
Di kamar Ariel. Kamar itu tak lagi rapi seperti biasanya. Selimut yang teronggok kusut di lantai, bantal-guling tercecer di sembarang tempat, serta seprai yang terlipat-lipat. Jangan lupakan noda-noda cairan yang telah mengering, apalagi sedikit bercak darah.
Pelakunya adalah Erick dan Ariel yang bisa dibilang terlalu bersemangat. Hampir bermain semalaman suntuk jika keduanya tak mengantuk terus terlelap.
Terpenting keduanya mendapat pengalaman pertama yang berharga. Sekarang, tinggal menentukan arah hubungannya. Bisa disebut pasangan atau cuma teman s*x.
"Ho~amph!?" Erick bangkit mendudukkan diri. Tak lupa menguap nafas cukup lebar, serta peregangan tangan yang reflek dilakukan.
Erick yang keseluruhan nyawanya masih terpencar, mulai membuka dan mengucek mata. Dalam sekali pandangan, Erick pun langsung ngeh bahwa dirinya bukan lagi di kamarnya.
"Jam berapa?" gumamnya meraba-raba nakas di samping tempat tidur. Harusnya ada handphone di sana. "Hoh ... 8.30. Tidur lagi!" Erick meletakkan kembali handphone-nya, selepas itu kembali tidur menghadap wanita cantik yang mendengkur lembut. Siapa lagi kalau bukan Ariel.
"Memang malam yang hebat." celetuk Erick menyingkirkan rambut yang menjuntai menutupi muka Ariel. Posisi mereka berdua memang kini saling hadap. Terlebih nirbusana. Dilihat beberapa kali pun, Ariel memang body goal. Banyak wanita yang sangat ingin memiliki fisik seperti Ariel.
"Unh ..." Ariel menggeliat. Erick buru-buru menyiapkan wajahnya. Hal yang pertama harus dilihat Ariel harus dirinya.
"E-erick?" ucap Ariel yang mengerjap menatap Erick. Dia ingin memastikan yang dilihatnya bukanlah ilusi.
"Selamat pagi, Putri tidur. Gimana tidurmu, nyenyak?"
Ariel mengangguk lemas, dia mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit. Tapi, Ariel malah mengerang menahan nyeri. Di dekat area Nona V terasa nyeri.
"Apa terasa kurang nyaman?" ucap Erick cemas.
Ariel lagi-lagi mengangguk. Erick ditatapnya lamat-lamat. Terus tanpa pemberitahuan, Ariel mengulum bibirnya Erick.
"Unh ... unh ... ah. M-m-maf." sesal Ariel menundukkan pandangan. Malu. Dia tak ingin Erick menganggapnya sebagai wanita mesum agresif yang gila s*x.
"Yah. Tak apa-apa. Tapi, apa kau ingin melakukannya lagi?" Erick menawarkan. Pagi itu dia senggang. Kuliah pun jadwalnya siang. Ariel juga sama.
__ADS_1
Ariel dengan malu-malu mengangguk. "T-terima kasih sudah mau melakukannya denganku Erick——"
Sayang, takdir tak mengizinkan. Handphone milik Erick yang berada di atas nakas mendadak berdering. Lantas segera diambil. Ternyata itu adalah telepon dari adik-adiknya. Wuih, panggilan tak terjawab totalnya ada 200-an lebih.
"Aku sudah bilang bahwa menginap di rumah teman. Apa tak sebegitu percayanya mereka padaku?" ucap Erick geleng-geleng kepala.
Ariel yang mendengar perkataan Erick itu pun sedikit kecewa. Pujaan hatinya pasti harus segera kembali.
"Ah, maaf, Ariel. Kita sudahi saja. Terima kasih yang semalam. Servis itu sungguh luar biasa!" Erick tersenyum lembut, tangannya membelai pipi Ariel. Untuk terakhir kalinya sebelum berpisah, Erick memberikan kecupan.
"Kau tidur saja. Biar aku yang membersihkan kekacauan ini. Eh? Tapi, sebelum itu ... apa kau mau mandi bersama?"
Pastinya Ariel akan mengangguk.
Erick memang tak bisa kembali dengan keadaannya yang begitu berantakan itu, terlebih bau badannya. Mina dan Mona pasti langsung curiga.
Erick dengan bahagia membopong Ariel mesra menuju kamar mandi. Mereka kayaknya pasangan pengantin muda. Perkembangan hubungan yang awalnya hanya teman, berubah ke arah yang belum diketahui. Cuma terjadi dalam waktu semalam.
"Aku adalah perempuan paling bahagia sedunia." ucap Ariel dalam hati.
Mereka berdua akhirnya mandi bersama, saling membasuh satu sama lain. Tapi, tak ada lagi tindakan erotis lanjutan. Jika terjadi, percayalah ... mereka akan sangat lama di kamar mandi. Padahal Erick dituntut untuk segera kembali.
Selain mandi, Erick juga membersihkan bajunya yang kotor. Oh, ya sekalian dengan selimut, sarung bantal, dan juga seprai. Badan Ariel masih terasa tak nyaman untuk melakukan kegiatan itu. Beruntung Erick pengertian.
"Huh, badanku segar kembali." ucap Erick lega setelah keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk putih di pinggang.
Seperti yang tadi, Erick menggendong Ariel mesra. Menyuruhnya duduk di sofa, sementara itu Erick membersihkan kekacauan yang dibuatnya pada kamar Ariel.
"Erick. Handphone-mu berdering terus! Adik-adikmu spam telepon!" beritahu Ariel bingung mau diapakan handphone milik Erick yang terus-terusan berdering.
__ADS_1
"Biarkan saja. Kalau bisa matiin handphone-nya?" balas Erick dari dalam kamar Ariel.
"Huh. Mereka sungguh tak sabaran." keluh Erick seraya membersihkan.
.
.
.
Erick selesai membersihkan dan merapikan kamar Ariel. Tak ada lagi bau-bau aneh yang berasal dari cairan kenikmatan mereka berdua. Sekarang berganti dengan semerbak harum bunga-bungaan.
"Aku pamit, Ariel. Kau istirahat saja, memulihkan kondisimu!" ujar Erick lembut menepuk-nepuk pucuk kepala Ariel.
"Iya, terima kasih untuk semuanya, Erick. Aku sungguh bahagia sekali." balas Ariel memalingkan muka sebab malu dan canggung. "Jadi, Erick ... apa hubungan kita sudah resmi menjadi ... sepasang kekasih?"
"Jika maunya begitu ... ya, silahkan. Kita adalah pacar sekarang. Jadi, mulai saat ini ... kau perlu berusaha mendapat restu dari adik-adikku yang bebal itu!" ucap Erick terkekeh. Dia sangat menantikan bagaimana reaksi dari kedua adik kembarnya.
"Aku pasti bakal berusaha menaklukkan mereka!" Ariel dipenuhi dengan tekad membara.
"Sip. Aku juga bakal melakukan hal yang sama. Mendapat restu dari orang tuamu." Erick memberikan acungan jempol.
Erick lantas undur diri setelah semua hal yang ingin dikatakannya sudah habis.
"Kuharap Mina dan Mona tak langsung mengintrogasi——Eh?"
Erick baru saja membuka pintu, tapi dia sudah mendapat kejutan.
"Kau? Kenapa dari dalam apartemen Ariel?"
__ADS_1
Tiba-tiba ada Fian yang sepertinya ingin bertamu ke apartemennya Ariel. Dia sungguh terkejut mendapati kehadiran Erick, sosok yang membuka pintu. Alih-alih pemilik asli dari kediaman.
"Kau tak menginap di sini semalam, 'kan? Kau menyentuh Ariel?"