System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 52 : Menantang Reka


__ADS_3

"Yah, tunggu sebentar! Aku mau melihat hadiah lainnnya. System tunjukkan salah salah satu!"


[Master mendapatkan pulau pribadi]


"Okay ... sepertinya kebanyakan aset-aset hadiahnya. Nah, sekarang ... upgrade dirimu!"


[Memperbarui versi System ...]


[Waktu yang dibutuhkan 1 Minggu]


[Master seharusnya sudah tahu, apa saja risikonya]


"Ya. Aku sudah mengerti."


[Baiklah. Sampai jumpa Minggu depan, Master]


Tak terasa, Erick telah sampai di kampusnya. Dia hari ini berangkat sendiri. Mina-Mona tak ada jadwal, sedangkan Ariel sedang tak enak badan. Alhasil, dia cuma berangkat bersama Fian yang selaku supir atau pesuruhnya.


"Kita sudah sampai, Erick." beritahu Fian bahwa mereka telah sampai di parkiran kampus.


"Terima kasih." Erick bergegas keluar dari mobil.


Fian cuma mengangguk. Mobil dikemudikan lagi untuk mencari lahan parkir yang kosong.


"Woah ... sekarang tinggal satu misi sulit. Menemukan Anya dan memperbaiki semuanya, memulai dari awal lagi. Selepas itu buat keluarga bahagiaku sendiri." gumam Erick dalam hati.


Memandang langit biru, hari ini sedang cerah-cerahnya. Suasana hatinya pun ikut-ikutan cerah, Erick tersenyum sepanjang waktu.


"Eh? Tunggu ...." Erick teringat sesuatu. Sebuah janji yang dibuat oleh dirinya sendiri. "Si Karamel ... aku pernah berjanji pada diri sendiri untuk membantu masalahnya jika masalahku sudah selesai. Urusanku sudah hampir selesai, sih."


Brukkk ...


Seseorang secara mendadak menabrak Erick dari belakang. Tubuh pria itu tegap, jadi tak terpengaruh. Hanya si penabrak yang terjatuh, buku-buku yang dibawanya berserakan.


"Maaf, maaf. Aku tak sengaja."


"Tak apa-apa. Tapi, lain kali hati-hati ...."


"Kebetulan sekali?!" celetuk Erick dalam hati. Orang yang menabraknya ternyata adalah Karamel.


"Aku juga minta maaf karena berdiri di tengah jalan." Erick bergegas ikut memungut buku-buku itu.


"Nih. Umm ... kau Karamel, 'kan?" ujar Erick menyerahkan beberapa buku kepada wanita berambut cokelat yang seperti karamel. Asal namanya memang dari situ.


"Terima kasih. Umm, ya. Kau sendiri ... Erick, 'kan?" terka wanita itu.


"Senang, kau bisa tau namaku." ucap Erick memancing obrolin menjadi lebih lama.


"Kau terkenal di seantero kampus. Mengenalmu bukan sesuatu yang wah." ucap Karamel menunduk sopan. "Maaf, Erick. Aku buru-buru. Sebetulnya aku sudah terlambat."


"Begitu? Maaf, sudah menghambatmu."

__ADS_1


"Bukan masalah." Karamel menggeleng, terus berlalu melewati erick.


"Hmm ... aku memang harus membantunya. Hidupnya pasti tertekan sekali." gumam erick yang menyempatkan melihat punggung Karamel sampai luput dari bidang pandangnya.


Hari itu merupakan hari yang cukup membosankan bagi Erick. Karena kesepian. Di kampus dia tak memiliki banyak kenalan, malahan tak ada. Jadi, rasanya hambar tak ada teman bicara.


Ada Fian, tapi wanita itu lebih banyak diam. Sedangkan Erick enggan mengawalinya.


Kelas pun diikuti Erick dengan gairah yang rendah. Dia kebanyakan tidur di pojokan ruang.


"Akhirnya selesai." lega Erick.


Kini Erick dan Fian tengah menuju kafetaria guna membeli sesuatu. Karena kurang interaksi, Erick dan Fian hanya diam-diaman, sibuk urusan masing-masing.


Erick sendiri sibuk berbalas pesan dengan Ariel.


Ariel


"Gimana kuliahnya?"


^^^Anda^^^


^^^"Seperti hari-hari biasanya."^^^


"Umm ... Fian, tolong pesankan sesuatu! Aku yang traktir." pinta Erick sibuk dengan handphone-nya.


"Kau ingin apa?"


"Oke. Tunggu sebentar."


Erick lalu menempati meja yang kosong. Dia baru duduk di sana selama ... belum juga 5 menit. Ada seseorang yang menghampiri. Tepatnya beberapa orang.


"Apa aku pernah cari gara-gara dengan mereka? Tidak! Aku hanya punya masalah dengan si Reka." batin Erick yang kelihatan tenang sekali.


^^^Anda^^^


^^^"Sebentar, Ariel. Aku harus mengurus sesuatu!?"^^^


Erick meletakkan handphone-nya di meja, lantas meladeni beberapa pria yang tubuhnya semampai tinggi, dua meter lebih. Erick jelas kalah tinggi.


"Mereka dari klub basket, 'kah?" tebak Erick dalam hati.


"Ada yang bisa aku bantu?" ucap Erick seramah mungkin.


Tapi, balasannya adalah kekerasan. Handphone yang dimeja disambar lalu dibanting dengan kuat. Beruntung handphone yang Erick beli sedikit tahan banting. Setidaknya cuma lecet saja.


Erick menghembuskan nafas terus berdiri. "Apa urusan kalian padaku?" Tak ada lagi keramahan yang ditunjukan Erick.


"Tentu saja memberimu pelajaran!" Jawaban itu bukan berasal dari salah seorang yang mengerubungi Erick.


Yah, si Reka yang muncul bersama Karamel.

__ADS_1


"Sudah kuperingatkan, bukan? Jangan dekati pacarku." Bajin9an itu merangkul Karamel paksa.


Karamel kentara jelas merasa tak nyaman, dia menunduk dalam. Bibirnya tersirat ucapan "maaf", Erick menyadari hal itu.


"Hoh, benarkah dia pacarmu? Bukannya cuma pengakuan sepihak? Apa Karamel pernah secara gamblang mengakui dan menceritakan tentang dirimu, hah?" cemooh Erick. "Dasar tukang halu!"


Tekanan darah Reka naik drastis. Mengakui atau tidak, memang begitu nyatanya. Si anak manja tak bisa mengontrol diri.


Para cecunguk bayarannya yang berjumlah 4 orang langsung diperintahkan untuk menghajar Erick.


Namun, Erick lebih bersiaga. Dia menyambar botol saus dan kecap di meja, seketika disemburkan ke mata orang-orang yang hendak mengeroyoknya.


"Akhhh ... pedas!?"


"Mataku ...."


"Air woi! Ambilkan air!"


Mereka semua mengeluh kepedesan dan perih pada matanya. Erick dengan begitu mudah menjatuhkan mereka dengan menendang perutnya satu per satu. Mereka tak akan membalas, pasti lebih mementingkan mata yang perih.


Laluan untuk menuju ke tempat Reka pun lengang. Pria kecil itu ketakutan. Backingan-nya sangat mudah dikalahkan.


"Dasar tak berguna! Badan saja yang besar, mengatasi satu orang tak sanggup!" maki Reka yang tak digubris. Para pesuruhnya sibuk dengan urusan mata perih.


Sementara itu, Erick semakin dekat. Cuma tinggal beberapa jengkal. Erick bahkan sudah mencengkeram pakaian Reka dan mengangkatnya tinggi.


Erick mengisyaratkan agar Karamel menjauh. Wanita berambut cokelat itu lantas patuh.


"Nah, sekarang bagaimana? Kau masuk rumah sakit dengan luka ringan atau berat ... itu di tanganku, lho. Kau pilih mana?" ancam Erick semakin kuat mencengkram.


Gulp ...


Reka menelan ludah, merasa ngeri terhadap intimidasi yang dilakukan Erick. Wajahnya pun banjir keringat dengan sedikit menggigil. Mungkin jika diteruskan, maka celananya bakal merembeskan sesuatu yang pesing.


"O-orang ini? Dia tak takut sedikit pun padaku? Pada keluarga besar? D-dia harus tau ...!"


"KALIAN SEMUA ... LINDUNGI AKU DAN TANGKAP ORANG INI! AKAN KUBERI 10% SAHAM PERUSAHAAN ORANG TUAKU!" teriak Reka.


"Huh, gawat ... tapi, setidaknya kuhajar dia sebentar. Tanganku sudah gatal."


Buaaghh ...


Pukulan keras diterima Reka tepat di muka, beberapa giginya seketika rontok.


"Karamel, ayo!" Erick merebut Karamel dari sisi Reka. Dia menariknya menjauh dan seketika mengajak berlari.


"Baiklah ... kunaikkan 20%, cepat tangkap dan bawa dia ke hadapanku." jerit Reka sambil menahan perih di mulutnya yang berarah.


Barulah setelah Reka mengatakannya, beberapa orang mulai bergerak. Tapi, terlambat ... Erick dan Karamel sudah jauh.


Fian yang sadar akan tugasnya juga bergegas pergi. Dia yakin Erick sedang menuju ke parkiran.

__ADS_1


"Hiii ... keluarga si Reka. Apa Erick tak takut sedikit pun? Yah, jika Erick tak takut ... kenapa aku juga harus takut? Pria itu selalu bisa diandalkan!" batin Fian.


__ADS_2