System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 29 : Ariel


__ADS_3

Erick dan Ariel berada di taman main anak-anak yang masih terdapat di area komplek apartemen. Mereka berdua duduk di ayunan berteman dengan cahaya lampu taman yang benderang sekaligus angin malam hari. Berdua di sana. Mereka tak sengaja bertemu ketika Erick tengah pergi ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan. Ariel juga di sana, jadi sekalian, sebelum kembali ke apartemen mereka mampir. Ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Yah, walau tak penting.


"Ada insiden di kampus? Ada seseorang yang berniat memerkosa Mina dan Mona?" Ariel berhenti mengayunkan agunannya. Ditatapnya Erick tajam.


"Gimana keadaan adik-adikmu?" tanya Ariel yang sangat cemas. Beberapa teori liar seketika bermunculan memenuhi kepalanya.


"Tak perlu kuatir. Mereka belum sempat diapa-apain. Huh, itu adalah salahku. Sedikit lalai!" balas Erick menghembuskan nafas berat.


Ariel melepaskan ketegangannya, mengelus dada, serta mengosongkan paru-paru. Padahal Ariel telah bersiap mengucurkan air mata jika kemungkinan terburuk nyata terjadi.


"Humm ... kalau gitu. Syukurlah. Tapi, setelah itu gimana? Pelakunya?"


"Yang pastinya ditangkap. Otomatis di DO dari kampus." jawab Erick datar. Dia celingukan kesana-kemari, memastikan kehadiran makhluk lain.


"Hmm ... jam berapa sekarang?" gumam Erick membuka handphone untuk mengecek jam. "Jam 10. Pantas saja bertambah dingin!?"


Erick berdiri, menenteng bingkisan yang sebelumnya dia letakkan di bawah ayunan. Dia pun dengan segera mendapat respon kaget dari Ariel yang mulai menendang agar mengayun kembali.


"Mau balik?" tanya Ariel menikmati semilir angin ketika ayunan bergerak agak cepat.


"Tentu saja. Aku tak ingin membeku di sini. Lagian, kau tak mau kembali? Kau tak kedinginan?"


Erick mendadak menangkap tali baja pada ayunan, lantas berhenti. Dia kemudian memerhatikan Ariel dari bawah ke atas. Gelagat Ariel pun berubah gusar——malu-malu.


Ariel cuma mengenakkan celana pendek di atas paha dan sebuah hoodie.


"Dingin? Umm ... a-aku biasa aja!" ujar Ariel bingung menelisik tubuhnya. "Aku udah terbiasa, sih. Eh? Apa bagimu segini saja sudah dingin?" Ariel terkaget menutupi mulutnya dengan tangan.


Erick pun sedikit tersinggung. "Hmph ... aku memang tak tahan dingin. Aku tak suka berlama-lama di ruangan ber-AC." Erick agak mengalihkan mukanya. Dia sejujurnya agak malu untuk mengakui.


"Benarkah? Laki-laki kuat dan keren seperti dirimu tak tahan dingin. Itu aneh, Erick! Apa itu bawaan dari kecil?" tanya Ariel yang tak bisa berhenti tertawa.


"Kuat dan keren, ya? Kau menganggapku seperti itu?"


"Eh?" Ariel melongo, dia sedang mengoreksi kalimat yang baru diucapkannya.


"A-ahaha ... t-tentu saja. Siapa juga yang bilang kau itu jelek atau cupu? Pasti semua orang——"


"Mina selalu bilang bahwa tampangku biasa saja." Erick tersenyum licik yang menyiratkan penuh kemenangan.


Ariel kelabakan, jantungnya mendadak berdebar kencang, adapun wajahnya yang memanas ketika menatap Erick. Alhasil, dia merubah arah pandangnya.


"Aku tak bisa menahan diri ... aku tak bisa menahan diri!" batin Ariel yang mampu diketahui oleh Erick.


Senyuman licik yang Erick torehkan semakin mengembang. Terlintas suatu ide yang menarik.


[Misi dikonfirmasi]


[Lakukan sebuah permainan yang berharga]


[Tingkat kesulitan : —]


[Hadiah : Uang 10 miliar]


[Batas waktu : 4 jam]


[Pinalti : —]

__ADS_1


"What?!" Erick hampir reflek berteriak, tapi beruntung sukses diredam. "Apa maksudnya misi itu? 10 m, tak ada pinalti?"


[Inilah yang dinamakan misi bonus]


"Kenapa semua misi tak begini saja? Bebas dari pinalti."


[Harusnya Master sudah mengerti]


"Yah, aku tak bodoh, sih. Huh, apakah ini saatnya?"


[Tentu saja, Master]


[Master harusnya orang yang peka, bukan?]


"Baiklah, baiklah. Ayo!" Erick menyemangati dirinya.


"Ariel, kau masih punya hutang denganku, 'kan?" Erick mendadak mengoperkan topik pembicaraan yang banting setir.


"Hutang?" gumam Ariel, membedah memorinya. Mencari maksud dari kata "Hutang".


"Kau mau melakukannya denganku?" Erick memberikan petunjuk. Ariel langsung mengerti.


"T-ta-tapi ...——"


"Kau tak mau?" potong Erick. Asal menyambar kedua tangan Ariel, mengelus-elusnya.


Semilir angin serasa berhenti, Ariel tak menyangka Erick akan begitu. Ditatapnya Erick lamat-lamat, menyadari kesungguhan yang timbul pada matanya.


"Kau tau Ariel ...." Erick menggerakkan sebelah tangannya menuju bagian belakang kepala Ariel. "Kau itu lebih cantik jika rambutmu dibiarkan terurai." Erick melepaskan kuciran pada rambut Ariel yang hitamnya seperti langit berbintang——berkilau.


"Kau juga harum!?" Erick lebih mendekat, mencondongkan kepalanya ke tengkuk mulus Ariel. Lalu, mengendus.


"A~ah, okay. Kau terlalu menyanjung. Tapi, sepertinya kita tak bisa——"


"Kau tak mau——"


"Jangan memotong perkataanku!"


Cup ...


Ariel asal sosor, menyatukan bibirnya dengan milik Erick.


"Huh, baiklah. Ciuman pertamaku sudah hilang." keluh Erick dalam hati.


"A-ayo ke apartemenku!?" ajak Ariel setelah beberapa saat hanyut dalam kenikmatan.


"A-ku akan melakukannya dengan Erick? Laki-laki pertama yang kucium? Eh? Ah, fokus! Duh ... apa badanku cukup wangi? Nggak bau, 'kan? Apa pakaian dalamnya cukup bagus?" Ariel tenggelam dalam kegirangan. Dia sungguh mewanti-wanti. Pengalaman pertama harus berkesan.


"Kau salah jalan, Ariel! Gedung apartemen kita lewat sini!" teriak Erick memberitahu. Ariel pergi ke arah yang berlawanan.


"M-m-maf." Ariel tertunduk malu, terus berjalan ke arah yang benar.


Erick geleng-geleng kepala. "Dia pasti gugup!? Aku sebetulnya juga gugup."


Handphone disaku celana Erick mendadak berdering, muncul sebuah notifikasi.


Mona

__ADS_1


"Kak Erick, mana cemilannya? Kenapa nggak balik-balik?"


Erick langsung mengirimkannya pesan balasan.


Anda


"Maaf, Mona. Kakak ada keperluan sebentar. Nginep di rumah kenalan kakak. Tapi, tenang saja. Kakak sudah menyewa jasa antar. Cemilannya akan diantarkan ke apartemen."


Mona


"Kak Erick!"😡


Erick langsung mematikan handphone-nya.


.


.


.


Erick memencet bel apartemen milik Ariel. Tangannya agak bergetar, gugup memikirkan berbagai gaya bermain yang bagus. Erick pasti ingin membuat Ariel merasa enak. Ini adalah pengalaman pertama mereka, pastinya agak kikuk.


"S-silahkan masuk."


Ariel membukakan pintu. Dia hadir dalam busana yang berbeda. Kini berganti dengan gaun tidur berwarna hitam yang sungguh terbuka. Baik paha mulusnya, belahan dada yang dibalut bra berwarna merah yang tembus pandang dari gaun tidurnya.


Penampilan Ariel sungguh mempesona dan menggairahkan. Apalagi sikap agak malu-malu kucing itu.


"Ariel punya pakaian seperti ini?" batin Erick menelan ludah. Insting hewan liarnya muncul.


Baru diambang pintu, tapi Erick sudah asal menyambar, Ariel terdorong ke tembok. Erick menautkan lidahnya dengan lidah Ariel, berbagi air liur. Mereka menyatu untuk beberapa saat, sampai keduanya berkeringat satu sama lain.


"Unh ... unh ... maaf, Erick." Ariel mendorong pelan kepala Erick.


"Tapi, apakah kau sungguh ingin melakukannya denganku? Ya, aku tak terlalu percaya diri——kyaaa!"


Erick asal menggendong Ariel seperti ala-ala Tuan Putri persis di dongeng-dongeng.


"Kau itu cantik, tubuhmu sungguh mempesona. Semua pria pasti ingin melakukannya denganmu." ucap Erick tersenyum lembut.


Erick juga merasa agak lega setelah mengetahui bahwa Ariel tak pernah melakukannya dengan siapa pun, termasuk mantan pacarnya.


Erick tiba di kamar Ariel, membaringkan perempuan yang digendongnya.


"Kau siap, Ariel?"


"Ya. Aku siap. Malam ini adalah milik kita berdua."


.


.


.


Maaf, mungkin update-nya emang agak tersendat. Sibuk urusan sekolah. Dari yang biasanya 2 chapter dia pagi hari, sekarang cuma 1. Harap maklum ...


Btw, gimana tanggapan chapter ini? Bagus?

__ADS_1


__ADS_2