
Erick memberitahu pada semua penunggu bahwa mereka kemungkinan sudah ada yang mengotak-atik kenyataan. Kejadian yang harusnya mencolok malah tak pernah diketahui oleh siapa pun.
"Apakah benar begitu, Erick?" tanya Hebi.
"Yah, mungkin saja! Itu paling masuk akal! Tapi, tenang saja. Aku akan menyelidiki hal ini, karena ini juga berkaitan dengan diriku."
"Dirimu?"
"Pokoknya begitulah. Tapi, Hebi ... apakah hanya kau di sini yang ... paling kuat? Dulu ... aku sempat melihat kadal raksasa——"
"Makhluk-makhluk itu cuma singgah saja."
Erick bangkit dari ruang tamu dan menuju kamarnya untuk mengambil jaket. Dia hendak pergi keluar untuk menemui Rinka.
Yusa yang juga hadir di sana pun cuma diam tak memberikan tanggapan.
Karena ini adalah jam sekolah. Erick terpaksa pergi ke SMA-nya.
"Aku pergi. Tolong, jaga tempat ini!" pesan Erick sebelum pergi.
"Ya, ini juga rumahku. Tentu saja akan dijaga."
Erick memilih berjalan kaki, yah naik kendaraan umum terlalu lelet. Dengan kecepatan yang sekarang, menunju ke SMA-nya Rinka dan Hibiki hanya membutuhkan waktu lima menit kurang. Memotong jalan dan melewati jalur atas, yaitu atap-atap bangunan.
Sedikit perjuangan yang membuat nafasnya memburu, Erick sudah sampai di halaman belakang sekolah.
Dia melihat ada dua orang siswa lawan jenis di sana.
"Kudoakan kau diterima, Nak!" gumam Erick.
Pria itu kini punya dua pilihan.
Menemui Rinka secara formal atau secara ilegal? Artinya langsung menyelinap ke dalam sekolah.
[Rinka ada di koridor lantai 3, Master]
"Ya. Aku sudah tau. Nah, bagaimana ... mungkin lewat gerbang depan saja."
Erick memutuskan untuk menemui Rinka secara formal. Dia melewati gerbang sekolah dan langsung menjadi pusat perhatian di antara siswa yang sedang jam pelajaran olahraga di halaman depan.
"Hei, lihat-lihat ... siapa dia? Bukannya ganteng banget?!"
"Wah ... guru baru, 'kah?"
"Harus semangat sekolah, nih."
Para siswi heboh sendiri. Namun, di antara siswa itu ada yang mengenali Erick. Yah, itu adalah Hibiki. Dia bergegas menghampirinya Erick. Bodyguard-nya pun otomatis mengekor, tentu Lita.
"Erick-san, kenapa di sini? Ada urusan, 'kah?" sapa Hibiki yang langsung bertanya.
"Selamat pagi, Master." ucap Lita menunduk hormat pada Erick.
__ADS_1
"Ya, semuanya masih dalam kendali, 'kan?" balas Erick tersenyum.
"Umm, yah. Tapi, saya sungguh menyesal belum bisa menyelesaikan misinya."
"Sudah, tak apa-apa. Lagian tak ada batas waktu. Maaf, ya ... kalian aku tinggal." Datang seorang pegawai sekolah yang mengantar Erick masuk ke bangunan sekolah.
"Hei, Hibiki. Kau mengenalnya?" tanya seorang siswa yang menghampirinya, kian lama bertambah banyak. Mereka penasaran dengan Erick.
"Kurang lebih begitu."
Permasalah Hibiki di sekolah sebetulnya sudah diselesaikan oleh Lita, namun khusus untuk permasalahan di rumah. Gadis ciptaan System itu tak dapat berkutik.
Misi yang harusnya mudah, malah berjalan terlalu lama. Meski begitu, ada alasannya kenapa Lita kesulitan untuk menyelamatkan misi membantu permasalahan keluarga Uzen.
Ada seseorang yang tak membiarkan misi itu bisa diselesaikan.
Sementara itu ....
Erick sudah berada di ruang guru dan hanya menunggu Rinka dipanggil ke sana untuk menemuinya.
Erick mengaku sebagai kerabat jauh dari Rinka.
Setelah menunggu beberapa saat, Rinka datang. Seperti biasa, gadis itu dengan malu-malu menatap Erick dan duduk dengan segan di seberangnya.
"E-erick ... san? Ada keperluan dengan saya?" tanya Rinka sedikit takut. Wajar saja, Erick menatapnya sangat serius.
Erick menghela nafas dan berkata. "Ya, hanya sedikit."
"A-apa itu?"
Gadis itu lantas merasa tak nyaman. Erick sedari tadi diam dan hanya menatap dirinya tanpa berkedip. Rinka mulai berpikiran aneh-aneh.
Apalagi mereka hanya berdua di ruangan yang telah disediakan oleh para guru.
"Erick-san ...."
Jdarr ...
Bolam lampu di ruangan itu mendadak meledak dan menimbulkan letupan kecil. Namun masalahnya adalah serpihannya. Erick dengan sigap melindungi Rinka.
"Apakah ada yang tergores?" tanya Erick memastikan. Dirinya sendiri tergores oleh pecahan lampu yang melukai dahi.
"M-maaf, ini karena saya.!" ucap Rinka menyesal, terus mengambil sapu tangan dari sakunya. "S-silahkan."
Erick mengelap darah yang membasahi pelipisnya. "Terima kasih."
[Makhluk tersebut telah menunjukkan reaksinya, Master]
"Ya, aku tau."
Buaaghh ...
__ADS_1
Erick dihantam oleh sesuatu yang tak kasat mata, reflek cepatnya tak bekerja. Alhasil, dia terhantam telak di perut dan membuatnya terhempas mengenai tembok.
"Erick-san!" teriak Rinka sedikit histeris melihat Erick yang mendadak terhempas.
"Bukan apa-apa. Tak perlu cemas. Hewan peliharaanmu saja yang sedikit agresif." Erick menyeringai.
"Huh?"
Deg ...
Rinka menutup matanya, kedipan selanjutnya iris mata berubah menjadi emas dan menyerupai mata rubah.
"Jangan berani-beraninya melakukan sesuatu terhadap gadis ini, manusia! Kau cari mati jika berharap ingin menyentuhnya!" ucapnya yang suara Rinka dan suara berat agak serak bercampur.
Rinka menjulurkan tangan kanannya ke arah Erick. Secara ajaib tubuh pria itu terangkat.
"Wah, ini sih keren. Roh rubah ekor sembilan itu ternyata memang kuat." batin Erick yang malah senang.
Rinka menyibak tangan kanannya ke samping. Tubuh Erick pun mengikuti gerakan tangan gadis itu dan dia berakhir menghantam sebuah lemari.
Brakk ...
Lagi-lagi Erick dihempaskan dengan sangat keras.
"Ugh ... hati-hati, jangan terlalu berisik! Orang-orang pada kemari nanti." ucap Erick.
"Mereka tak akan datang ke sini."
"Huh ... bikin iri saja, overpower itu menyenangkan, ya?" ucap Erick bergurau. Dia terlebih dulu meregangkan persendiannya yang kaku.
"Kau sepertinya salah paham?! Aku tak akan menyakiti gadismu. Tadi hanya untuk memancing dirimu untuk keluar."
Rinka menaikan sebelah alisnya, mata emasnya terus menatap Erick.
"Lalu, sekarang apa? Bagaimana membuat rubah itu untuk menurut? Aku butuh Informasi darinya. Dia pasti tak akan mau membeberkan meski mengetahuinya." batin Erick.
Rinka mendadak tersenyum. "Heh ... apakah kau butuh suatu Informasi dariku?" Dia menyibak poni rambutnya ke atas.
"Huh, aku sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Aku sudah melihat bermacam-macam orang. Baik-jahat, kuat-lemah, aneh-unik. Dan sudah tak diragukan lagi soal kekuatan, pengetahuan, dan pengalamanku."
"Yah, akan panjang jika bercerita terus. Harus segera dihentikan!"
"Ingin tahu sejarah tempat ini? Tentang gadisku atau keluarga Uzen ... ugh, mereka bukan sebuah keluarga ...."
"Eits, tunggu sebentar! Apa maksudmu bukan sebuah keluarga? Bukan keluarga kandung?"
"Pada kenyataannya, Hibiki dulunya adalah seorang bocah gelandangan ... sedangkan si Tenka ... dia yang mengadopsi Hibiki dan menyematkan Uzen sebagai marga. Wanita itu ... dia muncul tiba-tiba setengah tahun yang lalu. Tak jelas asal-usulnya."
"Kenapa wanita itu? Bisa ceritakan lebih detail?!" tanya Erick mendesak.
Namun, Rinka tiba-tiba terkulai lemas memegangi kepalanya. Erick dengan sigap menahan tubuhnya.
__ADS_1
"Ugh ... k-epalaku sakit!" ucap Rinka yang membuka matanya. Sudah kembali normal.
"Tenka? Tenka? Apakah mungkin? Akh, belum ... aku harus memastikannya."