
Beberapa hari kemudian setelah Erick menerima permintaan dari penunggu apartemen Rinka. Dia dan keluarganya pun telah pindah ke sana.
Sesuai perjanjian, mereka tak akan menganggu dan membiarkan Erick dan keluarganya tinggal dengan damai.
Setelah mengalami perbaikan dan sedikit renovasi, apartemen milik Rinka sudah bisa dibilang layak dan nyaman untuk dihuni. Terdapat fasilitas-fasilitas baru yang ditambahkan Erick.
"Ya,, begini ... namamu Yusa, 'kan?" Erick berbicara sendiri.
Yah dia akan dianggap gila jika ada orang yang melihatnya begitu. Namun, di rumah tak ada orang sama sekali. Semuanya sibuk pada urusan masing-masing.
Erick lebih memilih bermalas-malasan. Namun, tak sepenuhnya benar. Dia masih memikirkan langkah-langkah ke depannya.
Secarik kertas kosong di meja mendadak muncul tulisan. "Ya."
Erick menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Ini tak efisien. Tapi, kau juga yang tak bisa bicara ... dan harus surat-suratan untuk berbicara. Yusa, apa kau tak punya kemampuan retrokognisi?"
Kertas kembali memunculkan tulisan dalam aksara Jepang. "Tidak."
Erick menghela nafas berat. "Huh, begitu?"
Erick bisa saja sebetulnya menggunakan retrokognisi pada Yusa. Namun, ada syarat yang perlu dipenuhi. Yaitu wujud fisik.
Yusa tak memiliki syarat itu. Bisa diakali dengan benda-benda peninggalan atau sebuah tempat, namun gadis hantu itu juga tak memilikinya.
Erick menatap sosok makhluk metafisika yang duduk berseberangan dengannya di ruang tamu. Yusa berperawakan seperti gadis SMA Jepang pada umumnya. Rambutnya dikucir ke belakang.
"Lagian, pada tahun berapa kau meninggal? Seragam yang kau kenakan masih seragam pelaut? Itu adalah seragam yang digunakan siswi SMA di Jepang."
Di kertas muncul angka-angka. "2003."
"Ugh ... sudah belasan tahun. Tapi, pelaku pembunuhannya belum tertangkap hingga sekarang!?" Erick geleng-geleng kepala. "Untuk menemukan pelakunya pasti sangat sulit."
Yusa pun menjadi lesu setelah mendengar perkataan Erick.
"Memang begitulah .... Yusa dibunuh di tempat ini. Dia digantungkan dari lantai atas dengan tali." ucap sosok lain yang muncul dengan menembus tembok.
Dia adalah seorang wanita yang kira-kira berusia 30-an tahun, dia pun memakai kimono. Di beberapa bagian kulitnya nampak ada sisik ular. Meski begitu, wanita itu masih nampak menawan.
Wanita itu makhluk yang kuat di antara bangsanya. Dan Erick memanggilnya Hebi.
"Benarkah? Jika begitu ... harusnya aku bisa——aku tak bisa melihat masa lalu tempat ini? Kenapa?"
[Itu berarti masih ada kaitannya dengan Anya, Master]
__ADS_1
Segala sesuatu yang berkaitan dengan Anya, Erick tak akan bisa menggunakan kemampuan dari System.
"Anya? Apa maksudnya? Bagaimana mungkin? Apakah Anya memiliki hubungan dengan pelakunya?"
Ting tong ...
Bel pintu berbunyi, artinya ada yang bertamu. Erick menebak tamunya adalah Hibiki ataupun Rinka, mungkin malah keduanya.
"Tapi, ini jam sekolah? Apa anak itu membolos?"
Erick bergegas membuka pintu namun begitu terkejutnya ia .... tak ada orang. Benar-benar kosong, Erick melirik kesana kemari dan tak menemukan tanda-tanda makhluk hidup kecuali sebuah bingkisan berupa kantong plastik.
"Aku tak bisa melihat apa-apa!? Kenapa semakin lama, makin banyak yang bisa meng-counter kekuatanku?" batin Erick kesal karena tak bisa menerawang keberadaan si tamu iseng.
[Master, sepertinya ada hal yang perlu saya beritahu]
"Apa?"
[Saya akan memberitahukannya nanti]
"Ya, terserah kau saja."
Erick masuk ke dalam dan membawa keresek berwarna putih itu. Isinya tak terlalu berat.
"Erick, ada apa?" tanya Hebi.
"Lantas enapa aku bertanya?" balas makhluk setengah ular itu.
"Hmm ... oke."
"Sepertinya yang baru datang bukan sosok sembarangan. Tapi, siapa? Dia seorang manusia, 'kah?"
Erick diam sebentar untuk berpikir, Yusa dan Hebi dengan sabar menunggu. Namun, tapi apa daya. Kesabaran mereka tak membuahkan hasil.
Penyelidikan untuk mencari pembunuh Yusa itu dihentikan. Erick akan memikirkannya sendiri. Lagian, dia masih punya urusan dan masalah penting.
"Kami tinggal dulu, Erick."
Yusa dan Hebi menghilang dari pandangan Erick.
"Kita masih tinggal satu atap dan cuma berbeda dimensi. Hmm, tapi mereka sama sekali berbeda dari yang dulu. Wujud mereka kini terlihat normal, tak ada yang menyeramkan, malah sedap dipandang!?" gumam Erick tersenyum, kembali fokus pada keresek misterius di atas meja.
Kemudian, Erick mulai membuka bingkisan itu. Matanya seketika melebar, dia tak bakal menyangka dengan isi benda di dalamnya.
__ADS_1
Entah suatu kebetulan atau tidak, keresek itu berisi sebilah pisau dapur yang telah berkarat dengan seutas tali tambang.
"Apakah benda-benda ini ... cih, tapi, bagaimana bisa?" ucap Erick berdecih, menggertakan gigi.
Solusi dari kesulitannya muncul, namun bukan yang paling diharapkan olehnya. Dia juga bertanya-tanya.
Kenapa tidak tentang yang berkaitan dengan Anya saja?
"System, apakah menurutmu yang mengirim benda ini adalah seorang manusia?"
[Ada dua kemungkinan, Master. Makhluk lain atau bukan manusia biasa]
"Bahkan aku tak mengetahui apa itu?!" ucap Erick tersenyum pahit.
.
.
.
.
"Silakan saja mencari tahu." ucap seorang wanita.
Wanita itu adalah orang yang menemukan jasad Yusa, ketika gadis itu tergantung yang hanya tersisa belulangnya saja. Kejadian pembunuhan yang terjadi belasan tahun lalu, tapi tak pernah diketahui oleh siapa pun.
Dia berhasil menemukannya, entah bisa disebut keberuntungan atau tidak. Mungkin hanya sebuah ketidaksengajaan.
Kasus pembunuhan yang tak pernah diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh para makhluk yang berbeda dimensi. Mereka tak tahu apa-apa. Seluruh penghuni dan penunggu apartemen Rinka telah dicuci otaknya.
Namun, kecuali wanita itu.
Dan berkat pertemuan dengan jasad itu. Selanjutnya, dia bertemu dengan pelakunya. Lebih tepatnya dia didatangi.
Pelakunya bukan orang biasa. Tak bisa disebut manusia bumi, tapi nampak seperti manusia biasa.
Si pelaku tertarik pada wanita itu karena bisa menemukan jasad orang yang telah dibunuhnya. Yah, walau hanya beruntung.
"Kau tetap tenang dan tetap membuatnya rahasia. Kau tak memiliki emosi atau perasaan?" tanya orang itu.
"Aku sudah membuangnya, begitu juga dengan identitas lamaku."
"Hoh ..." Si pelaku menjadi tertarik. "Aku bisa mengabulkan permintaanmu, anggap saja ini sebagai hadiah atas keberhasilanmu, namamu Anya, 'kan?"
__ADS_1
"Ya, tapi benarkah?"
"Tentu saja, Anya."