
Erick terbangun di tengah malam setelah mengalami mimpi buruk yang lumayan seram. Wajahnya banjir keringat, nafasnya terengah-engah, adrenalinnya habis dipacu dalam mimpi. Erick memang bermimpi tentang kejar-kejaran.
"Cih, apa-apaan ini? Kenapa aku mendadak bermimpi dikejar setan?" ucap Erick kesal menggertakan giginya. "Awas saja jika perbuatan si dukun sialan itu?!"
Erick lantas merasa gerah dan haus, keberadaan AC di kamarnya tak begitu menolong. Jadi, dia beranjak dari tempat tidur dan hendak pergi ke dapur untuk mengambil air.
Tapi, dia mendengar suara bising dari salah satu kamar. Yah, itu kamar orang tuanya. Ketika melewatinya Erick hanya tersenyum kecut dan menunduk.
"Sepertinya sangat seru. Terlebih suara desahannya. Mereka sedang semangat-semangatnya!?" gumam Erick berusaha pura-pura tak ngeh, dia cukup malu sebetulnya.
Erick mempercepat langkahnya, segera ke dapur untuk menyegarkan kerongkongan yang sudah kering itu.
Lalu, sesuatu yang mengejutkan dijumpai oleh Erick sewaktu dia berniat kembali ke kamarnya. Di depan pintu kamar orang tuanya terdapat gumpalan hitam. Erick langsung bisa menyadari apa itu sebenarnya. Dia perlahan menghampiri.
"Mereka itu ada-ada saja." batin Erick.
Erick menyentuh gumpalan itu.
"Kyaa——"
Erick lantas membekap mulut mereka sebelum menciptakan suasana canggung pagi nanti. Gumpalan itu adalah Mina-Mona yang bergelung dalam selimut. Mereka mengendap-endap.
"Ssttt ... hayo, ngapain kalian?" Erick menarik Mina-Mona menjauh dari pintu. Selimut hitamnya disibak supaya memperlihatkan wujud kedua adiknya.
Mukanya merah padam, tak berani menatap balik Erick.
"K-kak Erick. Hahaha, nggak! Kami cuma kebetulan lewat!" balas Mina berbisik. "Kami nggak berniat ngintip, kok."
"Yap. Jangan diulangi lagi! Ibu dan ayah bisa malu setengah mati jika anak-anak gadisnya yang polos mengintip atau menguping."
"Kami nggak ngintip!" Mina berkilah sekuat tenaga. "Mona bantu jelasin!"
Yah, Mona cuma buang muka dengan menutupi area selangkangannya. Mukanya semerah tomat. Ah, dia sudah basah. Namun, Mina tak menyadarinya sekalipun.
"Kalian benar-benar gadis yang mesum!" goda Erick bergurau.
"Kami bukan gadis mesum!" Mina bersikeras dan tetap kekeh menyangkal dugaan Erick.
"Begitu?" Erick terkekeh. Mina semakin terpojok.
__ADS_1
"A-a-aku mengintip karena ... karena ...." Mina menggigit bagian bawah bibirnya yang gemetar.
"P-penasaran!" ucap Mina agak keras. Mengejutkan semua orang, termasuk dirinya sendiri. Dia langsung menutup mulut, mukanya langsung pucat pasi.
Bising dari kamar Lilis dan Anto menghilang.
Namun, mereka bertiga tak peduli soal itu.
"Oh. Penasaran, ya? Gimana kalau kita mencobanya?" goda Erick yang berbisik tepat di telinga Mina. Gadis itu langsung mengepul, otaknya tak mampu mencerna perkataan barusan.
"K-kak Erick?!" Malah Mona yang bereaksi. Dia menengadah menatap Erick dengan malu-malu. Mona teringat kejadian malam itu dengan kakak tercintanya.
Brakkk ...
Mina menarik tangan Mona dan mengajaknya masuk ke kamar. Bantingan pintu itu agak keras.
"K-k-kami belum siap!" ucap Mina tergagap.
Setelah keributan itu, semuanya menjadi hening kayak kuburan. Tinggal menunggu besok. Semua orang bakal tak berani menatap satu sama lain dalam waktu yang lama. Akan canggung dan malu walau cuma mengobrol.
"Yah, semua ini salahku!?" gumam Erick terkekeh melihat pintu kamar orang tuanya. "Setidaknya mereka dapat bernostalgia ke masa awal-awal pernikahan."
Keesokkan harinya. Persis seperti perkiraan Erick, paginya tak ada yang bertukar sapa. Pada sibuk sendiri. Hanya ada bising dari Lilis yang menyiapkan sarapan.
Mina-Mona tak berani menatap Erick terlalu lama.
Pyarr ....
Saking gugupnya Lilis, beberapa piring melucut dari tangannya. Semua orang melongo, sampai Erick berinisiatif membantu membereskan kekacauan.
"Sini, Bu. Biar Erick saja yang membereskannya!" ucap Erick yang memunguti pecahan piring dan memasukkannya ke kantor plastik.
Berkat tindakan Erick, Anto bisa sedikit berinisiasi.
"Ehem ... ehem ... dengarkan perkataan ayah!" dehem Anto. Semuanya menoleh ke sang kepala keluarga.
Anto masih sedikit gugup untuk bicara.
"S-soal yang semalam," Anto berhenti bicara, dia melirik sang istri. "K-k-kami tau kalian ada di balik pintu. Tapi tenang saja ... kami tak marah. Kalian sudah dewasa. Pastinya sudah mengerti, malah sedikit penasaran. Terlebih Erick, dia pasti sudah melakukan itu dengan pacarnya?!" jelas Anto yang mengutarakan isi kepala yang sempat dipendam.
__ADS_1
Mina-Mona yang paling terkejut. "K-kak Erick?" Mereka berdua jelas kecewa. Sedangkan Erick cuma diam. Kurang lebih memang benar.
"Kalian boleh melakukannya dengan pasangan kalian masing-masing. Tapi, harus didasari suka sama suka, dan memakai pengaman! Kalian itu belum menikah!" nasihat Anto. Lilis mengangguk paham.
Mina-Mona semakin lesu dengan kepala menunduk dalam.
"Umm ... ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui?" ucap Lilis yang gagal menggugah hati kedua anak kembarnya.
"Apa lagi ini?" batin Erick geregetan. Dia merasa bersalah telah membuat kedua adiknya bersedih. "Tapi, kami memang tak bisa berhubungan. Itu sungguh pamali."
"Ada dari salah satu kalian yang bukan anak ibu?"
"HAH?" keget Erick dan Mina-Mona serempak. Mereka saling pandang.
"A-anak pungut?" Entah kenapa sepasang saudari kembar itu kembali bersemangat.
Erick berbeda sendiri. Dia meratapi dirinya.
"Huh, pantas saja. Mana mungkin saudara kandung bisa terangsang oleh saudarinya sendiri. Jika pun ada itu berarti bukan saudara kandung atau punya kelainan." batin Erick.
"Kami bukan bersaudara kandung? Salah satu dari kami anak pungut?"
"Ya, Erick."
"Siapa itu?" tanya Erick agak mendesak.
"Kamu sendiri!"
Bak petir di siang bolong. Fakta yang diterima Erick sungguh mencengangkan.
"Tapi, kamu bukan anak pungut. Kamu cuma bukan anak kandung ibu." sambung Lilis. Erick sudah salah paham duluan.
"Ibu kandungmu sudah meninggal saat kamu berumur 3 tahun. Saat itu ayah menikah lagi!" timpal Anto memberitahu supaya tak ada pertanyaan lain yang terlontar. "Ibu kalian, ayah nikahi ketika Mina-Mona baru berumur satu tahun!"
"Beneran, Bu. Kak Erick bukan kakak kandung kami!" Mona bertanya girang. Masa-masa kelabu gadis itu sirna setelah mengetahui fakta Erick bukan kakak kandungnya.
"Kenapa harus dirahasiakan jika ibu kandung Erick sudah meninggal?" tanya Erick agak emosional.
"Ayah tak menyarankan kamu untuk mendengar kisah ibumu, Erick!"
__ADS_1
"Dan kalian ... Mina-Mona. Jangan senang dulu! Pernikahan antar saudara, tak peduli kandung atau bukan, tak diizinkan di negara ini!" Lilis mendelik pada kedua anak kandung kembarnya.