System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 96 : Bagian akhir


__ADS_3

"Dari mana datangnya monster-monster ini, sialan? Ini sudah di luar batas! Pihak musuh memiliki kemauan sihir?! Sedangkan aku?" keluh Erick yang kewalahan menghadapi monster-monster bernama Aontler itu.


[Master memiliki saya]


"Yah, ada benarnya."


Berada di dalam kabut adalah kerugian besar, walaupun Erick masih bisa melihat dengan jelas.


Makhluk-makhluk bertanduk yang sepertinya gabungan beberapa hewan itu menyerang membabi buta. Tubuh tegap seperti gorila dan bisa berjalan dua kaki, kulit seperti badak, lalu tanduk yang beraneka macam.


Seperti tanduk kambing yang melingkar, unicorn, gading, ataupun taring. Tumbuh di sembarang tubuh, tak hanya berfokus pada bagian kepala.


Selain itu, tenaga dan kecepatannnya sungguh luar biasa.


Namun, sampai saat ini Erick masih bisa mengatasinya. Lagipula, kekuatan makhluk bertanduk itu tak merata, mereka dibedakan berdasarkan jumlah tanduk. Semakin banyak, maka semakin kuat.


"Jangan menghalangiku!" ucap Erick yang menerobos paksa lautan Aontler yang beraneka ukuran. Ada yang seperti kucing dan seperti kingkong.


Dia senantiasa mengayunkannya katananya untuk membuka jalan, menghabisi monster-monster itu.


Jdarr ...


Sebuah tembakan melesat menarget beberapa Aontler yang memiliki ukuran besar dan tanduk yang banyak.


Jdarr ... jdarr ...


Tembakan itu tepat mengenai kepala para monster, langsung mati di tempat. Erick pun cuma membereskan yang ukurannya kecil.


"Maaf, kami terlambat, Master!?" ucap Rita lewat telepati. Dia berada ratusan meter dari lokasi Erick, di sebuah gedung tinggi. Rita menjadi sniper.


"Huh, tak masalah. Fokus bunuh yang besar! Aku harus tetap maju. Divisi makhluk ghaib pasti sedang mati-matian menembus barrier!" titah Erick. Bergerak maju kembali.


Erick menggenggam erat katananya, bersiap melakukan tebasan besar.


Kabut yang menyelimuti Tokyo pada malam hari itu sangat menggangu. Walau kabut itu tak membawa pengaruh untuk Erick.


"Enyahlah!"


Slash ... Swosshhh ...


Angin kencang timbul dari tebasan harizontal yang Erick lakukan. Menyapu apa saja, terutama kabutnya yang terpinggir.


Pemandangan terlihat jelas. Mayat-mayat monster, bangunan dan sekitarnya yang rusak.

__ADS_1


Rita pun tak kesulitan untuk meng-headshot para makhluk bertanduk itu.


"Bagus, teruskan Rita."


Erick terus maju, namun tak berselang lama, kabut yang telah disingkirkan kembali lagi. Jadi, tadi hanya terbawa angin. Kabut putih tebal itu seolah-olah sudah tertanam di wilayah Tokyo, seolah-olah kota itu sangat cocok untuk berkabut.


Pada kenyataannya, malam itu udara terasa sangat panas dan gerah ketika berada di dalam kabutnya.


Erick menggertakan giginya, dia mengayunkan katananya.


"Jangan main-main!"


Swosshhh ...


"Serap seluruh kabut itu!"


Katana berbilah hitam seperti malam itu agak berpendar dan kemudian menyedot habis kabut seperti vacum cleaner.


Hitungan belasan detik, kabut benar-benar lenyap.


"Biar saya yang mengurus monster-monster itu, Master. Saya tak akan membiarkan mereka mengejar Anda." ucap Lita yang menghubungkan diri lewat telepati.


"Yah, bagus."


.


.


.


.


"Bagian menariknya akan dimulai. Dan, yah ... Putri tidur kita harus segera dibangunkan untuk mencipta kesan dramatis." Satelia menjentikkan jarinya.


Tenka lantas tersadar, wanita itu sedikit linglung dengan keadaan. Dia perlu beberapa saat untuk melihat sekitar dan mengerjapkan mata beberapa kali.


"D-dimana ini ... hei, apa-apaan ini? Kenapa aku bisa terikat?" Tenka panik mengetahui tubuhnya terikat pada sebuah tiang besi. Dan sekelilingnya ada puluhan orang yang menjaganya.


"Bukannya ini seru? Kita akan main putri-putrian seperti di dongeng-dongeng. Kamu adalah seorang Putri yang terjebak di menara dan sedang menunggu kedatangan pangeran yang berjuang sekuat tenaga untuk sampai di menara ini!" ucap Satelia enteng, menengok pada Tenka. Memamerkan mata merahnya yang mengingimadasi.


Benar saja, Tenka merasa sangat tertekan. Alam bawahnya sadar takut pada pria itu bernama Uzen. Orang yang telah membantunya selamat di Jepang. Namun, dia tahu sendiri ... pria itu bukan dirinya lagi.


"S-siapa kau?" Tenka member Sikap diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Yah, orang yang membantumu,"


Tak perlu diragukan, Tenka mengenal pria itu. Tapi, perangainya jelas sangat berbeda.


"Sebaiknya kau fokus pada pangeranmu. Dia rela melewati apapun untuk menyelematkanmu."


"F-fandi?"


"Yap, tepat sekali." Satelia menyeringai dan melihat ke kejauhan, di mana dia merasakan barrier ciptaannya terasa bergetar karena diterobos paksa. Pastinya secara beramai-ramai.


Absolute Barrier bisa dibilang mustahil untuk ditembus.


"Tapi, yah ... dia harus paksa. Jika tidak, ini akan berlangsung samping besok. Itu pasti akan sangat membosankan!"


Beberapa piringan logam mendadak muncul disekitar Satelia. Dia mengarahkannya untuk mengelilingi Tenka, bersiap untuk ditikam dari segala arah.


"Nah, subjek nomor 643 ... kau bisa melihat ini, 'kan? Lagipula penglihatanmu tak diblokir, hehe. Datang sebelum logam-logam itu menusuk Tuan Putrimu." ucap Satelia tersenyum licik dan suaranya sampai ke tempat Erick.


Yah, meski dalam pikirannya dia juga sedikit was-was.


Tentu saja terhadap katana yang mampu menyerap segalanya itu. Tapi, itu adalah bagian menariknya. Dia sengaja agar item tersebut dapat aktif sebagaimana mestinya.


"Yah, harus berhati-hati. Kenapa juga demi kepuasan orang-orang, aku harus report bertaruh dengan nyawa!" batin Satelia.


Di sisi Erick ...


Rasa frustasi akan ketidakberdayaan dalam menghancurkan barrier itu muncul. Apalagi dia melihat Tenka dalam kedamaian bahaya.


Erick harus buru-buru, namun dia kehabisan cara.


[Absolute Barrier mustahil dihancurkan, Master]


"Omong kosong! Jangan mematahkan semangatku! Sebaiknya, kau memikirkan cara untuk membantuku."


Semua yang berada di pihak Erick berusaha mati-matian menghancurkan penghalang tak kasat mata itu. Adapun si rubah dan Hebi harus menghalau para Aontler yang selalu mengepung mereka.


"Hancurlah, sialan! Hancur!" geram Erick mengayunkan katananya sekuat tenaga dengan dialiri oleh energi spiritual yang kuat.


Masih belum cukup, Erick cuma dimentalkan. Barrier itu tak bergeming sedikitpun.


Rasa frustasi pun semakin memuncak ketika dia melihat logam-logam tajam yang merupakan bom waktu bagi Erick. Hanya dalam hitungan menit, logam-logam itu akan segera menusuk Tenka.


"Aku harus menyelamatkannya. Sebelumya aku telah gagal, aku sudah menghancurkan hidupnya. Dan tidak untuk kali ini!"

__ADS_1


Erick bangkit lagi, katana berbilah hitam Itu digenggam kian erat. Dia mencurahkan semua yang dia punya di sana.


__ADS_2