System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 47 : Balas dendam sesungguhnya!


__ADS_3

Interogasinya selesai, Erick memutuskan untuk menjebloskan Ardhi ke penjara atas apa yang telah dilakukannya. Semua bukti sudah cukup untuk proses penangkapannya Ardhi.


Ketika pihak yang berwajib datang ke apartemen, semua orang jadi terkaget. Terlebih para korban yang hartanya tergasak oleh Ardhi. Mereka sungguh tak menyangka, bahkan tak ada yang mengingat dirampok oleh penghuni baru itu. Pelet yang digunakan sungguh ampuh.


"Sudah selesai!?" ucap Erick lega. Usahanya selama seharian tak berujung sia-sia dan membuahkan hasil.


"Tapi, Erick ... bagaimana dengan mayat-mayat yang ada di ruangan itu?" tanya Ariel.


Ruangan misterius yang ada di apartemennya Ardhi ternyata menyimpan mayat keluarganya, diawetkan. Erick dan Ariel mengelabui polisi sehingga tak berhasil ditemukan.


"Kita kuburkan mereka dengan layak." balas Erick.


"Humm ... ya. Tapi, kehidupan Pak Ardhi ternyata cukup keras!?" gumam Ariel.


"Begitulah yang namanya kehidupan."


Setelah urusan dengan polisi selesai perihal kasusnya Ardhi. Erick dan Ariel lantas kembali ke unit apartemennya masing-masing. Hari yang melelahkan bagi mereka. Hari pun telah berganti malam.


Lalu, pulang-pulang Erick disambut oleh keluarganya.


"Erick?" panggil mereka serempak. Kedua adiknya langsung menghampiri.


"Kak Erick tak akan ditangkap, 'kan?" cemas Mona.


"Hah?" Erick dengan bingung menaikkan sebelah alis, dipandanginya Mona dan yang lainnya dengan intens. "Tidak, tidak. Sepertinya kalian yang salah dengar berita!" Dia menggeleng kuat.


"Jadi, bukan kak Erick, 'kan?" sahut Mina memastikan.


"Ya. Tentu saja. Memangnya kejahatan apa yang kulakukan?"


"Syukurlah Erick. Kami pikir kamu yang ditangkap. Huh, tapi sudahlah ... mari masuk! Kamu pasti kelelahan!?" Lilis menghembuskan nafas lega. Dia adalah orang pertama yang akan menumpahkan air mata jika Erick benar-benar ditangkap polisi.


Erick pun masuk ke apartemennya, lantas bergegas berbersih diri. Dia langsung istirahat. Hari yang dilalui cukup menguras mental.


"Kak Erick nggak keluar untuk makan malam?" panggil seseorang, bukan, dua orang. Suaranya tercampur. Pastinya adalah kedua adik kembarnya.


"Iya, makan malam tanpa kakak saja." balas Erick dari dalam kamar.

__ADS_1


"Humm ... perlu kami antar makanannya ke kamar, kak?" Mina-Mona tak menyerah untuk membujuk Erick agar makan. Namun, pria itu sebetulnya sudah kekenyangan menghabiskan kudapan di apartemennya Ardhi.


"Yah, terserah, sih. Tapi, nggak usah. Kakak mau langsung tidur saja. Lagian udah kenyang!" beritahu Erick.


"Ah, oke. Selamat tidur, kak Erick." ucap mereka berdua serempak. Terasa sedikit kecewa.


"Ya. Oh, kalian jangan sampai begadang. Dan jangan ada lagi yang menyelinap ke kamar kakak!"


"Menyelinap ke kamar?" Mina mengernyitkan dahi. "Apa maksudnya, kak——"


"Sudah, Mina. Jangan ganggu kak Erick! Biarkan dia istirahat. Lebih baik bantu ibu!" Mona tiba-tiba menarik tangan Mina menjauh dari kamar kakak laki-lakinya itu.


Mona tak dapat menyembunyikan rasa malunya, Mina lantas curiga.


"Kenapa sih, kau ini? Oh ... jangan-jangan——"


"Bukan seperti yang kau pikirkan! Aku tak pernah menyelinap ke kamar kak Erick waktu tengah——tidak, tidak! Maksudku ...." Mona keceplosan. Mina lantas bersedekap tangan memandanginya adiknya dengan tatapan kesal.


"Kau berhutang penjelasan, adikku!"


Sementara itu, Erick hanya berbalas pesan singkat dengan Ariel. Lalu dengan cepat diakhiri supaya bisa cepat-cepat tidur. Itu niat awalnya, tapi rancangannya terganjal oleh notifikasi dari System.


[Selamat, Master mendapatkan keterampilan black magic (ilmu hitam) dan 50 ribu poin]


[Master ingin mengaktifkan keterampilan black magic?]


"Tunggu, apa kemampuan itu bakal membuat hidupku tak tenang? Maksudku menjadi indigo!? Menyebalkan bukan, saat kau makan terlalu tiba-tiba ada kepala yang menggelinding?"


[Tenang saja Master, segala bentuk komunikasinya akan dijembatani oleh System Anda tinggal memberi perintah]


"Ah, begitukah?"


[Apakah Master ingin mengaktifkannya?]


Erick berpikir untuk beberapa saat, sampai akhirnya memberikan jawaban.


"Untuk sekarang tidak perlu, System."

__ADS_1


[Baik, Master]


"Tapi, System. Tolong hubungi Rita! Ada hal yang perlu dia lakukan."


Panel holografi yang membuat rupa si wanita cantik yang rambutnya disanggul, Rita. Mereka telah melakukan panggilan video.


"Apa yang harus saya lakukan, Master?" ucap Rita sopan.


"Kau pergi ke alamat-alamat ini!" titah Erick. "Aku akan mengirimkannya segera."


"Ya. Saya sudah mengerti. Projek balas dendam Anda. Serahkan pada saya. Hal-hal yang perlu dalam mengirim guna-guna."


"Tepat sekali, Rita. Oh, ya bebaskan saja 3 orang yang kau sekap itu. Biar si Boby mengadu pada komplotannya. Mereka pasti jadi panik!"


.


.


.


Di sebuah bangunan pabrik yang sudah terbengkalai. Di sana gelap, tak ada penerangan sedikitpun, tapi beruntung ada cahaya bulan yang menyorot. Bangunannya juga sudah tertutupi tanaman-tanaman liar yang merambat. Pabrik tua itu bisa roboh kapan saja.


Di dalam pabrik itu, terdapat 3 orang yang terkapar lemas. Satu di antara adalah laki-laki berkepala pelontos dan sisanya adalah perempuan.


Si pria botak yang tak lain adalah Boby terlihat menggerakkan jarinya, tak berselang lama muncul jeritan yang memenuhi tempat yang sudah lama tak dijamah manusia tersebut.


"Fandi! Hah ... hah ... hah!" Boby habis bermimpi buruk. Wajahnya sangat pucat, sorot matanya menunjukkan rasa kengerian.


"Huek ...." Dia pun akhirnya termuntah cairan. Memang cuma itu yang bisa dimuntahkan, perutnya kosong.


"D-dimana ini?" tanya melihat-lihat pabrik terbengkalai itu. Tempatnya gelap, jadi dia tak terlalu ngeh.


"Fandi? D-dia ingin membalas dendam!? A-ku harus memberikan kabar ini pada mereka!" Boby buru-buru merogoh sakunya untuk mencari handphone-nya. Dia beruntung masih ada sisa baterai.


Sementara itu, dari sebalik kegelapan pabrik itu. Seorang wanita nampak mengawasi, itu adalah Rita.


"Master pasti akan membuat hidupmu di dunia ini seperti neraka super lite!"

__ADS_1


"Persiapkan diri kalian! Fandi akan mencari kalian!" teriak Boby ke handphone-nya. Dia membuat panggilan berkelompok.


__ADS_2