System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 26 : Mina-Mona dalam bahaya


__ADS_3

Mina dan Mona berjalan di koridor, mencari ruangan yang bakal menjadi kelas mereka untuk jadwal hari itu. Sepasang saudari itu gugup, tidak, yang menampilkan kegugupannya cuma Mona. Sang kakak bisa menahan rasa gugup itu.


"Mina, kenapa semua orang melihat ke arah kita?" tanya Mona yang gelisah, pupilnya celingukan kesana-kemari. Dia sungguh tak nyaman dengan tatapan semua orang.


"Mungkin kagum dengan kecantikanmu. Sudah, abaikan saja." timpal Mina agak ketus.


"Aku nggak se-narsis itu, sih?!" Mona tak ingin menelan mentah-mentah perkataan kakaknya itu. Tapi, apabila seseorang diperhatikan berlebihan cuma ada beberapa kemungkinan. Ada yang salah dengan penampilan (aneh), penasaran, serta kagum atau terpesona.


Untuk kasus Mina-Mona. Mereka diperhatikan olah para mahasiswi dan mahasiswi karena merasa penasaran. Mereka itu kembar identik, yang menjadi pembeda cuma gaya rambut.


Setelah beberapa saat terus berkeliaran, sepasang kembaran itu tak kunjung menemukan ruangan yang dimaksud. Mona yang gampang panik, tak bisa menahan diri untuk mendesak Mina.


"Hei, Mina. Gimana, nih? Kita salah gedung? Apa kita salah jadwal, tak ada kelas untuk kita hari ini?" tanya Mona nyerocos tiada henti. Mina sontak dibuat kesal.


"Berisik! Diam sebentar. Aku lagi ngecek jadwalnya."


Mona seketika terkesiap, terbungkam. Dia menunjuk bangku di pinggir koridor, meminta Mina untuk duduk. Kaki mereka bisa kebas jika kelamaan berdiri.


"Jadi, gimana? Membuahkan hasil? Apa perlu bertanya pada——"


"Kau berani?" potong Mina menatap adiknya itu. Mona seketika memalingkan muka.


"Nggak, sih." sahut Mona tersenyum canggung, menggaruk pipi.


"Rasa malumu terhadap orang-orang harus dihilangkan. Kita tak mungkin bisa terus bersama dengan kak Erick." Mina bergumam, fokus melihat layar handphone.


Sepasang saudari itu akan jadi lebih baik jika ada keberadaan dari saudara tua mereka, Erick. Mereka memang lebih tenang jika ada Erick di sisinya.


"Hei, kalian tampak kebingungan? Ada yang bisa kubantu?" Seseorang datang menghampiri Mina dan Mona, terus serta merta bertanya.


Mina agak terkejut, dia memerhatikan sebentar laki-laki yang mengenakan topi merah di hadapannya.


"Kata kak Erick. Jangan mudah percaya pada orang asing, selalu waspada." batin Mina.


"Tidak, kami cuma duduk-duduk santai di sini——"

__ADS_1


"Eh? Kalian kembar?" kejut laki-laki itu. "Aku hampir tak menyadarinya jika tak memerhatikan serius muka kali——"


Mina reflek beranjak berdiri dengan menarik Mona sekalian. Dia menjaga jarak dari laki-laki bertopi itu. Dikarenakan belum apa-apa, dia ingin menyentuh rambut kepangnya Mina.


"Dia punya niat buruk pada kami!" batin Mona melirik ke langit-langit, tak ada CCTV. Dia pun menjadi agak panik. Terlebih koridor itu kita kini lengang. Tambah panik, Mina. Apalagi Mona yang sudah menarik-narik tangan saudarinya untuk kabur.


"Mina, aku merasa aneh. Sebaiknya kita pergi dari sini!" bisik Mona super pelan.


"Haha ... maaf. Udah kebiasaan, jika penasaran, bawaannya pingin pegang."


"Ah, iya." balas Mina tersenyum getir. Dia selangkah demi selangkah berusaha memundurkan diri. "Tapi, maaf. Kami ada kelas sekarang. Tak bisa berlama-lama."


"Kalian mahasiswa baru, 'kan? Perlu kutemani berkeliling?" Laki-laki itu memajukan langkahnya.


"Tak perlu. Kami sudah paham——" Mina tak menyelesaikan ucapannya. Dia bergegas berbalik dan mengajak lari Mona. Laki-laki itu berupaya menangkap Mina dan Mona.


Naas, Mina mendadak tersingsal oleh kakinya sendiri. Alhasil terjatuh, Mona berusaha segera membuat kakaknya berdiri dengan segera. Tapi, tangannya telah ditangkap oleh laki-laki bertopi itu.


"Lepas! Atau aku akan teriak!" ancam Mona yang masih belum menyerah melepaskan tangannya.


"Haha ... silahkan teriak! Area ini tak ada orang sama sekali. Kalian apes sekali! Seluruh lantai tiga akan direnovasi. Tentunya tak akan ada orang di sini." laki-laki itu tertawa menjijikkan.


Buaagh ...


Mina asal menendang ************ laki-laki itu, membuatnya jatuh terlutut, memegangi area vitalnya. Mina tak ragu untuk menghancurkan alat menyembur sel telurnya. Memang lebih baik tak ada pada laki-laki hidung belang itu.


"Ayo, Mona!" seru Mina yang berjalannya sedikit tertatih. Kakinya keseleo, tertekuk saat jatuh tadi.


"Tapi, Mina. Kakimu baik-baik saja?"


"Ah, nggak usah banyak tanya. Cepat kita pergi ke tempat yang ramai!" balas Mina kesal.


Mona merangkulkan tangannya Mina, serta memapah untuk membantunya berjalan. Karena kondisi, mereka bergerak cepat, tak menghiraukan rasa nyeri di kakinya.


"Jangan lari! Ayo sini. Kita mainkan sedikit permainan!" seru si laki-laki yang terdengar bergema sepanjang koridor.

__ADS_1


"Kenapa kita bisa tersesat ke tempat semacam ini?" panik Mina dalam hati.


Sedang di sisi lainnya ....


Erick menyaksikan keadaan adik-adiknya secara langsung mengunakan mosquito. Dia pun sudah tahu bahwa Mina dan Mona dikejar-kejar oleh pria hidung belang. Tapi, kenapa Erick membiarkannya?


"System. Kenapa aku tak boleh menyelamatkan mereka? Mereka dikejar-kejar!" bingung Erick. Dia tak bisa tenang melihat adik-adiknya dalam bahaya.


[Sabar, Master]


[Lihatlah ini]


Panel holografi lain muncul di samping panel yang digunakan sebagai monitor. Itu adalah peta. Dua titik, merah dan biru bergerak menjauhi titik berwarna ungu yang terus membuntuti.


Erick mengerutkan kening. "Apa maksudnya ini?" Dia menunjuk sebuah titik berwarna abu-abu.


[Itu adalah Boby, Master. Secara kebetulan, Mina dan Mona berlari ke arah Boby]


[Kita bisa melihat perkembangannya dari sini]


"Cih, aku mengerti. Kau ingin membantuku menyelidiki kandidat pemfitnah. Eh? Kau juga belum memerintahkan Rita untuk menjaga Mina dan Mona?"


[Benar, Master]


"Akhhh ... aku tak peduli. Tapi, sampai Mina dan Mona terluka. Kau harus memberikan kompensasi yang sangat besar, System!"


Kembali ke kondisi Mina dan Mona ...


"Eh? Mina, lihat ada orang! Kita bisa meminta pertolongan." girang Mona menunjuk seorang pria berkepala pelontos, tengah membaca buku di kursi. Yah, dia adalah Boby. Orang yang dicurigai Erick.


"Tolong——kyaaa!"


Brukkk ...


Kabar buruk bagi sepasang kembaran itu. Boby mengenakan sebuah earphone pada telinganya. Otomatis, teriakan dari Mona tak mampu didengar.

__ADS_1


"Jadi, gadis baik dan ikut aku. Kita bisa bersenang-senang, hehe."


"K-kak Erick, t-tolong!"


__ADS_2