System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 60 : Bersiap melakukan penyerangan


__ADS_3

Setelah kejadian tak terduga itu, di ruang tamu yang merupakan tempat berkumpul, menjadi sangat senyap. Sungguh tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Misal menanggapi keadaan sebelumnya. Yang ada cuma suara Erick menggertakan gigi.


"Bagaimana caranya aku mengatasi hal ini? Yang tadi serius? Bukan sebatas gertakan? Omong doang?" Kepala Erick rasanya mau pecah.


Mosquito milik Erick semuanya hancur. Kini tak ada lagi alat untuk mencintai. Jelas bukan perbuatan orang biasa, robot sekecil itu bisa diketahui keberadaannya dan menghancurkan sekali bidik. Tak ayal bahwa Erick berpikir satu nama ... Heaven Mafia.


"Erick?!" panggil Ariel dengan suara yang bergetar. Dia begitu ragu untuk berucap.


"Huh, kamu tenang saja ... aku akan membereskan hal ini!" jawab Erick melenguh. Berdiri dan hendak menunju ke kamarnya sendiri.


"B-bukan itu ... maksudku, kamu tak perlu sampai pergi untuk menyelamatkan——"


"Aku akan membereskan hal ini, Ariel. Ini adalah tanggung jawabku!" tegas Erick.


"Tapi, sepertinya itu cuma gertakan, Erick. Pasti mereka berdua baik-baik saja!?" Ariel mencoba tersenyum, walau begitu dipaksakan.


"Coba kamu hubungi mereka?! Apa bisa? Sejak kemarin kamu tak bisa melakukan kontak dengan orang tuamu, 'kan?"


Ariel terbungkam, semua yang dikatakan Erick benar. Wanita menunduk dalam, cairan bening keluar dari matanya. Sejumlah orang seperti Fian, Lilis, Karamel, dan Mala menghampiri untuk menenangkannya. Mina-Mona pun ikut juga, meski mereka selalu berseteru dengan Ariel.


"Maaf, semuanya. Ini bukan tanggung jawabnya, Erick! Kami berdua yang perlu disalahkan! Reka pada awalnya memang cuma mengincar kami. Biarkan kami menyerahkan diri!" usul Karamel.


"Sudah percuma! Meski Bu Mala dan Karamel menyerahkan diri ... tak berpengaruh apapun. Reka kini mengincarku. Dia cuma ingin kehidupanku hancur, itu saja!"


"Jika kamu tau begitu ... kenapa kamu mau pergi?" rintih Ariel seraya berlinang air mata. "Katamu ... kita bisa menyelesaikan semua masalah ini setelah waktu seminggu. Masih ada 4 hari, mereka pasti masih bertahan!"


"Apakah ada jaminan untuk itu?" ucap Erick serius. Menghampiri Ariel, semua orang langsung menepi. Dia memegang kedua bahu pacarnya itu kuat, menatap tajam.


"Apakah kamu nanti tak menyesal? Mudah untuk terus mendekam di sini, lalu bergerak setelah seminggu. Tapi, jika semuanya terlambat ..." Erick menarik Ariel dalam pelukannya. Tangis wanita itu semakin pecah, dia membalas pelukan Erick dengan sangat kuat.


"Aku tak bisa membangkitkan orang mati, Ariel! Aku sangat senang kamu mengkhawatirkanku sebegitunya, tapi mereka adalah orang tuamu. Aku tak ingin kamu menomorduakan mereka. Kamu ingin jadi anak durhaka?"


"B-bukan begitu ... b-bukan begitu ... Erick——"

__ADS_1


Bugh ...


Erick melakukan pukulan pelan pada salah satu titik syaraf di bagian belakang leher, langsung membuat Ariel kehilangan kesadaran.


"Aku harus pergi. Ini adalah kesalahanku, kecerobohanku. Harusnya aku ikut mengungsikan keluarganya juga ke sini. Aku harus bertanggungjawab!"


"Yah, ini adalah perkembangan yang bagus untuk dirimu, Erick. Bahwa semuanya harus dipikirkan matang-matang. Jangan suka menganggap remeh." pesan Lilis dan Anto.


Erick mengangguk. "Aku tau itu! Tak akan kuulangi lagi!"


Erick kemudian masuk ke kamarnya, bergegas membereskan beberapa barang yang perlu dibawa. Seperti jaket, sepatu, dan beberapa barang lainnya. Erick masih memiliki sisa uang, itu lumayan banyak. Jadi, dia bisa membeli perlengkapan lain di toko.


Terlebih, Erick menunggu waktu tengah malam. Di saat itu, semua orang sudah terlelap. Jadi, dia bisa menyelinap keluar tanpa ketahuan.


"Aku pamit. Tetap kunci tempat ini, jangan pernah dibuka."


"Jika aku belum kembali dalam waktu 3 hari. Jangan cari aku! Rita ... tolong jaga mereka dengan segenap dirimu! Lindungi dengan cara apapun!" pesan Erick. Bawahannya itu mengangguk pasti. Semua perintah dari Erick adalah mutlak. Jadi, Rita akan mengerjakan tugasnya dengan segenap kesadaran yang dimilikinya.


"Kak Erick harus kembali. Kakak harus berjanji!" ucap Mina dan Mona yang mencegah Erick untuk membuka pintu. Dia menoleh.


"Ya. Aku akan kembali. Lalu, setelah ini ... aku berencana untuk pergi ke luar negeri. Melanjutkan hidup di sana!"


"Baiklah, Jepang." Mona bersorak.


"Jangan seenaknya memutuskan! Kak Erick yang berhak memilih negara mana. Tapi, aku sih ke Amerika saja!" Mina tersirat mengatakan maksudnya. Tak ada bedanya dengan kembarannya.


"Huh ... ternyata Mina sama saja. Tenang saja, nanti kita akan merapatkan hal ini. Setelah masalah ini selesai. Hahaha ... itu pun jika kakak kembali!" Erick mengacak-acak rambut adik kembarnya.


"Kak Erick pasti kembali!" ucap Mina-Mona tanpa keraguan. "Lagipula ... kami akan menjaga kak Ariel!?"


Erick tergugah hatinya. "Apa kalian sudah menerima Ariel?" tanya Erick. Kedua adiknya itu dengan malu-malu mengangguk.


Erick kemudian menoleh ke arah semua orang.

__ADS_1


"Ya. Kami akan selalu mendoakan untuk keselamatanmu."


Erick tersenyum sebagai perpisahan. Dia membuka pintu dan akan bersiap untuk berperang secara solo.


.


.


.


Erick belum lama ini meninggalkan apartemennya. Dia kini sedang berjalan-jalan di kota, menyaksikan ingar-bingar kota pada tengah malam. Yah, cukup sepi, walau ada area-area yang masih ramai.


Erick berencana untuk membeli perlengkapan lainnya. Namun, susah menemukan toko yang masih buka jam segitu. Dia kekurangan pilihan. Jadi, pilihan terkahirnya adalah pergi ke pasar gelap.


Yah, itu ada di bagian bawah tanah kota. Pembangunan stasiun kereta api bawah tanah yang mangkrak tak kunjung selesai, akibat pemimpin yang korup.


Lambat laun, proyeknya dilupakan dan berujung dihentikan sebab diperkirakan berbahaya karena kontur tanahnya. Yah, cuman akal-akalan orang berdasi untuk meninggalkan proyek yang tak memberi untung lagi. Stasiun belum jadi itu ditimbun.


Akan tetapi, Erick mengetahui jalan untuk ke sana. Hanya perlu pergi ke stasiun bawah tanah lainnya. Di sana akan ada jalur rahasia.


Erick mengetahui ini saat mengakses fitur Map-GPS milik System. Semua area tersembunyi di kota jadi kelihatan.


"Hum ... apakah uangku cukup? Di black market semacam itu ... harganya pasti nggak ngotak!" gumam Erick menyusuri terowongan yang gelap.


Dia akan menuju ke pasar gelap. Tempat dunia bawah hidup. Penjualan organ manusia, senjata-senjata api ilegal, dan lain-lain. Erick mengincar senjata yang dijual. Berharap bisa mendapat barang yang bagus.


"Huh ... tak perlu buru-buru. Orang tuanya Ariel belum disentuh. Besok paginya pasti pesan ancaman akan terkirim. Malam ini kugunakan saja untuk mempersiapkan semuanya."


Lalu, kejutan yang tak disangka Erick muncul. Panel holografi yang biasanya System munculkan, kini mengambang di hadapan Erick.


[Tiga hadiah dari misi utama belum dibuka]


[Anda ingin membukanya sekarang?]

__ADS_1


Tiga hadiah itu pasti sangat membantu.


__ADS_2