlahnya banyak itu akan menyiapkan bahan-bahan.
Acara bakar-bakar itu berjalan lancar, semua orang menikmatinya. Tujuan untuk sedikit menghibur Rinka sukses. Gadis itu jadi sedikit lebih bahagia dengan banyak teman. Jujur saja, dia tak punya banyak teman. Malah hanya Hibiki dan Tenka. Sifatnya yang pemalu yang membuat Rinka sulit berbaur.
Selain dari semua itu ... masih ada sesuatu yang membuat gadis itu sulit mendapatkan teman.
"Eh? Aku baru menyadari hal ini! Sejak kapan Rinka punya seorang penjaga? Bahkan nampak sangat kuat lagi." batin Erick melihat sosok yang selalu berada di dekat Rinka yang tak bisa dilihat oleh orang-orang.
__ADS_1
[Mungkin karena kejadian penunggu di apartemennya yang mengamuk. Sosok itu menjadi sangat waspada]
"Yah, pasti keluarganya sangat over protective pada anaknya. Karena sosok itu terlalu menjaga Rinka. Hmm ... roh rubah, ya?"